Penyakit Coronavirus (COVID-19) telah menyebabkan pandemi yang meluas dan menimbulkan lonjakan pasien di unit gawat darurat (UGD) rumah sakit. Dalam situasi yang mendesak ini, penting untuk segera mengidentifikasi pasien-pasien yang memerlukan perawatan intensif di triase sesegera mungkin.
Salah satu komplikasi serius yang terkait dengan COVID-19 adalah syok, yang telah terbukti meningkatkan risiko kematian dan mengurangi peluang pemulihan pasien. Sebagian besar pasien dengan syok berada dalam kondisi kritis dan mengalami komplikasi lain, membuat situasi semakin mengkhawatirkan. Syok bahkan menyumbang 33% dari seluruh kematian pada pasien COVID-19.
Dalam upaya untuk memprediksi luaran pasien COVID-19, berbagai metode telah diusulkan, namun banyak dari mereka memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Namun demikian, sebuah alat sederhana yang bernama Indeks Syok (SI) muncul sebagai solusi yang cepat dan efisien. SI awalnya diperkenalkan oleh Allgo ̈wer dan Buri pada tahun 1967 sebagai cara untuk mengevaluasi derajat hipovolemia pada pasien dengan syok. Selanjutnya, SI terbukti efektif sebagai prediktor luaran pada berbagai kondisi klinis, seperti emboli paru, influenza pada lansia, sepsis, syok hemoragik, dan infark miokard.
Sayangnya, meskipun SI telah terbukti efektif dalam berbagai kondisi medis, penggunaannya dalam menghadapi COVID-19 masih belum banyak digunakan. Oleh karena itu, sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis dilakukan untuk mengevaluasi peran SI sebagai prediktor masuk unit perawatan intensif (ICU) dan kematian pada pasien COVID-19 yang dirawat di unit gawat darurat.
Proses perhitungan SI sangat sederhana, hanya dengan membagi denyut jantung dengan tekanan darah sistolik ” dua parameter yang mudah didapatkan dan dipantau. Dalam situasi darurat seperti triase di UGD, SI dapat dengan cepat dihitung berdasarkan tanda-tanda vital pasien.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis dari delapan studi yang melibatkan total 4.557 pasien menunjukkan bahwa nilai SI yang tinggi berkorelasi dengan risiko 5,81 kali lipat masuk ICU dan risiko 7,45 kali lipat kematian di rumah sakit. Selain itu, sensitivitas dan spesifisitas SI dalam memprediksi kemungkinan masuk ICU adalah 76,2% dan 64,3%; dan 78,0% dan 76,8% untuk kematian di rumah sakit. Hasil kurva receiver-operating characteristic menunjukkan bahwa nilai SI >0,7 adalah batasan yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas terbaik dalam memprediksi risiko masuk ICU dan kematian.
Dalam kesimpulannya, Indeks Syok (SI) adalah alat yang bermanfaat dan efisien untuk memprediksi kemungkinan pasien COVID-19 memerlukan perawatan intensif di ICU dan risiko kematian di rumah sakit. Dalam menghadapi tantangan COVID-19, penggunaan SI dapat membantu meningkatkan perawatan dan pengelolaan pasien, membawa kita satu langkah lebih dekat menuju penanganan yang lebih efektif dan tepat waktu.
Sumber: Mochamad Yusuf Alsagaff, Roy Bagus Kurniawan, Dinda Dwi Purwati, Alyaa Ulaa Dhiya Ul Haq, Pandit Bagus Tri Saputra, Clonia Milla, Louisa Fadjri Kusumawardhani, Christian Pramudita Budianto, Hendri Susilo, Yudi Her Oktaviono,. Shock index in the emergency department as a predictor for mortality in COVID-19 patients: A systematic review and meta-analysis. Heliyon, Volume 9, Issue 8, 2023. Link





