UNAIR NEWS – okakarya ‘Ritus Liyan’, ptelah memasuki tahap observasi. Program penelitian yang melibatkan delapan orang dari berbagai macam disiplin ilmu itu kemudian mempresentasikan hasil temuannya selama berada di Kampung Plampitan, Kelurahan Peneleh, Kota Surabaya. Diskusi tersebut berlangsung pada puncaknya, Jumat (22/03/2024) di Ruangan Deny Arnos Kwari 51¶¯Âþ (UNAIR).
Selama empat hari, Bintang selaku Direktur Operation for Habitat Studies bersama Aarti Kawlra, Direktur Akademis Humanities Across Borders, dan para peneliti melakukan observasi dengan metode eksplorasi dan engagement. Sementara itu, tahap akhir adalah kerja secara langsung di tempat penelitian yaitu Kampung Plampitan. Melalui tahapan-tahapan tersebut, Bintang menyatakan, œHarapannya kita mampu mengartikulasikan ulang apa itu ˜mundane rites™ atau memanen dari istilah tersebut. Hal-hal yang biasa-biasa aja di kampung, kemudian menjadi sesuatu yang akan kita highlight.
Hasil Observasi
Temuan yang berhasil didapat oleh Filzah Amalia adalah ˜got™. Menurutnya got merupakan sebab dari keluarnya berbagai ragam ˜bau™ di wilayah perkampungan dan menjadi salah satu medium pembuangan limbah sehari-hari dalam aktivitas penghuninya.
Baginya, air merupakan elemen penting bagi manusia. Ucapan tersebut berkaca pada kondisi saat ini, yang justru orang-orang kampung mengkonsumsi air menggunakan air isi ulang. œKonsep dalam perkampungan di Surabaya, air merupakan salah satu sumber daya otoritas yang memiliki otonom sendiri, sehingga sangat penting bagi Kota Surabaya untuk menyediakan kepada masyarakatnya akses air minum yang bersih, ujarnya.
Para peneliti yang hadir juga ikut menerangkan hasil penelitiannya, seperti halnya Luthfia Satyo, Mahasiswa Hubungan Internasional (HI). Pagar menjadi objek yang ia pilih untuk penelitian. Di era modern ini pagar yang ditandai sebagai batas, yang secara pemikiran konvensional dibangun secara besar nan mewah sehingga tak jarang menjadi suatu ajang ˜perlombaan™. Hal ini berbanding terbalik dengan yang terjadi di kampung penelitian, di mana pagar kecil, sederhana, bahkan terkadang ada rumah yang tidak memiliki pagar. œBagaimana pagar (batas) dalam kampung menjadi mode alternatif dalam dunia modern ini, imbuhnya.
Penemuan dari Sisi Kreativitas
Sementara itu, Ryan, seniman yang ikut dalam penelitian program AIIOC menemukan sesuatu yang menarik tetapi sederhana di dalam kampung tersebut, ˜ondo™ (re:tangga). Tangga kayu itu menempel di dinding biasa, merupakan akses menuju Makam Peneleh. Dari situ peneliti menemukan adanya lahan yang pemanfaatannya untuk kebun warga juga lahan untuk bermain. œHal ini seolah mematahkan mitos-mitos seram terkait makam. Walau begitu, warga tetap menjaga nilai spiritual dengan menumbuhkan tanaman Bidara, mereka meyakininya sebagai penghalau roh jahat, katanya.
Kemudian Kenny, ia membawakan hasil observasinya dengan menunjukkan sketsa gerobak tukang sate Madura. Ia dapat mengulik info lebih melalui sang pemilik gerobak, dengan berbincang-bincang santai. Perbincangan itu membuat Kenny tahu bahwa gerobak atau rombong sate Madura telah berusia 30-40 an tahun. Gerobak rakitan sendiri dengan bahan dasar reruntuhan Jati dari rumah Belanda, diyakini menjadi kayu kelas wahid, sehingga bisa bertahan lama.
Sedangkan Pinky Ayako tertarik dengan batik tulis yang ia temukan di Peneleh. Kelompok pembuat batik yang berjumlahkan sepuluh orang itu merupakan hasil dari pelatihan yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja (DISNAKER). Bahkan batik itu telah memiliki brand sendiri. œMereka menamai Batik Peneleh sebagai brand dari batik tersebut. Penamaan itu bukan hanya karena asal mereka, tetapi peneleh sendiri juga memiliki arti orang-orang terpilih, terang Ayako.
Penulis: Annisa Nabila
Editor: Yulia Rahmawati





