51动漫

51动漫 Official Website

Mengembalikan Martabat Perempuan dalam Persalinan: Urgensi Respectful Maternity Care di Indonesia

Dampak Midwife-Led Care terhadap Mode Persalinan
Ilustrasi proses persalinan (sumber: Liputan6)

Persalinan merupakan momen paling krusial dan emosional dalam kehidupan seorang perempuan. Namun, di Indonesia, pengalaman ini kerap berubah menjadi sumber trauma akibat pelayanan yang tidak manusiawi dan tidak menghargai hak-hak perempuan. Artikel penelitian berjudul “Respectful Maternity Care in Indonesia: A Factor Analysis with a Multicenter Study Approach” menjadi bukti nyata bahwa pelayanan persalinan di rumah sakit rujukan Indonesia masih jauh dari prinsip-prinsip Respectful Maternity Care (RMC) yang diamanatkan oleh World Health Organization (WHO).

Penelitian ini mengungkap bahwa skor rata-rata RMC di tiga rumah sakit rujukan di Indonesia hanya sebesar 62,63 dari 100. Ini berarti hanya sekitar 60% perempuan yang merasa mendapatkan pelayanan persalinan yang layak dan menghargai hak mereka. Mirisnya lagi, aspek discrimination-free care memperoleh skor paling rendah, yang menunjukkan bahwa perempuan masih mengalami perlakuan tidak adil karena latar belakang sosial, etnis, atau status ekonomi mereka. Ini adalah alarm keras bagi dunia kesehatan di Indonesia.

Faktor-faktor yang terbukti menurunkan skor RMC mencakup intervensi medis seperti operasi sesar dan episiotomi, pemeriksaan vaginal berulang, serta komplikasi obstetri seperti perdarahan postpartum dan persalinan yang berlangsung lama. Yang menjadi masalah bukan hanya tindakan medis itu sendiri, melainkan cara tindakan itu dilakukan tanpa komunikasi efektif dan tanpa melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan. Dalam banyak kasus, perempuan merasa tubuh mereka “diambil alih” oleh sistem yang tidak memberikan ruang untuk suara mereka.

Dalam konteks ini, sistem pelayanan kesehatan kita masih sangat teknokratis dan paternalistik. Dokter dan tenaga kesehatan menjadi aktor dominan, sementara perempuan sebagai individu yang menjalani proses persalinan justru menjadi objek pelayanan. Tidak sedikit perempuan yang mengalami pengalaman persalinan traumatis hanya karena keinginannya diabaikan, tidak diberi informasi, atau dipaksa menjalani prosedur medis tanpa persetujuan yang benar-benar diinformasikan (informed consent).

Padahal, pelayanan persalinan yang berpusat pada perempuan (woman-centered care) bukanlah hal yang mustahil. Bahkan, pendekatan ini telah diterapkan dengan cukup baik oleh para bidan di praktik swasta yang menggunakan filosofi midwifery-led care, di mana kebutuhan emosional, psikologis, dan fisik perempuan diakomodasi secara utuh. Sayangnya, keterbatasan kewenangan bidan serta sistem rujukan yang cenderung menempatkan rumah sakit sebagai pusat layanan justru menyingkirkan model pelayanan yang lebih manusiawi ini.

Penting bagi kita menyadari bahwa kualitas pelayanan kesehatan tidak bisa hanya diukur dari angka kematian ibu dan bayi semata. Pengalaman perempuan selama persalinan juga merupakan indikator penting dari mutu pelayanan. Bayangkan, seorang ibu yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkan anaknya justru pulang dengan trauma, rasa kecewa, dan ketidakpercayaan terhadap sistem kesehatan.

Untuk itu, beberapa langkah perlu segera dilakukan. Pertama, integrasi prinsip RMC dalam kebijakan rumah sakit dan pendidikan tenaga kesehatan harus menjadi prioritas. Semua tenaga kesehatan, baik dokter maupun bidan, perlu mendapatkan pelatihan mengenai komunikasi empatik, etika pelayanan, dan hak-hak reproduksi perempuan. Kedua, perlu ada penguatan sistem pengawasan dan pengaduan terkait pelanggaran RMC di fasilitas kesehatan. Ketiga, perempuan perlu diberdayakan melalui edukasi agar memahami hak-haknya selama proses persalinan.

Indonesia tidak bisa terus membiarkan praktik pelayanan kesehatan maternal yang melanggar martabat perempuan. RMC bukanlah konsep idealistis yang hanya layak diwacanakan dalam seminar internasional. RMC adalah hak dasar setiap perempuan, dan menjadi kewajiban negara serta tenaga kesehatan untuk memenuhinya.

Sudah saatnya kita menempatkan perempuan sebagai subjek dalam proses kelahiran mereka sendiri. Sebab, penghormatan terhadap tubuh, pilihan, dan suara perempuan bukan hanya soal pelayanan kesehatan yang baik, melainkan cerminan dari peradaban yang beradab.

Penulis: Sofia Al Farizi, S.Keb., Bd., M.Kes.

Untuk membaca artikel lengkap dapat melalui tautan berikut:

AKSES CEPAT