UNAIR NEWS 揔ondisi pasca pandemic yang dibarengi dengan konflik geopolitik membawa dampak yang besar terhadap kebijakan moneter. Dampak inflasi tersebut juga sangat berpengaruh terhadap negara adidaya seperti halnya Indonesia. Prediksi pertumbuhan kondisi ekonomi Indonesia tahun 2023 tersebut dikupas dalam talkshow kerja sama FEB UNAIR, Bank Indonesia dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia. Talkshow bertajuk 淛atim Talk – Road to East Java Economic Forum 2023 (EJAVEC) itu terselenggara di Ballroom Hotel Westin Surabaya dan disiarkan langsung melalui Youtube Bank Indonesia, Selasa (14/02/2023).
淭ahun 2023 ini menjadi tahun krusial di mana pertumbuhan ekonomi akan menurun sehingga perlu adanya resiliensi untuk menjaga stabilitas inflasi, ujar Budi Hanoto SE MBA, selaku Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur
Upaya yang dapat dilakukan dalam menjaga stabilitas inflasi tersebut dapat dilakukan melalui perhatian terhadap komoditas hortikultura, operasi pasar yang terukur, kerja sama antar daerah, dan peningkatan investasi pada produk pangan, serta optimalisasi BUMD. Selain itu menjaga hilirisasi bidang unggulan ekonomi Jawa Timur yakni pertanian, manufaktur, dan pariwisata serta mendorong UMKM.
淜unci mendorong akselerasi ekonomi itu prasyarat utamanya menurunkan inflasi, tegasnya
Pemulihan Ekonomi Domestik Berlanjut, Inflasi Jadi Tantangan
Penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia berlangsung membaik pasca pandemi namun masih terdapat lima tantangan global yang harus tetap dihadapi. Kelima tantangan itu dijelaskan oleh Muslimin Anwar MBA PhD selaku Deputi Kepala Perwakilan Bank Jawa Timur, diantaranya perekonomian yang menjurus kepada resesi, kenaikan inflasi, kenaikan suku bunga, dollar menguat, fenomena cash is the king (kondisi masyarakat melakukan penarikan uang besar-besaran). Tantangan lain yang sudah nyata dihadapi menurut David Samual (Chief Economist Bank Central Asia) adalah perusahaan teknologi besar yang tak kebal dari gelombang PHK.
淪ektor industri harus ditingkatkan, kita harus bisa mulai membangun industri berbasis sumber daya alam domestik jika ingin sektor industri ini berpengaruh terhadap pertumbuhan makro ekonomi, jelas Sunarsip Ak ME, Chief Economist
Menambahkan upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi, Guru Besar UNAIR, Prof Dr Ec Dyah Wulandari MEc Dev PhD menekankan perkembangan ekspor non migas Indonesia harus ditingkatkan. Sektor non migas ini dapat dilakukan dengan penanganan khusus sektor industri kelapa sawit mengingat Indonesia berpotensi besar dalam pengelolaan lahan dan ekspor sawit.
Penulis: Rosita
Editor: Nuri Hermawan





