51动漫

51动漫 Official Website

Membangun Kesadaran dan Perilaku Berorientasi Keselamatan di Kalangan Pelaku Wisata

Nusa Penida, Pulau yang Terletak di Kabupaten Klungkung, Bali, Indonesia. (Sumber: metro.co.uk)
Nusa Penida, Pulau yang Terletak di Kabupaten Klungkung, Bali, Indonesia. (Sumber: metro.co.uk)

Perilaku keselamatan merupakan faktor kunci dalam menjaga reputasi bisnis pariwisata untuk menarik wisatawan dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional. Studi longitudinal selama dua dekade telah menunjukkan bahwa sektor pariwisata di Indonesia rentan terhadap guncangan akibat bencana alam. Studi tersebut menekankan bahwa kebijakan reaktif perlu digantikan dengan pendekatan struktural yang mempertimbangkan dinamika lokal dan kesiapsiagaan jangka panjang. Studi empiris juga menyoroti tantangan dalam menerapkan budaya keselamatan dalam bisnis pariwisata Indonesia, menekankan peran keterlibatan masyarakat dan komitmen manajemen dalam menangani bencana dalam jangka panjang. Keberlanjutan kegiatan pariwisata yang rutin memerlukan pendekatan struktural dalam hal respons kebijakan.

Kesadaran keselamatan, termasuk kebijakan dan pedoman yang efektif, dapat meningkatkan perilaku keselamatan teknis, yang mengarah pada kepatuhan yang lebih baik terhadap aturan keselamatan. Pelatihan berkelanjutan dan komitmen manajemen terhadap keselamatan sangat penting untuk menanamkan kesadaran keselamatan, memberdayakan karyawan untuk mengidentifikasi dan memitigasi risiko.

Penelitian ini sangat penting karena menerapkan praktik keselamatan yang baik dapat secara signifikan menarik lebih banyak wisatawan, sehingga mengarah pada peningkatan pendapatan dan manfaat ekonomi untuk berbagai bisnis lokal. Selain itu, secara aktif melibatkan masyarakat lokal dalam proses pariwisata menumbuhkan rasa kerja sama dan membantu menetapkan tujuan bersama, yang pada gilirannya meningkatkan ketahanan masyarakat secara keseluruhan dan saling pengertian. Memberikan pendidikan yang konsisten tentang kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dapat secara efektif memberdayakan anggota masyarakat dengan menawarkan pengetahuan dan keterampilan yang berharga, dengan demikian mempromosikan, dan mempertahankan budaya keselamatan yang kuat yang benar-benar bermanfaat bagi semua pemangku kepentingan dalam jangka panjang. Penelitian ini juga mengintegrasikan budaya keselamatan dalam komunitas lokal yang mengelola bisnis pariwisata. Para pemimpin komunitas dapat mendorong inisiatif yang mempromosikan keterlibatan dan kepemilikan lokal, yang krusial bagi praktik pariwisata berkelanjutan.

Theory of Reasoned Action menyatakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh niat berperilaku yang terbentuk dari sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan kendali perilaku yang dirasakan. Dalam konteks penelitian ini, budaya keselamatan berperan dalam membentuk nilai-nilai, norma, dan lingkungan organisasi yang mendukung sikap positif terhadap keselamatan. Namun, pengaruh budaya keselamatan terhadap perilaku keselamatan tidak langsung, tetapi melalui peningkatan kesadaran keselamatan sebagai mekanisme mediasi.

Peran mediasi penuh dari kesadaran keselamatan dalam hubungan antara budaya keselamatan dan perilaku keselamatan dapat dijelaskan secara teoritis oleh Theory of Reasoned Action. Budaya keselamatan menciptakan lingkungan normatif yang mendukung dan sikap positif terhadap keselamatan, yang pada gilirannya meningkatkan kesadaran keselamatan individu yang mencerminkan niat berperilaku dan kendali yang dirasakan terkait praktik keselamatan. Peningkatan kesadaran ini sepenuhnya memediasi efek budaya keselamatan, yang mengarah pada perilaku keselamatan yang dapat diamati di antara manajer bisnis pariwisata.

Hasil analisis menunjukkan bahwa budaya keselamatan memiliki dampak yang signifikan terhadap perilaku keselamatan dalam bisnis pariwisata. Budaya organisasi secara signifikan mengurangi kecelakaan di tempat kerja, terutama di lingkungan berisiko tinggi, dengan mendorong suasana kerja yang lebih aman. Budaya organisasi yang kuat berkorelasi dengan lebih sedikit pelanggaran keselamatan dan tingkat cedera yang lebih rendah, lebih sedikit laporan pelanggaran keselamatan, dan denda peraturan yang lebih rendah, yang menunjukkan bahwa budaya positif yang kuat mendorong kepatuhan terhadap praktik keselamatan dan mengarah pada hasil keselamatan yang lebih baik.

Kesadaran keselamatan bertindak sebagai mediator penuh dalam hubungan antara budaya keselamatan dan perilaku keselamatan. Dengan kata lain, pengaruh budaya keselamatan terhadap perilaku keselamatan terjadi melalui peningkatan kesadaran keselamatan. Beberapa faktor kunci, termasuk integrasi teknologi, pendekatan partisipatif, pendidikan dan pelatihan, serta budaya organisasi, memengaruhi peningkatan kesadaran keselamatan di tempat kerja. Elemen-elemen ini secara kolektif berkontribusi pada lingkungan kerja yang lebih aman dan membantu mengurangi risiko yang terkait dengan bahaya di tempat kerja.

Penulis: Faidal, Ahmad Rizki Sridadi, dan Dian Ekowati

Detail penelitian bisa diakses di:

AKSES CEPAT