Tuberkulosis bovine (bovine tuberculosis) adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium bovis, yang dapat menginfeksi berbagai spesies hewan, termasuk sapi, serta manusia. Penyakit ini dapat menyebabkan kondisi kesehatan yang buruk dan bahkan kematian, terutama di kalangan ternak. M. bovis memiliki kemampuan untuk bertahan di lingkungan yang keras, yang membuat penyebarannya sulit dikendalikan. Selain itu, penyakit ini memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat karena kemampuannya untuk ditularkan dari hewan ke manusia, sering melalui produk susu yang tidak dipasteurisasi atau kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
Epidemiologi
Prevalensi M. bovis bervariasi secara geografis, dengan tingkat infeksi yang lebih tinggi di wilayah-wilayah dengan program eradikasi yang lemah atau tidak ada sama sekali. Infeksi ini juga dapat berkontribusi pada masalah kesehatan masyarakat di daerah-daerah dengan praktik peternakan yang kurang baik, di mana produk hewan sering dikonsumsi tanpa proses pasteurisasi. Di beberapa negara, infeksi ini menjadi ancaman besar bagi populasi manusia dan hewan, terutama di wilayah dengan kondisi sosial ekonomi rendah, serta di antara kelompok-kelompok yang rentan seperti anak-anak dan orang tua.
Patogenesis
Mycobacterium bovis terutama menyerang sistem pernapasan, dengan lesi yang sering ditemukan di saluran pernapasan atas, paru-paru, dan amandel. Lesi ini menunjukkan peran penting saluran pernapasan dalam patogenesis penyakit. Penyakit ini biasanya memiliki perjalanan yang lambat, dengan gejala klinis yang muncul secara bertahap dan dapat bertahan selama bertahun-tahun sebelum menjadi parah.
Penularan
Penularan M. bovis terjadi melalui berbagai cara, termasuk inhalasi, konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi, dan kontak langsung dengan lesi kulit atau selaput lendir yang terinfeksi. Penularan melalui inhalasi aerosol dianggap sebagai rute utama infeksi pada sapi, sementara penularan melalui konsumsi lebih umum terjadi pada spesies hewan lain seperti rusa dan kucing. Pada manusia, infeksi biasanya terjadi melalui konsumsi produk susu yang tidak dipasteurisasi atau kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
Tanda Klinis
Pada tahap awal, infeksi M. bovis mungkin tidak menunjukkan gejala yang jelas. Namun, pada tahap lanjut, gejala seperti batuk basah, penurunan nafsu makan, demam ringan yang fluktuatif, dan kelemahan umum sering muncul. Pada sapi, infeksi ini dapat menyebabkan penurunan berat badan yang progresif, produksi susu yang menurun, dan kondisi kesehatan yang memburuk secara umum. Pembengkakan kelenjar getah bening juga sering diamati, yang dapat mengganggu fungsi organ seperti saluran pencernaan dan pernapasan.
Diagnosa
Diagnosa tuberkulosis bovine sering melibatkan pemeriksaan klinis, uji tuberkulin kulit (TST), tes IFN桑, isolasi bakteri, dan teknik diagnostik molekuler seperti PCR. Uji tuberkulin kulit adalah metode yang paling umum digunakan untuk mendeteksi infeksi, dengan respons inflamasi lokal di tempat injeksi yang menunjukkan hasil positif. Tes IFN桑 digunakan untuk mengukur level interferon gamma yang dilepaskan oleh sel darah putih setelah terinfeksi. Selain itu, isolasi bakteri dan teknik molekuler seperti PCR dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan M. bovis secara langsung dari sampel jaringan.
Pentingnya Kesehatan Masyarakat
Tuberkulosis bovine memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat, terutama di wilayah di mana pasteurisasi susu tidak dilakukan secara luas. Meskipun M. bovis bukan penyebab utama tuberkulosis pada manusia, infeksi ini dapat menimbulkan risiko besar, terutama di kalangan pekerja peternakan, pekerja rumah potong hewan, dan individu yang mengonsumsi produk hewan yang terinfeksi. Pencegahan dan kontrol penyakit ini memerlukan pendekatan terpadu, termasuk program eradikasi pada hewan dan edukasi masyarakat tentang risiko konsumsi produk hewan yang tidak diproses dengan baik.
Penulis : Yulianna Puspitasari
Link:
Baca juga: Beban Psikologis Penderita Tuberkulosis Akibat Stigma Sosial





