Perubahan pemanfaatan lahan di suatu daerah memicu perubahan tatanan ekosistem dan dampaknya terhadap lingkungan. Pola tertanian monokultur seperti kebun kelapa sawit telah berdampak signifikan terhadap ekosistem hutan yang sudah ada sebelumnya. Tentu saja hal ini juga akan mempengaruhi habitat dari hewan yang tinggal di ekosistem tersebut, diantaranya berdampak pada tanaman-tanaman yang menyediakan pakan bagi hewan seperti halnya lebah yang mengandalkan produk bunga dari tanaman, diantaranya serbuk sari (polen) dan nektar. Hilangnya tanaman pakan penting tentu akan memberi dampak signifikan terhadap kehidupan lebah, diantaranya lebah madu raksasa Apis dorsata.
Tanaman dan lebah madu memiliki interaksi yang bersifat mutualistik mutualistik; lebah menyerbuki tanaman, sementara tanaman menyediakan pakan berupa nectar, minyak, polen dan lainnya. Butir-butir serbuk sari menempel pada tubuh lebah yang berbulu selama kunjungan mereka ke bunga. Lebah serbuk sari dibawa di dalam corbicula (keranjang serbuk sari) struktur di tibia belakang mereka sementara nektar disimpan di dalam perut madu mereka. Sebagian besar nektar kemudian disimpan di dalam sarang lebah, yang yang secara bertahap mengental karena kandungan airnya menguap dan akhirnya membentuk madu. Madu juga mengandung serbuk sari, selain nektar sebagai komponen penting.
Melissopalynology adalah salah keilmuan yang dikembangkan untuk mempelajari serbuk sari dalam madu, yang kemudian digunakan untuk menentukan asal usul botani dan geografis madu asal madu. Melissopalynology berasal dari melissa, yang berarti lebah, dan palynology adalah ilmu untuk mempelajari butiran serbuk sari. Serbuk sari memiliki dinding dua lapis yang khas struktur: eksin dan intin. Lapisan Lapisan intine kurang tahan terhadap zat kimia, berlawanan dengan lapisan exine. Lapisan exine memiliki bentuk yang bervariasi tergantung pada spesies tanaman, oleh karena itu digunakan dalam studi taksonomi serbuk sari. Melissopalynology adalah studi tentang serbuk sari yang terkandung dalam madu. Secara umum, melissopalynology digunakan untuk memerangi penipuan dan pelabelan madu yang akurat. Dengan mempelajari serbuk sari dalam sampel madu, memungkinkan untuk mendapatkan bukti lokasi geografis dan genus dari tanaman yang lebah madu dikunjungi, meskipun dalam madu juga mengandung serbuk sari di udara dari tanaman anemophilous, spora, dan debu akibat tarik oleh muatan elektrostatik lebah.
Dari hasil penelitian Bramasta et al (2023) di Belitung, ditunjukkan bahwa ditemukan delapan jenis serbuk sari dalam madu yang didominasi oleh serbuk sari bakau Rhizophora mucronate dan sebelas jenis serbuk sari pada roti lebah yang didominasi oleh Melaleuca cajuputi. Jenis serbuk sari serbuk sari pada madu di Tanjung Rusa mirip dengan yang ada di Pulau Kampak, dan sembilan jenis serbuk sari yang ditemukan pada roti lebah yang didominasi oleh Elaeis guineensis. Hasil dari analisis vegetasi menunjukkan bahwa hutan bakau dan hutan belukar di Pulau Kampak didominasi oleh Lumnitzera littorea dan Melaleuca cajuputi. Hasil l penelitian ini mengkonfirmasi pemanfaatan ekosistem mangrove oleh lebah, yang menambah nilai konservasi, terutama dalam mendukung upaya pengelolaan lebah. Jadi keberadaan tumbuhan mangrove di sekitar lokasi memberikan dukungan nutrisi kebutuhan hiduap lebah tersebut.
Penyerbuk seperti seperti lebah umumnya lebih menyukai serbuk sari dengan ornamen dengan permukaan yang lebih kasar, seperti reticulate, yang membantu dalam mengumpulkan serbuk sari, dan juga butiran serbuk sari dengan pahatan yang dipahat, seperti psilate, bahwa pahatan itu akan meningkatkan kesesuaian butiran serbuk sari ke tubuh lebah. Rhizophora mucornata terdata sebagai spesies kedua nilai indeks nilai penting tertinggi kedua pada tingkat pohon di mangrove dan juga teramati memiliki persentase serbuk sari tertinggi dalam sampel madu. Hal ini mengindikasikan bahwa R. mucronata sangat penting bagi lebah A. dorsata sebagai sumber serbuk sari. Tanaman tersebut menyediakan serbuk sari dan nektar dalam jumlah yang cukup banyak selama periode pembungaan, berfungsi sebagai makanan potensial sumber makanan bagi lebah.
Lebah membutuhkan serbuk sari dan nektar untuk memberi makan mereka koloni mereka. Berdasarkan penelitian ini, Melaleuca cajuputi, Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorhiza, dan L. littorea merupakan komponen yang signifikan dalam serbuk sari A. dorsata. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya konservasi untuk tanaman ini.
Pengetahuan ini ke depannya menjadisangat penting dan bermanfaat untuk mengetahui sumber asal madu yang dihasilkan lebah tertentu dihasilkan dari jenis tanaman apa saja serta mendapatkan informasi daerah geografi seperti apa tanaman tersebut tumbuh. Informasi ini sangat bermanfaat untuk para petani lebah untuk mencarikan pakan atau menyediakan tanaman-tanaman yang memang potensial untuk dijadikan pakan lebah penghasil madu. Lebih jauh lagi informasi ini tentu saja berfungsi untuk melestarikan keberadaan spesies tanaman tersebut dari kepunahan karena alih fungsi lahan. Semoga.
Penulis: Hery Purnobasuki
Jurnal: Melissopalynology and Vegetation Analysis Surrounding Sunggau of Giant Honey Bee Apis dorsata in Belitung Regency





