51

51 Official Website

Membaca Jejak Tak Kasat Mata di Air: Saat DNA Menjadi Alat Forensik Lingkungan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Bayangkan kita bisa mengetahui jenis ikan yang hidup di sebuah sungai tanpa harus menangkap satu pun. Kedengarannya seperti fiksi ilmiah, tetapi hal ini kini menjadi kenyataan berkat teknologi yang disebut environmental DNA atau eDNA. Setiap makhluk hidup di airtermasuk ikansecara alami meninggalkan jejak berupa fragmen DNA, misalnya dari sisik, kotoran, atau sel yang terlepas. Jejak ini terbawa arus dan dapat dikumpulkan hanya dengan mengambil sampel air. Dari situ, ilmuwan dapat mengetahui siapa saja yang hidup di dalamnya. Ibaratnya, air menjadi arsip alami yang menyimpan catatan kehidupan.

Namun, kekuatan eDNA tidak berhenti pada sekadar menjawab pertanyaan siapa yang ada di sini?. Dengan pendekatan yang lebih canggih, teknologi ini juga mampu menjawab pertanyaan yang lebih dalam: dari mana mereka berasal? dan bagaimana mereka bisa sampai ke sini?

Di sinilah konsep forensik genetik berperan. Sama seperti sidik jari pada manusia, setiap populasi ikan memiliki ciri khas DNA tertentu. Ciri ini terbentuk dari sejarah panjangperpindahan, isolasi, dan adaptasi terhadap lingkungan. Ketika pola DNA yang khas dari suatu wilayah tiba-tiba ditemukan di tempat lain, hal ini bisa menjadi petunjuk adanya perpindahan yang tidak biasa, misalnya akibat introduksi oleh manusia atau perubahan lingkungan. Dengan kata lain, DNA di air dapat menjadi alat investigasi yang membantu kita mengungkap jejak pergerakan organisme tanpa harus melihatnya secara langsung.

Selain itu, ada pendekatan lain yang disebut metafilogeografi. Meskipun terdengar kompleks, konsep ini pada dasarnya adalah cara untuk melihat peta besar hubungan genetik banyak spesies sekaligus. Jika sebelumnya ilmuwan biasanya mempelajari sejarah evolusi satu spesies saja, kini melalui eDNA, kita bisa memahami pola persebaran dan hubungan genetik dari banyak spesies dalam satu waktu.

Pendekatan ini memungkinkan kita mengidentifikasi wilayah dengan keunikan genetik tinggitempat di mana spesies memiliki variasi DNA yang khas dan tidak ditemukan di daerah lain. Wilayah seperti ini sangat penting untuk dilindungi karena menyimpan sejarah evolusi yang panjang. Sebaliknya, kita juga bisa mendeteksi jika suatu ekosistem mulai kehilangan keunikannya, misalnya akibat campur tangan manusia yang menyebabkan berbagai spesies menjadi seragam secara genetik.

Bagi Indonesia, pendekatan ini sangat relevan. Sebagai negara kepulauan dengan ribuan sungai dan ekosistem perairan yang beragam, Indonesia menyimpan kekayaan ikan air tawar yang luar biasa. Namun, banyak di antaranya masih belum terdokumentasi dengan baik. Dengan eDNA, pemantauan keanekaragaman hayati dapat dilakukan dengan lebih cepat, efisien, dan tanpa merusak lingkungan.

Ke depan, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, mulai dari konservasi spesies endemik, pengelolaan perikanan, hingga mendeteksi spesies asing yang berpotensi merusak ekosistem. Lebih dari itu, eDNA membantu kita memahami bahwa setiap tetes air sebenarnya menyimpan ceritatentang siapa yang hidup di dalamnya, dari mana mereka berasal, dan bagaimana perjalanan mereka terbentuk.

Pada akhirnya, eDNA mengajarkan kita bahwa untuk memahami alam, kita tidak selalu harus melihat secara langsung. Kadang, cukup dengan membaca jejak yang ditinggalkannyajejak yang selama ini tak kasat mata, tetapi menyimpan informasi yang sangat berharga bagi masa depan keanekaragaman hayati kita.

Penulis: Muhammad Hilman Fuadil Amin, S.Si., M.Si., Ph.D.

Tulisan detail terkait artikel ini dapat dilihat dalam publikasi kami di:

AKSES CEPAT