51动漫

51动漫 Official Website

Mengulas Ulang Platform SINTA untuk Ekosistem Riset di Indonesia

Baru-baru ini, sebuah studi yang dirilis oleh Fry et al. (2023) menyoroti pengaruh platform SINTA (Indeks Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) terhadap penilaian penelitian di Indonesia. Meskipun penelitian tersebut merupakan kontribusi yang signifikan, diperlukan klarifikasi lebih lanjut untuk mencegah kemungkinan salah paham, terutama bagi audiens internasional.

Platform SINTA terutama menggunakan Scopus dan Web of Science, database berorientasi bahasa Inggris yang dikelola secara komersial. Ketergantungan ini membatasi inklusi banyak artikel non-Inggris oleh peneliti Indonesia, sehingga mengurangi keragaman hasil penelitian. Misalnya, database GARUDA menyimpan lebih dari 2,5 juta artikel dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Sementara itu, Perpustakaan Nasional Indonesia/Perpusnas memiliki lebih dari 600.000 buku dengan ISBN. Namun, sumber daya melimpah ini sering diabaikan.

Secara tidak langsung, penggunaan Scopus menyajikan konflik kepentingan. Database ini dimiliki oleh Elsevier, yang juga memiliki banyak jurnal yang terdaftar, yang mungkin menciptakan indeksasi yang bias menguntungkan publikasi mereka sendiri. Baik Scopus maupun Web of Science menggunakan algoritma propietary untuk menghitung metrik jurnal, yang mungkin tidak komprehensif dalam proses seleksi dan peringkat.

Di Indonesia, pendaftaran dengan SINTA secara tidak langsung menjadi wajib bagi semua dosen di bawah yurisdiksi Kementerian. Meskipun tidak ada hukuman yang tegas, kementerian-kementerian tersebut telah “mendorong” pendaftaran tersebut. Kewajiban ini memungkinkan Kementerian untuk terhubung dengan berbagai aplikasi dan membatasi peneliti untuk menggunakan database eksklusif ini.

Platform SINTA dikritik karena memutarbalikkan kebijakan penelitian dan pendidikan tinggi. Penggunaannya telah menyebabkan perubahan dalam cara universitas mengevaluasi kinerja staf. Fokusnya pada artikel berbahasa Inggris juga berpotensi mengabaikan karya ilmiah berharga yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Berbeda dengan pandangan yang diungkapkan oleh Fry et al. (2023) bahwa SINTA adalah solusi “biaya rendah”, pandangan ini dapat diperdebatkan. Meskipun tampak hemat biaya dibandingkan dengan investasi infrastruktur, hal ini gagal menangani masalah jangka panjang yang mempengaruhi kualitas penelitian. Memprioritaskan peringkat dapat menghambat keunggulan ilmiah, membatasi reputasi penelitian Indonesia secara global.

Diskusi ini meluas ke negara-negara berpendapatan menengah-rendah di mana pendanaan penelitian terbatas. Negara-negara ini harus memprioritaskan pendanaan untuk penelitian yang dapat berdampak signifikan pada pembangunan nasional. Menyebut sebuah platform sebagai solusi “biaya rendah” mungkin menyesatkan karena mengabaikan konteks ekonomi, sosial, dan teknologi yang lebih luas di mana platform tersebut digunakan.

Selain itu, penekanan pada produksi makalah ilmiah dapat mengalihkan perhatian dari tujuan utama penelitian di negara-negara berpendapatan menengah-rendah yaitu menghasilkan pengetahuan untuk memecahkan masalah-masalah mendesak seperti layanan kesehatan yang tidak memadai, kemiskinan, dan infrastruktur yang kurang memadai. Kemajuan nyata terletak pada membangun budaya penelitian yang dapat memberikan kontribusi solusi terhadap masalah-masalah ini, bukan hanya dalam produksi makalah akademik.

Sehingga meskipun platform seperti SINTA dapat menawarkan beberapa manfaat, penting untuk mempertimbangkan implikasi yang lebih luas terhadap lanskap penelitian. Untuk membangun budaya penelitian yang kuat di Indonesia dan negara-negara serupa, perlu fokus pada kualitas dan relevansi penelitian, sambil mendiversifikasi saluran dan bahasa publikasi. Memprioritaskan faktor-faktor ini dapat menghasilkan pembangunan yang lebih berkelanjutan dan manfaat yang nyata bagi negara.

Oleh: Ilham Akhsanu RidloArtikel Short Communication 淐omments on 淩anking researchers: Evidence from Indonesia by Fry et al. (2023) di jurnal Research Policy dapat dibaca di

AKSES CEPAT