51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Mengapa Kita Butuh Tabir Surya? Inilah Peran Penting Zinc Oxide dan Titanium Dioxide

sumber: penulis
sumber: penulis

Indonesia adalah negara tropis yang hampir setiap harinya disinari matahari dengan intensitas tinggi. Tak heran, sebagian besar masyarakat”terutama yang bekerja di luar ruangan”terpapar sinar matahari antara 10% hingga 70% setiap hari. Paparan ini bukan sekadar membuat kulit gelap, tapi juga bisa mempercepat penuaan kulit hingga meningkatkan risiko kanker kulit.

Sebuah data dari Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya pada tahun 2022 mencatat bahwa sekitar 21,7% pasien mengalami penuaan kulit akibat terlalu sering terpapar sinar matahari dan polusi. Karena itu, para ahli kulit sangat merekomendasikan penggunaan tabir surya (sunscreen) secara rutin untuk melindungi kulit dari dampak negatif sinar matahari.

Apa Itu Tabir Surya dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Tabir surya adalah produk kosmetik yang berfungsi melindungi kulit dari sinar ultraviolet (UV) yang merusak. Secara umum, tabir surya dibagi menjadi tiga jenis:

  1. Tabir surya kimia “ bekerja dengan menyerap sinar matahari agar tidak masuk ke dalam kulit. Contohnya: benzofenon, avobenzon.
  2. Tabir surya fisik “ bekerja dengan memantulkan sinar matahari. Contohnya: zinc oxide (ZnO) dan titanium dioxide (TiOâ‚‚).
  3. Kombinasi “ memadukan kedua mekanisme di atas.

Menurut FDA (Food and Drug Administration), tabir surya fisik dianggap lebih aman, karena lebih stabil dan kecil kemungkinan menimbulkan iritasi pada kulit sensitif.

Zinc Oxide: Pelindung UV dengan Kekuatan Ganda

Zinc oxide (ZnO), khususnya dalam bentuk nanopartikel, adalah bahan aktif berwarna putih yang banyak digunakan dalam tabir surya fisik. ZnO mampu menyerap sinar UV-A dan UV-B, serta memiliki sifat antibakteri dan antimikroba yang menjadikannya ideal untuk produk perawatan kulit. Namun, ada kekurangan dari ZnO, yaitu meninggalkan efek buram atau putih di kulit dan sulit larut. Karena itu, formulasi tabir surya dengan ZnO biasanya dikombinasikan dengan bahan lain untuk mengatasi kelemahan ini.

Titanium Dioxide: Si Kuat yang Lebih Ringan

Titanium dioxide (TiOâ‚‚) juga merupakan bahan populer dalam tabir surya. Selain mampu menyerap sinar UV secara efektif, bahan ini juga lebih mudah larut dan tidak meninggalkan bekas putih di kulit seperti ZnO. TiOâ‚‚ bekerja paling efektif dalam menyerap sinar UV saat digunakan dalam konsentrasi sekitar 10%, dan aman digunakan hingga konsentrasi 25%. Bahan ini juga tahan panas, tidak beracun, dan relatif murah, sehingga banyak digunakan dalam berbagai produk kosmetik.

Kombinasi ZnO dan TiOâ‚‚: Perlindungan Maksimal untuk Kulit

Menggabungkan ZnO dan TiOâ‚‚ dalam satu produk tabir surya dapat memberikan perlindungan yang lebih optimal terhadap sinar UV. Keduanya bekerja dengan memantulkan dan menyerap radiasi matahari secara efisien. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa dalam ukuran nanometer (10-9 m), kedua bahan ini bisa menyerap lebih banyak sinar UV, mirip seperti filter kimia.

  • ZnO menyerap sinar UV pada rentang 208“400 nm, paling efektif di wilayah UV-A.
  • TiOâ‚‚ bekerja di rentang 200“700 nm, melindungi kulit dari sinar ultraviolet hingga cahaya tampak.

Semakin kecil ukuran partikel, semakin kuat pula daya serap UV-nya. Karena itulah, teknologi nanopartikel kini menjadi tren dalam pengembangan tabir surya modern.

Mengukur Kekuatan Tabir Surya: SPF

SPF (Sun Protection Factor) adalah ukuran seberapa lama tabir surya mampu melindungi kulit dari sinar UV-B dan UV-A. Nilai SPF dihitung berdasarkan perlindungan pada panjang gelombang 290“400 nm. Dalam penelitian ini, penambahan TiOâ‚‚ terbukti meningkatkan nilai SPF, sehingga kulit terlindungi lebih lama dan lebih baik dari sinar matahari.

Artikel selengkapnya dapat dilihat pada paper berikut.

Siswanto, Aminatun, Yhosep Gita Yhun Yhuwana, Ni Kadek Setiari, Vallery Ofelia Viannco Junico, The Effect of Titanium Oxide (TiO2) Addition on Improving The Performance of Zinc Oxide Nanoparticles (ZnO-NPs) As Sunscreen Formulation, AIP Conf. Proc. 3346, 040010 (August 14, 2025), https://doi.org/10.1063/5.0288208

AKSES CEPAT