51动漫

51动漫 Official Website

Menilai Dampak Kondom, Mikrobisida Vagina, dan Optimalisasi Perawatan

Menilai Dampak Kondom, Mikrobisida Vagina, dan Optimalisasi Perawatan
Sumber: Antaranews

Sindrom Defisiensi Imun (AIDS) adalah tahap lanjut dari infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh virus imunodefisiensi manusia (HIV), umumnya retrovirus tipe-1. Virus ini ditularkan melalui hubungan seks anal atau vaginal, dari ibu yang terinfeksi ke anak (transmisi vertikal), dan melalui paparan benda-benda terkontaminasi atau produk darah. Setelah terinfeksi, virus menyerang sel CD4+ dan melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia setelah 8 hingga 10 tahun tanpa perawatan medis. Sejak munculnya epidemi pada tahun 1980-an, HIV/AIDS terus menjadi ancaman bagi kesehatan publik dan prospek sosial-ekonomi, baik di negara maju maupun berkembang, dengan sekitar 40,1 juta kematian dari 84,2 juta orang yang terinfeksi hingga saat ini. Baru-baru ini, UNAIDS memperkirakan bahwa sekitar 38,4 juta orang hidup dengan virus tersebut, dan 1,5 juta orang baru terinfeksi pada tahun 2021, dua per tiga di antaranya berasal dari wilayah Afrika. Yang lebih mengkhawatirkan, penyakit ini juga menjangkiti anak-anak, dengan 1,7 juta anak terinfeksi dan 98.000 anak dilaporkan meninggal dunia pada tahun yang sama. Sangat memprihatinkan bahwa epidemi HIV masih jauh dari selesai karena hingga saat ini belum ada obat medis atau vaksin pencegahan HIV; dan data menunjukkan bahwa kesadaran tetap rendah, dengan 5,9 juta orang belum menyadari bahwa mereka positif HIV. Oleh karena itu, sangat mendesak untuk mencegah situasi ini, sehingga diperlukan penelitian berkelanjutan tentang pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS untuk membantu mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNSDG) dalam mengakhiri epidemi HIV/AIDS pada tahun 2030.

Hingga saat ini, penggunaan kondom, obat antiretroviral (ARV), abstinensi, setia pada satu pasangan, tes HIV, dan konseling merupakan tindakan pencegahan dan terapi yang paling umum digunakan untuk menekan penyebaran HIV. Meskipun kontrol ini telah berhasil mengendalikan penyakit, cakupannya masih terbatas di beberapa negara saja. Penggunaan kondom secara rutin sering terkendala oleh mitos, stigma, dan keinginan untuk memiliki anak, yang merupakan masalah sosial mendasar di Afrika. Karena itu, sangat penting mencari alternatif untuk memblokir penularan HIV.

Obat antiretroviral memiliki efikasi sebesar 96% dalam menekan viral load hingga hampir nol pada darah pasien HIV. Secara global, pada tahun 2021, 28,7 juta orang dengan HIV (75%) telah mengakses ART, sementara 9,7 juta orang masih menunggu perawatan menurut laporan pemerintah Amerika Serikat. Pemberian obat antiretroviral memberikan dampak besar, termasuk penurunan tajam kematian terkait AIDS secara global sejak 2015, dari perkiraan 1,1 juta pada 2015 menjadi 650.000 pada 2021. Namun, akses dini terhadap pengobatan HIV menjadi kunci dalam upaya global untuk mengakhiri epidemi AIDS. Tantangan utama dalam terapi ART adalah ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat secara rutin setiap hari, yang berakibat pada penyalahgunaan proses pengobatan. Selain itu, sebagaimana dicatat dalam laporan UNAIDS, banyaknya pasien HIV yang menunggu pengobatan menjadi masalah bagi endemisitas penyakit dan menghambat efektivitas regimen pengobatan karena keterlambatan pemberian obat. Oleh karena itu, berbeda dengan penelitian sebelumnya, artikel ini mengasumsikan bahwa pengobatan pasien HIV mengikuti fungsi jenuh tipe-Holling II.

Keterbatasan penggunaan kondom dan ART memerlukan inklusi mikrobisida vagina. Mikrobisida vagina adalah senyawa kimia yang dapat diaplikasikan secara topikal di dalam vagina atau rektum untuk mencegah atau mengurangi penularan HIV dan IMS lainnya. Lebih dari 60 kandidat mikrobisida vagina telah diformulasikan dalam bentuk gel, krim, film, atau supositoria. Mikrobisida ini menjadi alternatif perlindungan bagi perempuan yang pasangannya enggan menggunakan kondom. Dengan kondisi epidemi HIV saat ini, tidak ada satu strategi pengendalian pun yang sepenuhnya mampu mencegah risiko infeksi. Oleh karena itu, dalam artikel ini mempertimbangkan pendekatan multifaset yang mencakup penggunaan kondom, ART, dan mikrobisida vagina.

Model matematika untuk penyakit epidemi berperan penting dalam membuat prediksi untuk membantu sektor kesehatan masyarakat dalam perencanaan yang optimal. Beragam model epidemi telah dikembangkan untuk pengendalian berbagai penyakit, termasuk HIV/AIDS. Mukandavire et al. merumuskan model HIV/AIDS untuk menilai dampak homoseksual dan biseksual pada dinamika penyakit dalam lingkungan heteroseksual, di mana isu-isu homoseksual dan biseksual dianggap tabu. Malunguza et al. kemudian memperluas model HIV Mukandavire et al. dengan menggabungkan penggunaan kondom dan terapi antiretroviral dalam mengendalikan HIV di kalangan heteroseksual, homoseksual, dan biseksual. Temuan studi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kondom yang efektif bersama dengan pengobatan dapat membantu mengurangi infeksi sekunder dan memperlambat epidemi. Lebih lanjut, penelitian terbaru telah mengungkap interaksi bersama antara HIV dan penyakit lain serta penerapan strategi kontrol optimal dalam memerangi HIV/AIDS.

Berdasarkan uraian di atas, kami belum menemukan penelitian matematika yang mengoptimalkan tiga strategi kontrol (kondom, ART, dan mikrobisida vagina) dengan mempertimbangkan fungsi jenuh pada pengobatan dan populasi HIV+ yang menunggu ART. Dengan demikian, penelitian ini mengembangkan model nonlinear untuk menilai dampak dari ketiga kontrol tersebut dengan memasukkan faktor keterlambatan ART. Faktor keterlambatan ART dan tiga kontrol (kondom, ART, dan mikrobisida vagina) dalam model HIV/AIDS adalah fitur unik yang mendefinisikan kebaruan penelitian ini. Kami berharap penelitian ini dapat berkontribusi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dalam mengakhiri epidemi HIV pada tahun 2030.

Penulis: Cicik Alfiniyah, M.Si., Ph.D

Link:

Baca juga: Tuberkulosis Testis pada Pasien HIV/AIDS Menyerupai Massa Testis

AKSES CEPAT