Diabetes mellitus tipe 1 (T1D) adalah kondisi di mana tubuh tidak mampu memproduksi insulin, hormon yang mengatur kadar gula darah. Berbeda dengan diabetes tipe 2, T1D disebabkan oleh kelainan sistem kekebalan tubuh yang merusak pankreas. Untuk mengelola kondisi ini, penderita diabetes tipe 1 harus mengandalkan terapi insulin seumur hidup. Meskipun telah ada kemajuan dalam teknologi penanganan diabetes dan formulasi insulin, banyak pasien masih kesulitan mencapai kontrol gula darah yang optimal. Salah satu tantangan utama adalah mengontrol kadar gula darah setelah makan, yang dikenal sebagai kontrol glikemik postprandial.
Dalam beberapa tahun terakhir, sistem pengiriman insulin otomatis (Automated Insulin Delivery/AID) telah dikembangkan untuk membantu pasien diabetes tipe 1 mengelola kadar gula darah mereka dengan lebih baik. Sistem ini terdiri dari pompa insulin, monitor glukosa terus-menerus (Continous Glucose Monitoring/CGM), dan algoritma yang menghubungkan keduanya untuk meniru fungsi sel beta pankreas yang sehat. Walaupun hingga saat ini sistem AID telah menunjukkan manfaat dalam meningkatkan hasil glikemik, kontrol kadar glukosa setelah makan/postprandial tetap menjadi tantangan dalam penanganan penyakit ini.
Salah satu faktor yang memengaruhi efektivitas sistem AID adalah jenis insulin yang digunakan. Insulin kerja cepat (rapid-acting insulin/RAI) seperti insulin aspart, insulin glulisine, dan insulin lispro telah lama menjadi pilihan utama. Namun, insulin ini memiliki keterbatasan dalam hal kecepatan penyerapan setelah disuntikkan secara subkutan, yang dapat menyebabkan penundaan dalam respons insulin setelah makan. Untuk mengatasi masalah ini, insulin ultra-cepat (ultra-rapid-acting insulin/URAI) seperti fast-acting insulin aspart (FIASP) dan ultra-rapid lispro (URLi) telah dikembangkan. Insulin ini dirancang untuk meniru sekresi insulin pada saat makan (prandial fisiologis) dengan lebih baik, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kontrol kadar glukosa setelah makan. Sifat farmakologis RAI yang diberikan secara subkutan membatasi kemampuan sistem AID untuk merespons perubahan mendadak pada kadar glukosa. Selain itu, masih ada potensi mengalami anjloknya kadar glukosa (hipoglikemia) pasca makan karena prosesnya yang diberikan secara terus-menerus. Dalam hal ini, kami menawarkan penggunaan URAI sebagai rejimen alternatif untuk sistem AID.
Untuk memastikan potensi penggunaan URAI pada AID, kami melakukan studi meta analisis yang membandingkan efektivitas dan keamanan sistem AID yang menggunakan insulin ultra-cepat (AID“URAI) dengan sistem AID yang menggunakan insulin cepat (AID“RAI) pada pasien diabetes tipe 1. Kami mengevaluasi apakah insulin ultra-cepat memberikan manfaat yang lebih besar dalam hal kontrol glikemik dibandingkan insulin cepat. Studi ini menganalisis 16 uji coba terkontrol secara acak (RCT) yang melibatkan 664 total pasien. Parameter utama yang diukur adalah persentase waktu dalam rentang target (time-in-range/TIR), yaitu waktu ketika kadar glukosa darah berada dalam rentang 3,9“10 mmol/L. Parameter sekunder meliputi waktu di bawah rentang target (time-below-range/TBR), waktu di atas rentang target (time-above-range/TAR), dan kejadian hipoglikemia berat serta ketoasidosis diabetik.
