51动漫

51动漫 Official Website

Mencegah Kebangkrutan Thai Airways Melalui Restrukturisasi

Ilustrasi oleh republika

Artikel ini merupakan hasil kolaborasi penelitian penulis dengan beberapa mahasiswa mancanegara yang penulis supervisi dalam program AIBPM yaitu Nusantara Project 2020. Subjek penelitian tersebut adalah Thailand Airways International Public Company Limited (THAI) yang merupakan perusahaan penerbangan nasional yang dimiliki mayoritas oleh Kementerian Perhubungan Thailand dan terdaftar di Bursa Efek Thailand pada tahun 1991. 

Fakta menunjukkan bahwa Kementerian Keuangan memiliki 53,16% perusahaan pada 2019 dan bisnisnya berada di bawah pengawasan Komite Kebijakan Perusahaan Negara sehingga mempertimbangkan THAI sebagai perusahaan negara (Thai Airways International Public Company Limited, 2019). Permasalahan utamanya yaitu marjin usaha THAI mengalami penurunan yang signifikan dari -6,2% menjadi -14,9%.

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui pengaruh rencana restrukturisasi terhadap rasio profitabilitas pada perusahaan dan untuk mengetahui variabel mana yang memberikan kontribusi terbesar terhadap laporan laba rugi serta menguji efektivitas rencana restrukturisasi THAI dan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan THAI ke arah kebangkrutan.

Rasio profitabilitas selama empat tahun sebelum dan sesudah implementasi rencana restrukturisasi didaftar dan dianalisis untuk evaluasi kinerja THAI. Enam variabel yang terdiri dari lima variabel independen dan satu variabel dependen dipilih dalam penelitian ini. Variabel dependen adalah laba bersih, sedangkan variabel independen adalah biaya bahan bakar dan minyak (FOE), biaya jasa penerbangan (FSE), biaya perawatan dan overhaul pesawat (AMO), kerugian penurunan nilai pesawat (ILA), dan biaya penyusutan dan amortisasi (DAE).

Untuk menganalisis kinerja THAI setelah berlakunya rencana restrukturisasi, penelitian tersebut membandingkan tiga rasio profitabilitas, yaitu net profit margin, return on total asset, dan return on equity perusahaan. Rasio profitabilitas tahun 2011, 2012, 2013, dan 2014 digunakan untuk kinerja pra-restrukturisasi dengan memperhitungkan rasio profitabilitas 2015, 2016, 2017, dan 2018 untuk kinerja pasca restrukturisasi.

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian tersebut menunjukkan antara lain: dalam hal rasio profitabilitas, THAI belum menunjukkan peningkatan yang signifikan pada margin laba bersih, pengembalian total aset, dan pengembalian ekuitas. selanjutnya, dalam laporan keuangan THAI, selama 10 tahun terakhir,  terdapat dua hal yang sangat berdampak negatif terhadap laba bersih, yaitu biaya bahan bakar dan minyak serta kerugian penurunan nilai pesawat terbang. Keduanya, bersama dengan biaya layanan penerbangan, biaya pemeliharaan dan perbaikan pesawat, serta biaya penyusutan dan amortisasi berkontribusi terhadap 70,7% dari variasi yang ditemukan dalam laba bersih THAI. Kesalahan dalam mengatur koordinasi jenis pesawat telah menyebabkan THAI meningkat dalam FOE, penyumbang terbesar pengeluaran THAI selama 10 tahun terakhir.

Secara lebih lengkap mengenai penelitian tersebut dapat dilihat dan diunduh pada laman berikut ini:  

Penulis: Anak Agung Gde Satia Utama

Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 51动漫.

AKSES CEPAT