51动漫

51动漫 Official Website

Masih Efektifkah Vaksin COVID-19 untuk Varian Omicron?

Foto oleh vivamagazine.fr

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang luar biasa. Virus ini terus bermutasi dan menimbulkan varian baru setiap tahunnya. Sejak April 2022, terdapat dua varian virus SARS-CoV2 yang menjadi perhatian dunia (variant of concerns), yaitu varian Delta (B.1.617.2) dan Omicron (B.1.1.529). Varian Omicron pertama kali dideteksi di Afrika Selatan dan diumumkan sebagai variant of concern oleh World Health Organization (WHO). Setelah diumumkan, varian ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia dalam waktu singkat. Dibandingkan dengan varian terdahulu (Wuhan-Hu-1 dan Wuhan-1), varian Omicron mengandung lebih banyak mutasi (sekitar 60 mutasi). Sebagian besar mutasi pada Omicron (32 jenis mutasi) terjadi pada daerah gen spike (S) atau gen yang menyandi protein selubung virus. Daerah ini juga menjadi target utama dari sebagian besar vaksin COVID-19. Bahayanya, mutasi ini juga dikaitkan dengan peningkatan transmisi virus, kemampuan virus menghidari sistem kekebalan tubuh inang, dan mengganggu efektivitas dari vaksin COVID-19.

Efektivitas vaksin menunjukkan kemampuan proteksi vaksin dari penyakit. Efektivitas vaksin memegang peranan penting dalam menimbulkan herd immunity atau kekebalan dalam masyarakat. Untuk mencegah persebaran dan menekan dampak infeksi SARS-CoV2, sehingga mampu mengatasi pandemi ini, diperlukan target herd immunity sebesar 60-90%. Salah satu upaya untuk mencapai target tersebut adalah melalui program vaksinasi massal. Berbagai jenis vaksin COVID-19 telah melalui serangkaian uji klinis dan beredar luas di masyarakat. Saat ini pun, berbagai negara di seluruh dunia telah menggalakkan program vaksinasi COVID-19 ini. Booster vaksin juga telah diberikan secara berkala untuk mempertahankan titer antibodi tubuh terhadap SARS-CoV2, sehingga memberikan kekebalan yang lebih kuat. Akan tetapi, terdapat paritas global dalam ketersediaan dan distribusi vaksin COVID-19. Hal ini terutama terjadi di negara berkembang dan terbelakang yang masih kesulitan dalam pengadaan vaksin. Selain itu, negara-negara tersebut mengalami kendala dalam mencapai target vaksinasi optimal. Oleh karena itu, menjadi pertanyaan apakah program vaksinasi dan booster bermanfaat dalam mencegah serta menangani varian Omicron ini.

Penelitian telaah sistematis dan meta analisis yang telah kami lakukan menggunakan data sekunder untuk mengevaluasi efektivitas vaksinasi COVID-19 pada varian Omicron dari 20 studi observasional. Kami menganalisis: (1) Perbedaan vaksinasi antara vaksin booster dan dosis lengkap (tanpa booster) dalam jangka waktu kurang dari dan lebih dari 3 bulan; (2) hubungan antara efektivitas dosis booster dengan waktu, dan (3) hubungan antara efektivitas vaksin dosis lengkap dengan waktu.

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa pemberian vaksin booster memberikan efektivitas yang lebih tinggi terhadap varian Omicron dibanding dosis lengkap tanpa booster, baik dalam kurun waktu 3 bulan setelah vaksinasi ataupun lebih dari 3 bulan setelah vaksinasi. Hasil ini berlaku sama pada berbagai derajat COVID-19 yang berbeda (ringan, sedang, maupun berat). Selain itu, kami membuktikan bahwa efektivitas vaksin COVID-19 terhadap Omicron secara keseluruhan, baik booster maupun dosis lengkap, akan menurun secara signifikan seiring dengan waktu. Penurunan efektivitas ini lebih terlihat pada vaksin dosis lengkap tanpa booster dibandingkan dengan booster. Selain itu, efektivitas vaksin booster secara umum lebih tinggi dibandingkan tanpa booster (>50%). Booster vaksin mRNA menunjukkan efektivitas yang paling tinggi (94,54%) terhadap infeksi SARS-CoV2 varian Omicron derajat berat, dibandingkan dengan vaksin lengkap tanpa booster (64,81%)

Secara teoritis, memang titer netralisasi antibodi yang dihasilkan oleh vaksinasi dalam tubuh seseorang akan menurun seiring waktu. Terlebih dalam kondisi mutasi SARS-CoV2 yang dapat meloloskan diri dari sistem imun inang. Penurunan titer antibodi ini bergantung pada efektivitas pada awal vaksin diberikan. Apabila efektivitas pada awal vaksinasi cukup tinggi, penurunan efektivitas seiring waktu masih memberikan proteksi yang cukup dari infeksi. Selain itu, terdapat beberapa faktor lain yang mempengaruhi, seperti jenis vaksin, dosis, dan varian virus.

Kesimpulan dari studi kami, vaksin COVID-19 dosis lengkap dengan dan tanpa booster masih menunjukkan efektivitas yang baik terhadap varian Omicron. Pemberian booster vaksin memberikan efektivitas yang lebih tinggi daripada tanpa booster, sehingga pemerintah perlu mendukung penuh program booster vaksinasi dalam menekan laju infeksi virus maupun mencegah infeksi derajat berat. Pemberian vaksinasi merupakan penanganan yang paling baik untuk mencapai target eradikasi COVID-19 secara sempurna.

Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu

Dosen Fakultas Kedokteran Unair

Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel dengan judul: Effectiveness of COVID-19 Vaccines against SARS-CoV-2 Omicron Variant (B.1.1.529): A Systematic Review with

Meta-Analysis and Meta-Regression yang dimuat pada jurnal ilmiah Vaccines (MDPI), 2022, 10, 2180.

Link artikel asli dapat dilihat pada:

AKSES CEPAT