UNAIR NEWS – Penyakit Ostheoarthritis atau yang biasa disebut OA bisa datang sewaktu-waktu. Terutama, bagi pasien yang sudah menginjak usia lanjut. Hal tersebut diungkapkan oleh dr. Patricia Maria, K.Sp, KFR dalam seminar nasional bertajuk 淧shioterapy Management for Knee Ostheoarthritis with Multi Modality Approach pada Sabtu (2/4) di Gedung Diagnostic Center (GDC) dr.Soetomo, Surabaya.
Sebagai salah satu pembicara dalam seminar, dr. Patricia menjelaskan bahwa OA akan menyerang sendi atau tulang pasien yang sudah rapuh. Tulang sendi yang paling sering terkena OA beberapa diantaranya adalah tulang lutut, tulang punggung, dan tulang ekor.
Pasien di atas umur 45 tahun umumnya perempuan. Ini berhubungan dengan masalah hormon. Yang di bawah umur 45 tahun, kebanyakan pria. Penyebabnya, tuntutan pekerjaan yang kerap membuat otot kaku.
Dokter Patricia yang saat ini menjabat sebagai koordinator staf medis RS UNAIR tersebut mengatakan, penyakit OA disebabkan oleh proses inflamasi. Yaitu, meningkatnya cairan synovium pada bagian tulang. Sehingga, terjadi pembengkakan sendi. Hal tersebut yang kemudian membuat tulang rawan menjadi tipis dan pecah-pecah.
淜alau sudah terkena OA, pasien duduk di tempat empuk sekalipun akan merasakan nyeri jika tulang ekornya yang terkena. Karena, ada zat nyeri pada bagian tersebut, kata dia.
Salah seorang staf fisioterapi instalasi rehabilitasi RS Soetomo, Trissilowati, SST.Ft menjelaskan, penyakit OA merupakan salah satu bentuk penyakit degenerative. Sehingga, siapapun berpeluang mengidap penyakit ini. Terutama, jika sudah memasuki usia lanjut. Karena, sendi tulang merapuh dan sudah tidak kuat untuk menahan berat badan.
淪emua orang termasuk saya, patut was-was sama OA. Penyakit ini bisa datang kapan saja, ujar Trissilowati yang juga pembicara di seminar nasional tersebut.
Trissilowati menambahkan, penyakit OA tidak dapat disembuhkan secara permanen. Namun, dapat diperlambat. Salah satunya, dengan cara fisioterapi terpadu.
淥A akan terus progresif. Potensial menimbulkan traumatis pada pasien. Salah satu cara menanganinya adalah memperlambat proses nyeri, tambahnya.
Narasumber lain bernama Sukadarwanto, SST.Ft, M.kes menjelaskan mengenai cara mencegah dan menangani penyakit OA. Yaitu, dengan menjaga asupan gizi, vitamin, serta melakukan olahraga ringan secara rutin. Misalnya, berenang atau latihan aerobik.
Dalam kesempatan itu, dia mengajak para peserta untuk memulai program hidup sehat. Salah satu langah yang bisa diambil adalah 渕endesain pekerjaan rumah sebagai bentuk olahraga senam. Olahraga dapat membantu menjaga persendian tulang lentur dan membangun kekuatan otot di sekitar sendi tulang.
淪alah satu sebab OA adalah inactivity di rumah. Kalau gak mau kena penyakit OA ya harus terus beraktifitas, ujarnya.
Di akhir penjelasan, staf pengajar fisioterapi di Poltekkes Kemenkes Surakarta tersebut menyoroti pentingnya edukasi fisioterapi yang benar untuk menangani OA. Karena, pengetahuan fisioterapi tentang penanganan OA yang dilakukan secara sembarangan, akan menyebabkan masalah baru. Pasalnya, kebanyakan pasien OA adalah lanjut usia. Maka itu, stabilitas pasien menjadi faktor penting yang harus tetap dijaga.
淔isioterapi bagi pasien yang sudah lanjut usia harus hati-hati. Jangan sampai yang bersangkutan terjatuh. Karena, tulang mereka sudah mulai merapuh secara keseluruhan, paparnya. (*)
Penulis: Dilan Salsabila
Editor: Rio F. Rachman





