UNAIR NEWS – Departemen Ilmu Ekonomi 51动漫 (UNAIR) menyelenggarakan guest lecture dengan tema Navigating Megatrends: From Globalisation to Digital Transformation in the Evolution of Industry 5.0. Acara kali ini menghadirkan Marta Ulbrych PhD yang merupakan assistant professor dari Krakow University of Economics. Kegiatan ini berlangsung di Aula Miendrowo Gedung Utama FEB UNAIR, Rabu (14/5/2025).
Dunia yang Semakin Terkoneksi
Dalam paparannya, Marta mengutip buku Friedman yang menjelaskan bagaimana globalisasi membentuk dunia yang saling terhubung dan membuka peluang kolaborasi lintas batas. 淜ini produktivitas bisa ditingkatkan. Tidak ada masalah untuk bepergian dan berkolaborasi antarnegara, the world is flat, ujar Marta.
Marta menekankan bahwa globalisasi dapat memudahkan kerja sama internasional dengan kemajuan teknologi dan mobilitas global. Istilah globalisasi pertama kali muncul di media pada tahun 1953 dan globalisasi tidak bisa dilepaskan dari sejarah kolonialisme hingga perkembangan teknologi. 淗al utama yang membedakan globalisasi fase 1, 2, dan 3 adalah teknologi dan akses terhadap informasi, tuturnya.
Potret Kerja Sama Polandia dan Indonesia
Dalam sesi pemaparan materi, Marta juga membahas hubungan ekonomi antara Polandia dan Indonesia. Meski memiliki perbedaan populasi dan wilayah, kedua negara memiliki potensi kerja sama yang besar. 淧olandia mengimpor lebih banyak dari negara Anda (Indonesia, red). Negara Anda adalah mitra dagang terbesar ke-33 Uni Eropa, jelasnya.
Marta juga menambahkan mengenai proporsi net ekspor masing masing negara terhadap Gross Domestic Product (GDP). 淧olandia adalah negara yang sangat terbuka. Dibandingkan dengan Indonesia, tingkat keterbukaan Polandia lebih tinggi. Namun hal itu juga dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan tingkat konsumsi, ungkapnya.
Kebijakan Tarif dalam Globalisasi
Lebih lanjut, Marta menuturkan bahwa globalisasi memungkinkan barang-barang dari negara dengan biaya produksi lebih rendah masuk ke pasar global dengan mudah. Kondisi ini menimbulkan tekanan kompetitif industri manufaktur di negara-negara maju. Akibatnya, terjadi perubahan sosial dan ekonomi yang signifikan, termasuk penurunan kontribusi sektor manufaktur terhadap GDP.
Marta turut mengangkat kebijakan proteksionisme sebagai tantangan baru dalam era globalisasi. 淪ulit untuk tidak membicarakan kebijakan tarif timbal balik Trump ketika berbicara tentang globalisasi, katanya merujuk pada dampak kebijakan AS terhadap pasar global.
Marta menambahkan bahwa kebijakan tarif Trump pada jangka pendek memang ditujukan untuk melindungi industri domestik Amerika Serikat dan mungkin ada motif lainnya. Untuk itu, ia mengingatkan akan adanya ketidakpastiannya terhadap kondisi di masa depan, mengingat Trump merupakan sosok yang cenderung 榝leksibel dalam mengambil keputusan kebijakan.
Penulis: Rosa Maharani
Editor: Yulia Rohmawati





