51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Mengurai Mekanisme Rumit di Balik Kanker Payudara untuk Manajemen Terapi yang lebih Efektif

sumber: Kompas Health
sumber: Kompas Health

Kanker payudara adalah penyakit yang paling umum dijumpai di kalangan perempuan di seluruh dunia, dengan 2,1 juta kasus didiagnosis pada tahun 2018, dan satu kasus baru didiagnosis setiap 18 detik. Dengan tingkat insiden global yang terus meningkat sekitar 3,1% setiap tahunnya, memahami seluk-beluk perkembangan penyakit ini adalah kunci untuk merancang strategi pencegahan dan pengobatan yang lebih efektif. Penelitian modern menunjukkan bahwa kanker payudara bukanlah satu penyakit tunggal; ia adalah kumpulan berbagai kondisi dengan karakter biologis yang berbeda-beda.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi sedikitnya 19 subtipe kanker payudara. Mayoritas”sekitar 70“75%”masuk dalam kategori invasive carcinoma of no special type, sementara sisanya terdiri dari berbagai tipe khusus seperti karsinoma lobular. Setiap subtipe memiliki perilaku biologis berbeda, termasuk kecepatan perkembangan dan respons terhadap terapi. Keberagaman ini muncul dari perbedaan ekspresi reseptor sel seperti estrogen receptor (ER), progesterone receptor (PR), dan HER2. Ketiga biomarker ini menjadi dasar pengelompokan kanker payudara modern. Misalnya, kanker payudara tipe luminal A cenderung tumbuh lebih lambat, sedangkan triple-negative breast cancer (TNBC) berkembang lebih agresif dan sering kali lebih sulit diobati.

Peneliti dari Fakultas Farmasi 51¶¯Âþ bekerjasama dengan peneliti dari Pakistan, Aljazair, Syria, Uzbekistan dan Arab Saudi mengupas terkait patofisiologi kanker payudara dalam suatu bab yang tersusun dalam buku Phytonutrients in the Treatment of Breast Cancer yang dapat diakses di tautan berikut:

Sebagian faktor risiko kanker payudara tidak dapat diubah, seperti usia dan genetika. Namun, hampir 20% kasus di dunia dipengaruhi oleh faktor yang dapat dimodifikasi: konsumsi alkohol, obesitas, kurang aktivitas fisik, hingga penggunaan kontrasepsi hormonal tertentu. Alkohol, misalnya, meningkatkan risiko kanker payudara hingga 7“10% untuk setiap 10 gram yang dikonsumsi per hari. Sementara pada perempuan pascamenopause, obesitas memicu peningkatan produksi estrogen oleh jaringan lemak, yang turut memperbesar risiko terjadinya tumor. Hormon seks juga berperan besar. Estrogen dapat menyebabkan kerusakan DNA, sementara ketidakseimbangan ekspresi reseptor progesterone sering ditemukan pada tumor ganas.

Selain gaya hidup, perkembangan kanker payudara juga dipengaruhi oleh peran sistem imun dan peradangan, kerusakan DNA, stres oksidatif hingga Asam Ribonukleat (RNA). Kanker payudara berkembang melalui interaksi rumit antara hormon, gen, sistem imun, hingga gaya hidup. Memahami kerumitan ini adalah fondasi untuk mengoptimalkan manajemen penyakit. Pengetahuan ini membuka jalan tidak hanya untuk pengobatan sistemik yang lebih terarah, tetapi juga menekankan pentingnya intervensi gaya hidup dan nutrisi sebagai bagian penting dari pencegahan dan perawatan terpadu.

Penulis: Andi Hermansyah

Fakultas Farmasi 51¶¯Âþ

AKSES CEPAT