Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan yang masih banyak terjadi dan menjadi ancaman bagi masyarakat dunia. Pada tahun 2019, resistensi antibiotik ini menyebabkan 1.27 juta kematian secara global pada negara-negara yang memiliki beban kejadian penyakit infeksi yang tinggi. Oleh karena dibentuklah program Antimicrobial Stewardship Program (ASP) yang direkomendasikan untuk mengoptimalkan penggunaan antibiotik.
Clinical Decision Support System (CDSS) hadir sebagai salah satu inovasi dalam mendukung keoptimalan penggunaan antibiotik dengan cara pengambilan keputusan klinis berbasis bukti. Sistem digital ini dirancang untuk membantu tenaga kesehatan di Puskesmas dalam menentukan apakah penggunaan antibiotik memang diperlukan sesuai pedoman medis. CDSS tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran dokter, perawat, atau bidan, melainkan berfungsi sebagai pendamping yang dapat memperkuat ketepatan terapi dan meminimalkan penggunaan antibiotik yang tidak rasional.
Penelitian yang dilakukan oleh Rokayah, Peneliti dari Fakultas Farmasi 51动漫 di Puskesmas Kabupaten Probolinggo, pada Juli hingga Agustus 2024 menilai kesiapan dan penerimaan tenaga kesehatan terhadap implementasi CDSS. Survei ini melibatkan 185 responden yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, apoteker, dan asisten apoteker. Penilaian dilakukan menggunakan instrumen berbasis Technology Readiness Index (TRI) dan Technology Acceptance Model (TAM), dengan analisis data melalui pendekatan Structural Equation Modeling揚artial Least Squares (SEM揚LS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimisme terhadap teknologi memiliki pengaruh positif terhadap persepsi kemudahan penggunaan (Perceived Ease of Use/PEOU) dan persepsi manfaat (Perceived Usefulness/PU) CDSS. Tenaga kesehatan yang memiliki keyakinan positif terhadap perkembangan teknologi cenderung merasa lebih mudah menggunakan sistem ini dan menilai manfaatnya lebih besar dalam mendukung pelayanan. Faktor inovasi juga terbukti berpengaruh terhadap kemudahan penggunaan, meskipun tidak secara signifikan memengaruhi persepsi manfaat.
Implikasi dari hasil penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan penerapan CDSS di Puskesmas sangat bergantung pada persepsi positif tenaga kesehatan terhadap kemudahan dan manfaatnya. Oleh karena itu, pelatihan yang memadai, dukungan teknis yang berkesinambungan, serta integrasi sistem dengan aplikasi yang sudah digunakan seperti SIMPUS menjadi langkah penting untuk mendorong penerimaan teknologi ini. Selain itu, dukungan kebijakan dari pemerintah daerah maupun pusat, kolaborasi dengan pengembang perangkat lunak, dan keterlibatan organisasi profesi juga diperlukan agar CDSS dapat diadaptasi sesuai kebutuhan layanan kesehatan primer di Indonesia.
Dengan strategi implementasi yang tepat, CDSS memiliki potensi besar untuk meningkatkan ketepatan penggunaan antibiotik, mengurangi risiko resistensi, dan memperkuat mutu layanan kesehatan primer. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam upaya nasional memerangi resistensi antibiotik, sekaligus mendukung target penurunan kasus secara signifikan pada tahun 2030.
Penulis: Dr. Yunita Nita, S.Si., M.Pharm., Apt.
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:





