51动漫

51动漫 Official Website

Mencegah Perilaku Seksual Berisiko di Kalangan Remaja dengan Pengaturan Diri

Perilaku seksual merupakan permasalahan yang serius karena merupakan faktor risiko terjadinya berbagai penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) seperti hepatitis C, hepatitis B, human immunodeficiency (HIV), dan berbagai penyakit menular seksual lainnya serta kecacatan dan kematia pada remaja. Banyak remaja yang putus sekolah karena hamil sebelum menikah akibat perilaku seksual yang lebih bebas sehingga menyebabkan mereka mengalami penyesalan, depresi, dan risiko bunuh diri.

Perilaku seksual remaja menunjukkan bahwa mereka mempunyai sikap yang mengunggulkan perilaku seksual berisiko, sehingga membuat mereka sulit mengendalikan nafsunya dan rentan terhadap pengaruh eksternal maupun internal. Perlu adanya kegiatan positif untuk mencegah perilaku seksual berisiko pada remaja antara lain dengan adanya pendidikan kesehatan seksual dari petugas kesehatan dan sekolah, peran orang tua, dan lingkungan yang kondusif, namun hal ini masih belum berjalan maksimal. Perilaku seksual berisiko pada remaja dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal berupa pengaruh lingkungan seperti pergaulan dengan teman sebaya, rumah tangga yang berantakan, atau tempat tinggal yang dekat dengan tempat pelacuran.

Pengetahuan mempengaruhi keyakinan remaja untuk menentukan sikap terhadap perilaku. Remaja yang mempunyai pengetahuan baik, maka ia akan cenderung mempunyai sikap yang baik sehingga ia akan berperilaku baik. Faktor sosial menunjukkan remaja putri lebih bersemangat dan cenderung lebih tinggi dalam mencegah perilaku seksual. Gender mempunyai pengaruh yang paling kuat dalam menjadikan remaja lebih permisif terhadap seks pranikah. Pencarian informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksual lebih banyak dilakukan oleh remaja perempuan dibandingkan remaja laki-laki. Selain itu, terdapat kecenderungan laki-laki lebih banyak mencari informasi tentang pornografi di media digital Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak.

Kemewahan menjadikan anak terlalu manja, lemah mental, dan tidak mampu memanfaatkan waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Situasi seperti ini menyebabkan remaja menjadi agresif dan memberontak, kemudian berusaha mencari kompensasi bagi dirinya dengan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar. Faktor pribadi mempunyai komponen nilai spiritual, emosi, dan kecerdasan. Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri dan mencari hal-hal baru terkait seks, yang akan mempengaruhi kecerdasan emosionalnya dalam berperilaku dan bertindak. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional merupakan salah satu hal yang dapat mempengaruhi terjadinya perilaku seksual pada remaja.

Faktor sosial menunjukkan bahwa remaja perempuan mempunyai pengendalian diri yang lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki. Pria merasa lebih bebas mengeksplorasi berbagai bentuk perilaku seksual. Risiko kehamilan yang tidak dialami pria semakin memperkuat peluang tersebut. Persepsi remaja terhadap perilaku seksual dapat diangkat dari tingkat sosial ekonomi. Kondisi sosial ekonomi yang rendah dan serba kekurangan menyebabkan remaja

melakukan perilaku seksual yang mengakibatkan kehamilan dan pernikahan dini, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara itu, remaja dengan status sosial ekonomi sedang dan uang saku pas-pasan dapat terlibat dalam kenakalan remaja, termasuk perilaku seksual pranikah. Begitu pula remaja dengan status sosial ekonomi tinggi yang berkecukupan melakukan perilaku seksual karena segala keinginan selalu diperoleh dengan mudah.

Faktor pribadi yang meliputi nilai spiritual, emosi, dan kecerdasan berada pada kategori kurang sehingga dapat mempengaruhi persepsi terhadap kontrol perilaku dalam mencegah perilaku seksual berisiko. Individu yang memiliki kecerdasan emosional yang baik akan mampu melakukan pengendalian diri terhadap suatu perilaku. Pengendalian diri cenderung mempunyai peran kontrol yang kuat, sehingga mereka lebih mampu mengendalikan diri agar tidak melakukan tindakan seksual yang beresiko. Nilai-nilai spiritual menjadi bagian landasan individu dalam mengendalikan perilaku. Kemampuan mengendalikan diri akan terbentuk ketika individu dapat mengatur emosi dan nilai spiritualnya sehingga dapat mengantisipasi dampak yang akan terjadi dari perilaku seksual berisiko sebelum melakukan tindakan tersebut.

Pengaturan diri lingkungan yang terdiri dari pengalaman sosial dan pengelolaan lingkungan meningkatkan pengaturan pribadi dalam mencegah perilaku seksual berisiko. Pengaturan diri berperan dalam upaya mengubah pikiran, perasaan, keinginan, dan tindakan yang dilakukan individu untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Model pengaturan diri terbukti berpengaruh signifikan terhadap pencegahan perilaku seksual berisiko pada remaja.

Penulis: Dr. Retno Indarwati, S.Kep., Ns., M.Kep

Sumber:

AKSES CEPAT