51动漫

51动漫 Official Website

Mari Simak Asuhan Gizi dan Diet untuk Balita dengan Bronkopneumonia

Masa balita merupakan salah satu periode daur kehidupan manusia yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak balita menjadi kelompok usia yang rawan terhadap permasalahan kesehatan dan gizi, salah satunya bronkopneumonia. Bronkopneumonia adalah infeksi di saluran pernapasan bronkus dan paru-paru, yang dapat terjadi akibat komplikasi dari influenza atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Berdasarkan laporan riset kesehatan dasar oleh kemenkes di tahun 2013, jumlah pneumonia pada balita sebesar di Indonesia 1,6%. Kondisi bronkopneumonia pada balita dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan penurunan status gizi hingga gizi buruk sehingga harus ditangani sesegera mungkin dengan asuhan gizi yang tepat.

Metode dan hasil

Studi kasus ini dilakukan di sebuah Rumah Sakit dengan pasien anak laki-laki berusia 4 tahun 8 bulan. Metode yang digunakan adalah observasi selama tiga hari, meliputi observasi asupan makan, fisik/klinis, biokimia, dan antropometri. Pada observasi asupan makan, pengukuran dilakukan dengan metode recall makanan 24 jam sebelum masuk rumah sakit, sedangkan monitoring dilihat dari 9 kali makan pasien yaitu pagi, siang, dan malam selama tiga hari rawat inap menggunakan metode yang sama, ditambah dengan evaluasi sisa makanan pasien.  Data domain fisik/klinis diperoleh melalui wawancara dan observasi dengan melihat rekam medis pasien, data biokimia atau hasil laboratorium dan berat badan juga diperoleh dari data rekam medis pasien. Sedangkan data tinggi badan diukur langsung menggunakan medline.

Setelah dilakukan assesmen awal, diagnosis gizi utama pada pasien adalah asupan oral tidak adekuat berkaitan dengan penurunan kemampuan mengonsumsi energi yang cukup akibat adanya batuk pilek ditandai dengan hasil recall asupan orang yang tergolong defisit berat, yaitu energi 33,1%, protein 37,0%, lemak 21,5%, dan karbohidrat 37,0%. Berdasarkan diagnosis gizi tersebut, prinsip diet yang diberikan adalah tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP). Syarat diet bagi pasien yaitu energi diberikan tinggi sesuai kebutuhan pasien sebesar 1405,5 kkal, protein tinggi 15% setara dengan 52,7 g, lemak cukup 25% setara 39,0 g, karbohidrat cukup 60% setara 210,8 g, dan zat besi sebanyak 10 mg. Pemberian diet dalam bentuk makanan lunak dengan jenis diet BSTIK (buah, susu, telur, ikan, dan kacang-kacangan). Jenis diet tersebut memberikan syarat bagi pasien untuk menghindari beberapa bahan makanan yang dapat memicu terjadinya alergi, seperti buah, susu, telur, ikan, dan kacang-kacangan. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan produksi lendir pada pasien bronkopneumonia, sehingga tidak memperberat keluhan batuk yang dialaminya.

Berdasarkan monitoring dan evaluasi diet selama 3 hari pemberian asuhan gizi terstandar, hasil konsumsi makan pasien meningkat secara bertahap dari hari pertama, kedua, dan ketiga dengan nilai rata-rata asupan energi 81%, karbohidrat 88%, lemak 71%, protein 69%, dan zat besi 77%. Kemudian, hasil monitoring dan evaluasi antropometri menunjukkan tidak terjadi penurunan berat badan. Kemudian, dari aspek fisik/klinis, keadaan pasien juga membaik secara bertahap yang ditunjukkan dengan berkurangnya skala pada gejala batuk dan pilek. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kondisi pasien sudah mulai membaik setelah diberikan asuhan gizi terstandar.

Penulis artikel populer: Qonita Rachmah

Penulis jurnal: Nurul Qomariyah, Amila Nurdin, Qonita Rachmah

Judul artikel: Implementasi Proses Asuhan Gizi Terstandar, Pemberian Diet Tinggi Kalori dan Tinggi Protein pada Pasien Bronkopneumonia: Sebuah Laporan Kasus

Artikel lebih lengkap dapat dibaca pada: https://www.researchgate.net/publication/376225648_Implementasi_Proses_Asuhan_Gizi_Terstandar_Pemberian_Diet_Tinggi_Kalori_dan_Tinggi_Protein_pada_Pasien_Bronkopneumonia_Sebuah_Laporan_Kasus

AKSES CEPAT