Mengukur berat lahir dengan akurat sulit dilakukan di wilayah dengan sumber daya terbatas. Sementara itu, berat lahir adalah ukuran yang penting untuk mengindikasikan prospek kesehatan saat bayi hingga dewasa. Untuk mengatasinya, persepsi ibu mengenai ukuran bayinya saat baru lahir sering digunakan sebagai pengganti. Namun demikian, ada keraguan mengenai keakuratan penggunaan persepsi ibu saat lahir. Ibu mungkin memiliki bias sehingga persepsinya tidak dapat digunakan untuk memprediksi kondisi kesehatan di masa mendatang.
Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari 51动漫, bekerjasama dengan peneliti dari the University of Sydney, Australia berusaha menilai secara statistik hubungan antara berat lahir bayi hasil penimbangan dengan persepsi ibu terhadap ukuran bayinya dan membandingkan antara determinan berat badan lahir rendah (BBLR) dan determinan persepsi ukuran lahir kecil dengan menggunakan kedua ukuran tersebut dengan menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017. Hasil studi tersebut diterbitkan di Jurnal Biometrik dan Kependudukan 51动漫. Studi tersebut menemukan bahwa ada korelasi yang kuat antara berat lahir hasil penimbangan dan persepsi ibu tentang ukuran bayinya saat lahir. Selain itu terdapat kesesuaian yang tinggi antara BBLR dengan persepsi ukuran bayi lahir kecil. Kedua ukuran tersebut memiliki faktor risiko yang sama yaitu urutan kelahiran merupakan faktor anak yang signifikan, dan jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan merupakan faktor layanan antenatal yang penting. Terdapat sedikit perbedaan pada faktor sosial ekonomi, di mana pendidikan ibu merupakan faktor penentu sosial ekonomi dari BBLR, sedangkan status ekonomi rumah tangga dan kualitas jamban rumah tangga merupakan faktor penentu ukuran kelahiran.
Hasil tersebut menggambarkan bahwa persepsi ibu mengenai ukuran bayi lahir dapat digunakan sebagai pengganti pengukuran berat lahir anak untuk digunakan dalam program kesehatan di wilayah dengan sumber daya rendah di mana berat badan lahir sulit diukur. Di lokasi seperti ini tenaga kesehatan dapat menggunakan persepsi ibu untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok masyarakat di mana BBLR mungkin terjadi sehingga dapat merencanakan program pencegahan BBLR di lokasi tersebut. Persepsi ibu Tentu saja investasi untuk pengadaan timbangan digital yang akurat tetap menjadi keutamaan untuk mendapatkan ukuran yang lebih akurat. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa untuk menurunkan angka BBLR pemerintah Indonesia perlu memperhatikan ibu yang baru pertama hamil, dari keluarga miskin, berpendidikan rendah dan ibu yang mungkin sulit mendapatkan layanan pemeriksaan kehamilan.
Informasi lengkap mengenai studi tersebut dapat ditemukan pada
Penulis: Susy Katikana Sebayang, S.P., M.Sc., Ph.D.





