UNAIR NEWS Bukan sekadar media audio, radio telah beradaptasi dengan tuntutan teknologi dan akses penggunanya. Himpunan Mahasiswa (HIMA) Komunikasi UNAIR bersama dengan Klub Radio On Campus (ROCS) UNAIR mengadakan sharing session: Jurnalisme Radio di Era Digital melalui Zoom Meeting. Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNAIR Irfan Wahyudi SSos MComms PhD mengatakan tidak hanya sebagai listener, bahkan pendengar dapat menjadi audience, yang melihat langsung proses jurnalisme radio.
Jurnalisme radio, lanjut Irfan, mampu menginspirasi produk-produk audio, yang menjadikan audio sebagai media dengan menceritakan sebuah peristiwa dan menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Pemilihan kata-kata harus sesuai dengan kosakata pendengar, serta penulisan naskah radio memakai bahasa tutur, yang tidak perlu dibaca detail.
淛urnalistik radio berusaha untuk memfasilitasi, bahwa informasi yang disampaikan sekilas, tidak bisa diulang, jelas, sederhana, dan sekali ucap langsung bisa dipahami. Dalam prinsip penulisan naskah radio terdapat kaidah KISS: Keep It Short and Simple menjadi wajib, demi menghindari berita tidak berbelit-belit, jelasnya pada Sabtu (09/04/2022).
Mengaku pernah bekerja sebagai penyiar di Mercury FM Surabaya, ia mengungkapkan, menjadi wartawan bukan hanya mencari berita, melainkan menyuarakan informasi yang beredar di masyarakat. Oleh karena itu, membutuhkan kesadaran kuat, sekaligus memberikan kesempatan dan empati, karena jurnalis merupakan pilihan semua orang.
Pada sesi selanjutnya, Former Broadcaster Hard Rock FM Agustian Pratama menyebutkan tiga hal paling penting dalam siaran radio, meliputi frekuensi, penyiar, dan materi siaran. Meskipun ada studio, kantor, bahkan penyiarnya, frekuensi berperan penting untuk menyiarkan radio. Di sisi lain, penyiar harus menunjukkan serba tahu dibandingkan menampilkan karakter sok tahu.
淢ateri siaran itu terdiri dari opening, isi, dan punchline. Opening berfungsi sebagai jembatan ke materi. Untuk punchline, seharusnya kasih sesuatu yang lucu, supaya pendengar tetap mendengar siaran, isinya simple namun penting, dan relate sama target pendengar, ujar Podcaster Mendoan.
Alumnus Ilmu Komunikasi UNAIR tersebut menyarankan, membaca ulang untuk memastikan bahasa yang dipakai tidak menggunakan istilah-istilah susah dalam dunia radio. Para penyiar harus mengetahui segmen radio yang dibawakan. Misalnya, salah satu radio Surabaya memiliki segment ke anak sekolah, berarti materi siaranya membahas selebriti atau yang berhubungan sama mereka.
Penulis: Balqis Primasari
Editor: Nuri Hermawan





