Efek Jokowi mengacu pada keuntungan strategis dari jabatan petahana, yang secara tradisional dipahami sebagai kemampuan presiden yang sedang menjabat untuk memengaruhi lanskap politik dan elektoral. Konsep ini biasanya diterapkan pada presiden yang ingin dipilih kembali, tetapi dalam kasus Jokowi, keuntungan jabatan petahana memiliki dimensi yang berbeda. Alih-alih mencari masa jabatan ketiga, Jokowi memanfaatkan modal politiknya untuk memberi sinyal dukungan bagi penggantinya, khususnya Prabowo dan putranya, Gibran. Pembahasan saat ini memperluas kerangka konseptual ini, dengan meneliti bagaimana pengaruh Jokowi secara teoritis membentuk prospek elektoral Prabowo-Gibran. Dengan menganalisis model jabatan petahana yang unik ini, penelitian ini menyoroti bagaimana dukungan dan popularitas Jokowi berkontribusi pada keberhasilan yang diantisipasi. Teori pemungutan suara retrospektif yang digunakan dalam konteks ini mengungkapkan bagaimana para pemilih, yang dimotivasi oleh keinginan untuk keberlanjutan, mengaitkan kepemimpinan dan kebijakan Jokowi dengan pasangan Prabowo-Gibran. Para pemilih, khususnya mereka yang mendapat manfaat dari program bantuan sosial di bawah pemerintahan Jokowi, cenderung mendukung kandidat yang didukungnya. Teori ini sejalan dengan temuan bahwa sebagian besar pemilih memandang Prabowo dan Gibran mampu mempertahankan kebijakan yang menjadi ciri khas masa jabatan Jokowi. Oleh karena itu, reputasi Jokowi menjadi aset penting dalam membentuk preferensi pemilih, sehingga menciptakan efek halo positif di sekitar para penerus pilihannya.
Pendekatan Jokowi terhadap pengeluaran distributif, khususnya alokasi strategis bantuan sosial selama masa kampanye, semakin memperkuat elektabilitas Prabowo-Gibran. Ada bukti efek spillover di mana pemilih yang menerima bantuan sosial lebih cenderung mendukung pasangan tersebut. Hal ini dapat dipahami melalui sudut pandang pemungutan suara biaya-manfaat, di mana pemilih membuat keputusan yang didorong oleh ekonomi, mempertimbangkan manfaat pribadi yang telah mereka terima di bawah kepemimpinan Jokowi saat memberikan suara mereka. Dukungan Jokowi juga mengurangi risiko yang terkait dengan pemungutan suara untuk Gibran yang relatif belum teruji, karena dukungannya mengisyaratkan keyakinan pada kemampuan mereka untuk melanjutkan kebijakannya. Efek sinyal dari dukungan Jokowi tidak dapat dilebih-lebihkan. Menurut teori sinyal, dukungan aktif Jokowi mengirimkan pesan yang jelas kepada para pemilih tentang keyakinannya pada kapasitas Prabowo dan Gibran untuk menjaga stabilitas politik dan melanjutkan lintasan pembangunan Indonesia. Hal ini menciptakan legitimasi yang dirasakan di sekitar pencalonan mereka, yang membedakan mereka dari pesaing lainnya. Pengalihan simbolis kualitas kepemimpinan Jokowi kepada Prabowo-Gibran, sebagaimana dijelaskan oleh teori valensi politik, semakin memperjelas bagaimana pemilih memandang mereka sebagai penerus alami pemerintahan Jokowi.
Model transfer kepemimpinan ini menawarkan implikasi yang lebih luas bagi sistem demokrasi, khususnya di negara-negara transisi atau rapuh seperti Indonesia, di mana keberlanjutan politik dapat dilihat sebagai hal yang krusial bagi stabilitas. Dalam konteks ini, hasil pemilu mencerminkan daya tarik pribadi para kandidat dan dinamika politik yang lebih luas yang dibentuk oleh dukungan dan strategi politik Jokowi. Keterkaitan dengan kepemimpinan Jokowi menciptakan valensi politik yang memperkuat daya tarik Prabowo-Gibran, menampilkan mereka sebagai pemimpin yang cakap dan pewaris sah warisan Jokowi. Di sisi lain, temuan tersebut juga menimbulkan pertanyaan penting tentang kesehatan demokrasi di Indonesia. Penggunaan sumber daya negara oleh Jokowi untuk mengamankan hasil politik, seperti penyaluran bantuan sosial untuk mendukung kandidat yang didukungnya, mencerminkan tren kemunduran demokrasi yang meresahkan. Meskipun penggunaan strategis petahana ini mungkin efektif secara elektoral, hal itu menantang norma-norma demokrasi dan menimbulkan kekhawatiran tentang keadilan proses pemilu. Ketergantungan pada sumber daya negara untuk keuntungan politik dan melemahnya oposisi melalui insentif ekonomi menunjukkan adanya pergeseran dari prinsip-prinsip demokrasi tentang persaingan yang bebas dan adil.
Lebih lengkap di Asfar, Ais Shafiyah, et al. “Understanding the Jokowi effect during Indonesia檚 2024 presidential election: an integrative model of incumbency advantage.” Cogent Social Sciences





