Di zaman kontemporer ini, konsep feminisme semakin berkembang ke seluruh penjuru dunia termasuk di negara-negara yang mengidentifikasi diri mereka sebagai negara konservatif. Feminisme dipahami sebagai gerakan dan ideologi sosial-politik yang berpusat pada perempuan, yang mengadvokasi kesetaraan gender dalam hal peluang masyarakat dan sumber daya yang terbatas. Feminisme didefinisikan sebagai mobilisasi yang bertujuan untuk menentang dan mengubah status subordinat perempuan terhadap laki-laki. Hal ini menjadi menarik terutama di negara-negara konservatif dengan nilai-nilai kultur dan agama yang kuat yang cenderung bersifat patriarki.
Menariknya, dengan perkembangan arus informasi, advokasi dan penyebaran paham feminisme berkembang ke negara berkembang dan konservatif. Sehingga banyak yang mengidentifikasi diri sebagai seorang feminis dan tidak menutup juga laki-laki ikut menyuarakan dan mengidentifikasi diri mereka sebagai feminis. Individu yang melabeli mereka sebagai feminis vokal dalam menyurakan kesetaraan gender baik di rumah, tatanan sosial, ekonomi, dan politik. Namun, menggabungkan laki-laki ke dalam gerakan dipandang sebagai peningkatan tindakan kolektif dalam feminisme dan menantang norma-norma gender yang berbahaya. Menariknya, studi tentang laki-laki feminis sering meneliti perilaku seksual mereka terhadap pasangan mereka, terutama mereka yang mengidentifikasi diri sebagai feminis tetapi berhubungan seks dengan perempuan.
Penelitian menunjukkan bahwa pria feminis lebih sering melakukan aktivitas seksual yang mengutamakan kenikmatan wanita, seperti seks oral dan belaian payudara, dibandingkan pria non-feminis, namun hal ini tidak berarti bahwa pria feminis tidak melakukan hubungan intim intra-vaginal. Ini mengindikasikan bahwa pria feminis mengutamakan kenikmatan pasangannya dibandingkan kenikmatan dirinya sendiri. Tentu hal ini menjadi salah satu pertanyaan besar terutama laki-laki feminis di negara konservatif seperti Indonesia.
Perilaku seksual adalah salah satu parameter yang penting dalam menunjang kesehatan seksual dan reproduktif manusia. Mengingat perilaku akan memengaruhi keputusan-keputusan dan tindakan manusia terutama dalam aktivitas seksual. Berusaha mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan ini, serta menggali informasi berapa banyak sebenarnya paham ini sudah dianut oleh individu. Kami melakukan studi untuk menggali lebih dalam akan paham ini di kalangan laki-laki Indonesia.
Survey dilakukan secara online dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan terkait perilaku seksual termasuk fantasi, perilaku seksual dengan pasangan, dan juga perilaku seksual soliter seperti kebiasaan masturbasi dan konsumsi video porno. Survey ini menunjukkan beberapa hasil yang signifikan dan menarik terkait perilaku seksual pria feminis.
Studi ini melaporkan bahwa meskipun ada beberapa perilaku acuh tak acuh, ternyata mereka yang mengaku pria feminis cenderung memastikan kepuasan pasangan wanitanya sebagai bentuk penghormatan terhadap pasangannya di dalam aktifitas seksual. Beberapa perilaku seksual yang secara signifikan berbeda antara pria feminis heteroseksual dan pria non-feminis selalu dimulai dengan durasi foreplay, mereka cenderung menanyakan posisi yang disukai pasanganya, dan di akhir mereka cenderung menanyakan apakah pasangannya puas atau tidak dengan aktivitas seksual mereka.
Studi ini menyiratkan bahwa pria feminis heteroseksual menunjukkan rasa hormat yang luar biasa terhadap wanita dan dapat berkontribusi pada hubungan yang lebih adil dan memuaskan, menumbuhkan rasa saling menghormati dan hubungan emosional yang lebih mendalam. Tentu hasil yang signifikan ini mungkin bisa menjadi pertanda bahwa aktivitas seksual pasangan feminis menunjukkan kepuasan dan kesehatan psikologis dan seksual yang lebih dibandingkan yang bukan, namun perlu studi lebih lanjut akan ini dan lebih baik dalam pendekatan diadik.
Penulis: Cennikon Pakpahan
Sumber: Pakpahan, C.; Parmanto, C.M.; Amanda, B.; Nguyen, A.; Rezano, A. Identification of Sexual Behaviour of Feminist Men Who Have Sex with Woman in Indonesia. Societies 2025,15,64. https://doi.org/ 10.3390/soc15030064