Hasil meta-analisis kami menunjukkan bahwa penggunaan insulin ultra-cepat dalam sistem AID meningkatkan persentase TIR sebesar 1,07% dibandingkan dengan insulin cepat. Meskipun peningkatan ini signifikan secara statistik, secara klinis, perbedaan ini tidak terlalu besar, karena hanya setara dengan sekitar 15 menit tambahan per hari dalam rentang target. Selain itu, insulin ultra-cepat juga dikaitkan dengan penurunan 0,35% dalam persentase TBR (<3,9 mmol/L), yang berarti risiko hipoglikemia sedikit lebih rendah. Namun, tidak ada perbedaan signifikan dalam risiko ketoasidosis diabetik atau hipoglikemia berat antara kedua kelompok. Artinya, insulin ultra-cepat aman digunakan dalam sistem AID tanpa meningkatkan risiko komplikasi serius.
Studi ini juga melakukan analisis subkelompok untuk melihat apakah ada kelompok tertentu yang lebih diuntungkan dari penggunaan insulin ultra-cepat. Hasilnya menunjukkan bahwa sistem AID dengan koreksi bolus otomatis (automatic bolus correction) memberikan peningkatan TIR yang lebih signifikan dibandingkan dengan sistem tanpa fitur ini. Selain itu, manfaat insulin ultra-cepat lebih terlihat pada pasien dewasa, studi dengan durasi lebih dari 4 minggu, dan pada kelompok yang menggunakan FIASP dibandingkan dengan URLi. Menariknya, insulin ultra-cepat menunjukkan manfaat yang lebih besar pada siang hari dibandingkan malam hari. Hal ini mungkin disebabkan oleh variasi sensitivitas insulin yang lebih tinggi pada siang hari dan aktivitas seperti makan, olahraga, dan stres emosional yang cenderung terjadi pada siang hari.
Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa penggunaan insulin ultra-cepat dalam sistem AID sedikit meningkatkan persentase TIR dan memiliki profil keamanan yang baik tanpa meningkatkan risiko ketoasidosis diabetik atau hipoglikemia berat. Namun, perbaikan ini tidak cukup signifikan secara klinis untuk dianggap sebagai terobosan besar. Meskipun demikian, insulin ultra-cepat tetap menjanjikan, terutama bagi pasien yang sudah terbiasa dengan sistem AID dan memiliki pengalaman dalam mengelola diabetes. Kecepatan penyerapan insulin ultra-cepat dapat membantu sistem AID merespons perubahan kadar glukosa dengan lebih cepat, terutama setelah makan. Namun, untuk memaksimalkan manfaat insulin ultra-cepat, diperlukan pengembangan lebih lanjut dalam hal algoritma sistem AID dan sensor glukosa yang lebih akurat.
Apa Artinya Bagi Pasien Diabetes Tipe 1?
Bagi pasien diabetes tipe 1, temuan ini memberikan wawasan penting tentang pilihan terapi insulin. Insulin ultra-cepat mungkin menjadi pilihan yang baik bagi mereka yang kesulitan mengontrol kadar gula darah setelah makan atau yang menggunakan sistem AID dengan koreksi bolus otomatis. Namun, bagi pasien yang sudah mencapai kontrol glikemik yang baik dengan insulin cepat, peralihan ke insulin ultra-cepat mungkin tidak memberikan manfaat yang signifikan. Selain itu, penting untuk diingat bahwa sistem AID dan insulin ultra-cepat bukanlah solusi ajaib. Pengelolaan diabetes tipe 1 tetap memerlukan pemantauan rutin, penyesuaian dosis, dan kerja sama antara pasien, keluarga, dan tim medis. Dengan terus berkembangnya teknologi dan penelitian, harapannya adalah pasien diabetes tipe 1 dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik dan mengurangi risiko komplikasi jangka panjang.
Penulis: Dr. Citrawati Dyah Kencono Wungu, dr., M.Si
Dosen Fakultas Kedokteran 51¶¯Âþ
Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel dengan judul: A comparison of ultra-rapid and rapid insulin in automated insulin delivery for type 1 diabetes: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials yang dimuat pada jurnal ilmiah Diabetes, Obesity, and Metabolism tahun 2025.
Link artikel asli dapat dilihat pada:
https://dom-pubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/dom.16268?af=R





