51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Mengenali Risiko Bunuh Diri pada Anak dan Remaja: Pentingnya Skrining Sejak Dini

(Foto: Ilustrasi kesehatan mental remaja (Sumber: Freepik)
(Foto: Ilustrasi kesehatan mental remaja (Sumber: Freepik)

Bunuh diri pada anak dan remaja menjadi perhatian serius di berbagai negara. Data global menunjukkan bahwa bunuh diri kini menjadi penyebab kematian kedua tertinggi pada anak usia 10“14 tahun. Angka ini menggambarkan bahwa kesehatan mental pada usia muda bukan lagi masalah yang jarang terjadi, melainkan isu yang perlu ditangani bersama oleh keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Psychiatry Research (2025) menganalisis lebih dari 1.000 publikasi ilmiah mengenai cara menilai risiko bunuh diri pada anak dan remaja. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perhatian ilmiah terhadap topik ini meningkat setiap tahun. Negara yang paling banyak berkontribusi dalam penelitian adalah Amerika Serikat, diikuti Tiongkok, Spanyol, dan Inggris.

Namun, penelitian ini juga menemukan tantangan penting. Hingga saat ini, belum ada alat skrining risiko bunuh diri yang dapat digunakan secara universal. Sebagian besar alat penilaian disusun berdasarkan budaya Barat, sehingga belum tentu tepat diterapkan langsung di negara lain, termasuk Indonesia. Padahal, faktor pemicu bunuh diri sangat dipengaruhi oleh budaya keluarga, tekanan akademik, hubungan sosial, dan norma masyarakat.

Penilaian risiko bunuh diri juga berbeda menurut usia. Anak kecil mungkin belum sepenuhnya memahami konsep kematian, sementara remaja lebih rentan mengalami stres sekolah, tekanan pergaulan, kecemasan, atau depresi. Karena itu, skrining perlu dilakukan dengan pendekatan yang sesuai usia dan sensitif terhadap budaya.

Penelitian ini menekankan bahwa sekolah memiliki peran yang penting dalam pencegahan. Program penguatan keterampilan sosial-emosional, edukasi kesehatan mental, serta layanan konseling yang mudah diakses dapat membantu siswa mengelola tekanan sehari-hari. Sementara itu, orang tua berperan menciptakan komunikasi yang terbuka, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberi dukungan emosional.

Kesimpulannya, upaya mencegah bunuh diri pada anak dan remaja dimulai dari mengenali tanda risiko sejak dini. Keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat perlu bekerja secara bersama. Mengajak anak dan remaja berbicara tentang perasaan, mengurangi stigma terhadap kesehatan mental, dan menyediakan ruang aman untuk mencari bantuan merupakan langkah yang dapat kita lakukan sekarang.

Penulis: Prof. Ferry Efendi, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D

Informasi detail tulisan ini dapat dilihat di:

Sumber penelitian: Kustanti, C. Y., Sarfika, R., Kurniawan, E. A. P. B., Efendi, F., Wijaya, N. E., Abdullah, K. L., & Pratiwi, W. (2025). Bibliometric analysis of suicide risk assessment in children and adolescents: Trends and future directions. Psychiatry Research, 348, 116468.

AKSES CEPAT