UNAIR NEWS 颅- Sesuai dengan catatan sejarah, Indonesia dan Kamboja menjalin hubungan kerja sama sejak masa perjuangan kemerdekaan 1953. Bukan hanya diplomasi politik, melainkan juga kebudayaan, yaitu program restorasi Candi Angkor Wat.
Pembangunan Angkor Wat pun terinspirasi dari Candi Borobudur. Saat itu Mataram dengan kekuatannya menguasai Asia Tenggara, termasuk Champa, dan mendirikan Candi Borobudur serta Medut. Terkesima dengan keindahannya, Raja Jayawarman II dan anaknya, Suryawarman II, dari Kamboja menimba pengalaman untuk membuat candi.
Mengingat eratnya hubungan Indonesia dan Kamboja, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), UNAIR, menghelat kuliah tamu bertajuk Education Policy in Developing Country in the Context of Regionalization and Globalization pada Senin (23/10). Bertempat di Ruang Adi Sukadana, hadir sebagai pemateri Dr. Chankoulika BO, pengajar dari Royal University of Law and Economics (RULE).
“Dalam kesempatan yang langka ini, semoga mahasiswa dapat mempelajari bagaimana hubungan Indonesia dengan Kamboja. Termasuk mengetahui lebih jauh mengenai Kamboja, tutur Prof. Dra. Myrtati Dyah Artaria M.A., Ph.D dalam sambutannya.
Chankoulika memulai pemaparannya dengan memperkenalkan profil Kingdom of Wonder, Kamboja. Kamboja berbatasan langsung dengan Laos, Thailand, dan Vietnam yang beribu kota di Phnom Penh. Sehari-hari bahasa yang digunakan adalah Khmer.
“Kamboja masih berkategori low income country. Meski demikian, dalam jangka panjang, Kamboja memiliki rencana strategis untuk meningkatkan GDP pada 2030 sebesar $ 4.036 sampai $ 12.475 dan menjadi negara maju pada 2050, jelas Chankauolika.
Dia menambahkan, Kamboja berupaya setara dengan Indonesia, baik segi pendidikan, fasilitas, maupun ekonomi. Jadi, berbagai langkah kebijakan diambil untuk memperbaiki kondisi Kamboja seusai perang. Mulai perjanjian perdamaian hingga bergabung dengan organisasi wilayah seperti ASEAN.
“Indonesia dan Kamboja memiliki keterkaitan dalam prinsip ASEAN, yaitu saling menghormati kemandirian, kedaulatan, kesamaan, integritas teritorial, dan identitas nasional. Meski begitu, asas kekeluargaan terus terjalin melalui diplomasi serta peran aktif militer Indonesia,” ungkap Kolika, sapaan akrabnya.
Dalam kuliah tamu perdananya tersebut, dia sangat antusias dengan semangat mahasiswa yang hadir menjawab satu per satu pertanyaan yang diajukan. Dan, kelak Kolika berharap dapat kembali bertemu, entah diberi kesempatan pergi ke Indonesia lagi atau di Kamboja.
Penulis : Siti Nur Umami
Editor: Feri Fenoria





