UNAIR NEWS Hari raya Idul Fitri merupakan salah satu momen penting bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia. Sebagai tradisi yang sudah lama dilakukan oleh sebagian besar umat muslim di Indonesia, salah satu kegiatan untuk menyambut dan merayakan hari kemenangan yakni mudik ke kampung halaman. Mudik tidak sekedar untuk bersilaturahmi dengan sanak kerabat di kampung halaman, namun mudik juga bisa menjadi momen mengingat kembali hakekat menjadi seorang umat manusia, bahwa sejauh dia pergi, kampung halamanlah tempat kembali. Begitulah yang dirasakan oleh Muchtar Lutfi, S.S., M.Hum., dosen Sastra Indonesia UNAIR.
Lutfi memiliki kisah tersendiri saat ditanya mengenai makna Idul Fitri. Baginya, momen yang paling indah saat perayaan Idul Fitri adalah ketika memiliki peluang dan kesempatan untuk bisa berkunjung ke rumah sanak saudara dan tetangga.
淲aktu itu, silaturahmi adalah sebuah keharusan dengan saling berkunjung dari rumah ke rumah, tidak sekedar bertemu di jalan, dan momen tersebut sekarang sangat berat, meski fasilitas sekarang sudah semakin lengkap, kenangnya.
Lutfi dan keluarga yang juga turut mudik ke Pacitan dan Temanggung tersebut menilai, bahwa tradisi mudik saat hari raya merupakan khas asli nusantara. Baginya, kebersamaan yang ada bisa menjadi satu langkah untuk menyatukan dan meningkatkan kerukunan bangsa.
淢udik saat Idul Fitri ini kan khas Indonesia, ini momen menyatukan semua elemen masyarakat, karena mayoritas negeri ini muslim, secara otomatis seakan menyatukan bangsa, terlebih bagi perantau pulang ke kampung halaman merupakan waktu yang tepat untuk mengenang tanah kelahiran, tegasnya.
Meski demikian, ia juga menyayangkan beberapa masyarakat yang masih salah dalam memaknai silaturahmi. Pergeseran tradisi silaturahmi dari rumah ke rumah yang kini beralih ke tempat wisata dan hiburan. Baginya, hal tersebut telah menghilangkan nilai dari Idul Fitri itu sendiri.
淧ergeseran sekarang ini, silaturahmi lebih dibawa ke menghibur diri ke tempat wisata, jadi ruh silaturahmi dan Idul Fitri ini menjadi hilang, imbuhnya.
Dosen minat Ilmu Filologi tersebut menambahkan, hari raya adalah momen yang sangat berharga, pasalnya hampir semua orang bisa bertemu dan saling bertegur sapa. Ditanya mengenai esensi Bulan Syawal, ia menegaskan bahwa Syawal menjadi momen tindak lanjut dari Ramadan.
淣enek kita dulu sering langsung puasa Syawal di hari ke dua, karena Syawal ini sebagai bentuk pendinginan agar ruh Ramadan bisa tetap hadir saat puasa Syawal, pungkasnya. (*)
Penulis: Nuri Hermawan
Editor : Dilan Salsabila





