Kesinambungan layanan kesehatan menjadi faktor penting dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2. Pasien tidak hanya membutuhkan obat, tetapi juga kunjungan rutin ke fasilitas kesehatan primer serta pemantauan kadar gula darah secara berkala. Namun, sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti Fakultas Farmasi 51动漫 menunjukkan bahwa pelaksanaan Program Rujuk Balik BPJS Kesehatan bagi pasien diabetes masih menghadapi berbagai tantangan di tingkat layanan primer.
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Fakultas Farmasi 51动漫 di Kota Banjarmasin dengan melibatkan 105 pasien diabetes melitus tipe 2 yang tergabung dalam Program Rujuk Balik BPJS Kesehatan. Program ini dirancang untuk menjamin kesinambungan perawatan pasien penyakit kronis dengan mengembalikan pasien yang telah stabil dari rumah sakit ke Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama, sementara pengambilan obat dilakukan secara rutin di apotek yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 47 persen pasien yang melakukan kunjungan rutin ke Puskesmas sesuai jadwal bulanan. Lebih dari separuh pasien tercatat tidak datang secara teratur untuk pemeriksaan dan evaluasi terapi. Padahal, kunjungan rutin ke layanan kesehatan primer berperan penting dalam memantau kondisi pasien, menyesuaikan terapi, serta mencegah komplikasi akibat diabetes melitus.
Masalah lain yang turut ditemukan adalah rendahnya kepatuhan pasien dalam pengambilan ulang obat. Sebanyak 55 persen pasien mengalami kekurangan pasokan obat akibat tidak melakukan pengambilan obat sesuai jadwal yang dianjurkan. Kondisi ini mengindikasikan adanya jeda terapi yang berpotensi mengganggu pengendalian gula darah. Seluruh pasien dalam penelitian ini merupakan peserta BPJS Kesehatan, sehingga biaya obat bukan menjadi hambatan utama dalam kepatuhan pengobatan.
Rendahnya kepatuhan pengambilan obat diduga berkaitan dengan berbagai faktor non-finansial, seperti keterbatasan akses transportasi, ketergantungan pasien lansia pada pendamping, kurangnya pemahaman tentang pentingnya pengobatan berkelanjutan, serta kualitas komunikasi antara pasien dan tenaga kesehatan. Selain itu, kemudahan memperoleh obat diabetes tanpa resep di apotek juga membuat sebagian pasien melewatkan kunjungan ke Puskesmas, meskipun pemeriksaan klinis tetap diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas terapi.
Penelitian ini juga menemukan bahwa pemantauan kadar gula darah pasien masih jauh dari standar pelayanan. Hanya 13 persen pasien yang menjalani pemeriksaan gula darah puasa secara rutin setiap bulan, sementara pemeriksaan HbA1c yang direkomendasikan minimal dua kali setahun hanya dilakukan oleh sekitar 10 persen pasien. Padahal, pemeriksaan HbA1c merupakan indikator penting dalam menilai kontrol gula darah jangka panjang dan menjadi dasar pengambilan keputusan klinis.
Rendahnya angka pemantauan gula darah menunjukkan bahwa tantangan pengelolaan diabetes tidak hanya terletak pada ketersediaan layanan dan pembiayaan. Pemeriksaan gula darah dan HbA1c dalam Program Rujuk Balik telah ditanggung oleh BPJS Kesehatan, sehingga hambatan yang muncul lebih berkaitan dengan faktor perilaku, psikologis, dan literasi kesehatan pasien.
Melalui temuan ini, peneliti menekankan pentingnya penguatan layanan kesehatan primer melalui pendekatan yang lebih proaktif dan berorientasi pada pasien. Edukasi berkelanjutan, komunikasi yang empatik, serta sistem tindak lanjut yang efektif dinilai dapat meningkatkan kepatuhan kunjungan, pengobatan, dan pemantauan kesehatan pasien diabetes.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengembangan kebijakan dan praktik layanan kesehatan primer, khususnya dalam pengelolaan penyakit kronis. Dengan perbaikan sistem yang menyeluruh, kesinambungan perawatan pasien diabetes dapat ditingkatkan sehingga kualitas hidup pasien tetap terjaga.
Penulis : Umi Athiyah
Artikel :





