Mikrotia adalah kelainan bawaan pada telinga dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari masalah struktural ringan hingga telinga luar yang hilang sama sekali. Dalam literatur terkini, mikrotia juga dapat disebut anotia, telinga kecil, atau kelainan bentuk telinga. Mikrotia dapat terjadi sebagai satu-satunya kelainan klinis (mikrotia terisolasi) atau dengan kelainan terkait lainnya sebagai bagian dari sindrom yang disebut mikrotia sindromik. Mikrotia sindromik biasanya disertai dengan kelainan wajah bawaan lainnya akibat perkembangan atau pertumbuhan abnormal pada embrio.
Banyak sindrom bawaan yang dikaitkan dengan mikrotia, termasuk Sindrom Treacher-Collins, mikrosomia kraniofasial/hemifasial, Sindrom Goldenhar, Sindrom Nager/Disostosis Akrofasial, Sindrom Crouzon, Sindrom Apert, dan Sindrom Klippel-Feil atau Sindrom Wildervanck. Klasifikasi mikrotia sindromik didasarkan pada fitur klinis dan etiologi genetik atau lingkungan yang mendasarinya. Mikrotia juga banyak diklasifikasikan sebagai bagian dari Spektrum Oculo-Auriculo-Vertebral.
Mikrotia dipengaruhi oleh komponen genetik dan non-genetik. Faktor lingkungan yang berperan antara lain paparan alkohol, penggunaan retinoid, atau penyakit diabetes yang semuanya terjadi pada ibu hamil. Selain itu, faktor genetik juga berperan penting. Ras atau etnis berbeda juga memiliki angka kejadian mikrotia yang berbeda, contohnya antara etnis Hispanik (1,12/10.000), Asia (0,54/10.000), dan Kepulauan Pasifik (4,61/10.000). Pada mikrotia yang dikembangkan dalam model hewan coba, mutasi genetik diidentifikasi pada beberapa kasus mikrotia, dan lebih dari 50 sindrom kromosom dan monogenik diamati pada mikrotia dalam spektrum klinis.
Mikrotia dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa derajat berdasarkan tingkat keparahan kondisinya. Klasifikasi yang paling umum meliputi:
¢ Derajat I: Adanya semua komponen telinga standar, tetapi dengan panjang longitudinal median lebih dari 2 deviasi standar di bawah rata-rata.
¢ Derajat II: Adanya beberapa bagian telinga normal, tetapi tidak semua.
¢ Derajat III: Adanya beberapa struktur aurikular, tetapi tidak ada yang sesuai dengan komponen telinga yang dikenali.
¢ Derajat IV: Tidak adanya telinga sama sekali, yang dikenal sebagai anotia.
Untuk memahami lebih lanjut tentang patogenesis mikrotia, kami telah melakukan tinjauan sistematis untuk mengumpulkan data mengenai peranan faktor genetik pada mikrotia. Kami mendapatkan sebagian besar kasus mikrotia tersebar di Asia (78%), Amerika (19,67%), dan diikuti oleh Eropa (2,26%). Mikrotia didominasi oleh kasus sindromik (85,26%) dibandingkan non sindromik/terisolasi (9,12%). Kasus mikrotia didominasi oleh telinga sisi kanan (64,5%) dan derajat III (71,29%). Sindrom terbanyak dengan mikrotia dilaporkan berupa kasus mikrosomia kraniofasial/hemifasial (94,75%), diikuti oleh Sindrom Treacher-Collins (2,31%).
Berikut kami rangkum mutasi gen yang menyebabkan terjadinya mikrotia:
¢ TCOF1: Ditemukan pada 43,75% mikrotia sindromik.
¢ SIX2: Ditemukan pada 4,69% mikrotia sindromik.
¢ HSPA9: Ditemukan pada 4,69% mikrotia sindromik.
¢ GSC exon 2: Kelainan genetik yang paling sering ditemukan pada mikrotia non sindromik (terdapat pada 25% kasus).
¢ FANCB: Ditemukan pada 16,67% mikrotia non sindromik.
¢ HOXA2: Ditemukan pada 8,33% mikrotia non sindromik.
¢ GSC exon 3: Ditemukan pada 8,33% mikrotia non sindromik.
¢ MARS1: Ditemukan pada 8,33% mikrotia non sindromik.
¢ CDT1: Ditemukan pada 8,33% mikrotia non sindromik.
Walaupun berbagai kelainan genetik pada mikrotia tersebut terjadi pada gen yang berbeda, namun secara umum mekanisme yang terjadi melibatkan gangguan embrio pada kehamilan sehingga pembentukan organ termasuk telinga dapat terganggu. Bentuk kelainan yang paling sering dilaporkan dalam hal ini adalah gangguan pembentukan telinga luar (atresia kanalis auditorius eksternal). Data ini relevan dengan proses embriologis daerah kepala dan leher yang terkait dengan lengkung faring, yang juga dikenal sebagai lengkung brankial. Lengkung faring merupakan struktur pembentuk berbagai komponen penting di telinga dan kepala-leher, dimana proses embriologis pembentukan struktur ini mulai terjadi pada minggu keempat. Dalam kasus mikrotia, berbagai faktor genetik dan lingkungan dapat memicu terputusnya jalur pensinyalan sel yang dapat mengganggu pembentukan lengkung faring. Daerah kedua yang paling sering terkena adalah daerah rahang (16,38%), dengan bentuk terbanyak berupa gangguan pertumbuhan rahang. Hal ini dikarenakan pembentukan rahang dan daun telinga terkait dengan lengkung faring pertama yang sama. Bentuk kelainan ketiga yang paling umum adalah daerah mulut (11,57%), yang berupa bibir dan atau langit-langit sumbing.
Sindrom yang berhubungan dengan lengkung faring dapat menyebabkan gangguan perkembangan atau tidak terbentuknya organ di sepanjang struktur yang dibentuk oleh lengkung terkait. Pola malformasi yang paling umum terlihat pada pasien dengan sindrom dalam penelitian ini adalah kasus Sindrom Treacher-Collins (94,75%) dan mikrosomia kraniofasial/hemifasial (2,31%), yang diduga disebabkan oleh gangguan perkembangan struktur dari lengkung faring pertama yang terjadi antara minggu kelima dan kedelapan perkembangan embrio. Ini mungkin juga menjadi dasar mengapa sebagian besar kelainan tampilan lainnya pada mikrotia secara umum terjadi di daerah kepala dan leher. Karena proses embriologis daerah kepala dan leher saling terkait, semakin dini gangguan terjadi, semakin banyak daerah yang akan terpengaruh dan semakin parah.
Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu
Link artikel asli dapat dilihat pada:





