UNAIR NEWS “ Bipolar merupakan suatu gangguan mental dengan perubahan suasana hati yang ekstrim. Perubahan suasana hati yang mendadak itu menyebabkan penderita bipolar seringkali mendapatkan stigma negatif dari lingkungan sekitarnya. Demi menghentikan stigma tersebut, mari mengenali apa itu bipolar dan beberapa tips untuk penyintasnya ala psikolog muda, Yoana Theolia Angie Yessica M Psi Psi.
Dalam webinar series FORSHARE, BIO: Bipolar? It™s Okay: From Enemy Become Bestie yang diselenggarakan Fakultas Farmasi 51¶¯Âþ (UNAIR) pada Sabtu (28/5/2022), psikolog senior di HOPE Psychology Center itu menjelaskan bahwa bipolar tidak serta merta hanya perubahan suasana hati saja. Lebih dalamnya, terdapat dua fase yang dialami penyintas, yakni fase manik dan fase depresif.
Menurut Jessy, fase manik atau high adalah fase yang mengakibatkan penyintas merasa memiliki lonjakan energi yang besar. Penyintas akan menjadi sangat bahagia dan antusias hingga sulit tidur. Sedangkan sebaliknya, pada fase depresif penyintas merasakan rasa sedih yang mendalam, rasa kosong dan hampa hingga mengganggu aktivitasnya. Bahkan Jessy memaparkan adanya potensi timbul keinginan bunuh diri pada penyintas di fase depresif.
Penyebab bipolar, Jessy melanjutkan, terbagi menjadi dua faktor besar. Yakni faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik dapat berupa riwayat gangguan mental pada keluarga, ketidak seimbangan senyawa kimiawi pada otak, dan kelainan organik bawaan. Sedangkan faktor lingkungan dapat berupa pola asuh yang tidak stabil, pengalaman kekerasan, trauma akan kehilangan, dan stres ekstrim.
Bipolar menurut Jessy, tidak bisa disembuhkan 100 persen. Namun dapat stabil dengan pengobatan jangka panjang dan konseling rutin dengan psikolog. “Jadi apakah bisa hilang 100 persen? Tidak bisa, perlu dibantu obat. Perlu pengobatan yang rutin dan seumur hidup, kemudian sambil dibantu dengan konseling dan psikoterapi,” ungkapnya.
Di samping itu, Jessy memiliki beberapa tips bagi penyintas bipolar agar dapat mempertahankan suasana hatinya supaya selalu stabil.
Pengobatan
Hal yang pertama dilakukan saat terdiagnosa bipolar adalah rutin minum obat & kontrol ke psikiater. Bipolar terjadi karena adanya ketidakseimbangan neurotransmitter di otak, maka dari itu obat dari psikiater dibutuhkan untuk memperbaiki neurotransmitter itu.
“Untuk penyintas bipolar, yang paling utama adalah pengobatan dengan psikiater dulu. Karena neurotransmitter kita perlu dibetulkan dulu,” ujar Jessy.
Konseling
Selain pengobatan ke psikiater, dibutuhkan pula konseling rutin ke psikolog. œUntuk ke psikiater akan dibantu dengan obatnya, resepnya. Nah kalau ke psikolog, ada yang namanya psikoterapi. Jadi nanti akan dibantu bagaimana menghadapi hari. Bagaimana caranya kalau lagi down, depresi, apa yang harus dilakukan,” paparnya.
Pola Tidur
Jessy menegaskan untuk tidur secara terjadwal, mematikan alat elektronik, dan menerapkan sleep hygiene. “Tidurnya kalau bisa terjadwal, karena ini sangat berpengaruh terhadap mood kalian. Misal harus tidur jam 11 malam,” jelasnya.
Asupan Nutrisi
Psikolog klinis spesialis kesehatan mental itu bercerita bahwa hampir 90 persen kliennya yang memiliki gangguan kecemasan, pasti memiliki gangguan pencernaan. Maka dari itu diperlukan konsultasi langsung pada dokter/ahli gizi untuk saran makanan yang akan dikonsumsi.
Sosial
Bipolar bukanlah alasan untuk membatasi diri dari interaksi sosial. Sebaliknya, Founder of HOPE Psychology Center & Associate Speaker Psylution itu menyarankan untuk tetap berkontak dengan teman-teman dan jika memungkinkan untuk curhat dengan orang yang dipercaya.
Hobi & Me Time
œTemukan banyak opsi sumber kebahagiaan. Kira-kira apa sih yang bikin kalian kuat, apa sih yang bikin kalian sanggup menjalani hari,” tukas Jessy.
Hal terakhir yang sangat penting adalah menemukan hobi dan kegiatan yang dapat membuat bahagia. Lebih lagi, yang dapat membuat diri terkoneksi sehingga dapat memahami emosi apa yang sebenarnya muncul dan apa yang harus dilakukan atas emosi tersebut.
Penulis: Alfiyya Rahmah
Editor: Nuri Hermawan





