51动漫

51动漫 Official Website

Mengembangkan Coping Skill Caregiver untuk Merawat Pasien Skizofrenia

Ilustrasi oleh Halodoc

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan perilaku tidak wajar. Perilaku ini dapat kita lihat pada pasien seperti bicara sendiri, malas aktifitas,  dan tidak mau interaksi. Perilaku skizofrenia ini menyumbang  13,4 juta per tahun hidup dengan kecacatan yang membebani secara global. Kerugian di Indonesia mencapai 30 persen sampai 40 persen untuk biaya setiap pasien karena ketidakproduktifan pasien. Caregiver skizofrenia mengalami beban diakibatkan harus menanggung biaya perawatan dan biaya kebutuhan sehari-hari pasien. Beban ini akan semakin berat ketika pasien sering mengalami kekambuhan.    

Beban yang dialami caregiver apabila tidak dikelola secara baik dapat menjadikan stres, sehingga coping skill sangat penting bagi caregiver. Coping adalah suatu cara untuk menyelesaikan masalah, yang dalam penggunaannya ada yang positif dan negatif. Penggunaan coping skill secara negatif mengakibatkan caregiver mengalami stres, yang dapat mempengaruhi pada fisik maupun emosional individu. Apabila caregiver stres maka akan terekspresi emosinya ke wajah maupun perilaku yang akan dapat mempengaruhi pasien skizofrenia yang dirawat. Hasil penelitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa ketidaknyaman pasien akibat perilaku caregiver dapat memicu kekambuhan yang berulang sampai 8 kali setahun. Kondisi demikian selanjutnya akan menjadi sebuah mata rantai yang terus saling terkait, menjadi sebuah masalah yang tidak terselesaikan.

Pentingnya pilihan coping skill positif bagi caregiver untuk mengelola masalah dalam merawat pasien skizofrenia agar menjadi baik. Koping skil positif akan berpengaruh terhadap pemecahan masalah dengan baik yang dapat berefek pada pemberian perawatan secara optimal. Bila perawatan diberikan kepada pasien dapat dilakukan dengan baik, maka akan mencegah terjadinya kekambuhan berulang. Sehingga beban caregiver menjadi berkurang dan pasien ada harapan untuk mengalami kesembuhan.

Kondisi kesehatan mental seseorang secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor genetik, stressor lingkungan dan penggunaan coping skill. Faktor genetik dan stressor lingkungan cenderung tidak dapat kita kendalikan. Sedangkan coping skill merupakan sesuatu karakter yang dapat dipelajari dan diterapkan untuk menghindari terjadinya stress. Menurut para ahli terdapat dua cara coping skill yang dapat digunakan.

Problem focused coping atau koping difokuskan pada masalah

Coping skill caregiver pasien skizofrenia secara dalam menghadapi permasalahan pasien dapat dilakukan pemecahan masalah secara terencana atau mencari dukungan sosial. Pemecahan masalah terencana yang dapat dilakukan seperti ikut menjadi keanggotaan BPJS kesehatan dengan tujuan untuk melakukan pengobatan pasien ke pelayanan kesehatan secara teratur. Adapun dukungan sosial yang dapat dilakukan yaitu bercerita pada seseorang yang dapat dipercayai oleh caregiver.

Emotion focused coping atau koping yang difokuskan pada emosi

Penggunaan emotion focused coping bagi caregiver skizofrenia untuk menggubah kondisi stressor yang dialami antara lain menerima tanggung jawab yang harus dilakukan secara ikhlas dan pola pikir yang positif. Tanggung jawab bagi caregiver skizofrenia merupakan kenyataan yang harus dihadapi, dimana kondisi ini caregiver tidak mampu merubah, sehingga terimalah apa yang tidak dapat dirubah dengan apa adanya.

Pengembangan coping skill caregiver skizofrenia melalui koping religius

Para ahli mengatakan bahwa koping religius adalah suatu cara individu menggunakan keyakinannya dalam mengelola stressor dan masalah-masalah dalam kehidupannya. Coping skill secara religius yang dapat digunakan adalah collaborative, self-directing dan deffering. Collaborative yaitu coping skill individu yang melibatkan Tuhan dalam menyelesaikan masalah-masalahnya. Contoh yang dapat diaplikasikasikan dalam kehidupan caregiver sehari-hari dalam menghadapi masalah merawat pasien skizofrenia adalah berdoa. Berdoa dapat dilakukan setiap waktu, eksplorasi perasaan melalui berdoa dapat dilakukan sesuai yang dikehendaki. Self-directing merupakan keyakinan bahwa Tuhan telah membekali kemampuan pada setiap orang untuk memecahkan masalahnya. Serta deffering artinya individu bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dalam memberikan isyarat untuk memecahkan masalahnya.

Kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan adalah caregiver yang merawat pasien skizofrenia mendapatkan stressor dalam merawat pasien. Kondisi emosi caregiver sangat mempengaruhi terjadinya kekambuhan pada pasien. Penggunaan coping skill caregiver sebagian adalah campuran dari kedua strategi yaitu problem focused coping dan emotional vocused coping. Perawat melakukan pengembangan dari coping skill yang dilakukan caregiver dengan pendekatan melalui koping religius. Diharapkan pengembangan coping skill ini dapat membantu caregiver dalam mengelola stressor dalam merawat. Terkelolanya stressor dengan baik akan berdampak pada kemampuan caregiver dalam melakukan perawatan, sehingga frekuensi kekambuhan pasien dapat berkurang.

Penulis: Rindayati
Artikel lengkapnya dapat diakses melalui link jurnal berikut ini:

AKSES CEPAT