UNAIR NEWS “ Atmosfer spiritual pada bulan Ramadan mendorong umat muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah. Masjid Ulul ‘Azmi UNAIR hadir sebagai sarana pendukung dengan rutin menggelar kajian selama bulan Ramadan. Kajian pada Selasa (19/3/2024) mengundang Ustadz Abu Farras MSi Stats yang mengupas kunci beribadah secara mendalam. Kajian tersebut dilaksanakan secara hybrid di Aula Masjid Ulul ‘Azmi Kampus MERR-C UNAIR dan ditayangkan secara langsung melalui .
Pada kajian tersebut, Ustadz Farras menekankan bahwa beribadah kepada Allah SWT adalah ketentuan yang telah ditetapkan bagi umat muslim. Ketentuan tersebut sesuai dengan Surat Al Baqarah ayat 21 yang berisi perintah Allah kepada seluruh umat-Nya untuk senantiasa beribadah dan menyembah hanya kepada-Nya. Oleh karena itu, pembahasan terkait ibadah menjadi salah satu kajian yang sangat penting untuk dipahami.
Syarat Diterimanya Ibadah
Ustadz Farras memaparkan bahwa terdapat dua syarat diterimanya ibadah, yaitu ikhlas dan ittiba’. Ibadah hendaknya dilakukan secara ikhlas karena Allah semata tanpa mengharapkan imbalan atau pujian dari orang lain. Sedangkan ittiba‘ berarti bahwa ibadah dilakukan sesuai dalil dan mengikuti ajaran Rasulullah.
Ibadah yang tidak sesuai dengan ketentuan Allah ataupun tidak mengikuti ajaran Rasulullah disebut sebagai bid’ah. Umat muslim semestinya menghindari bid’ah tercela yang tidak tauqifiyah atau memiliki dalil shahih. Namun, hingga saat ini masih terdapat umat muslim yang tetap mengamalkannya.
Meskipun demikian, Ustadz Farras menjelaskan bahwa adanya perbedaan dalam tata cara beribadah tidak selalu dianggap sebagai bid’ah. “Shalat tarawih boleh dilaksanakan 11 atau 23 rakaat. Keduanya bukan bid’ah karena masing-masing mempunyai dalil berupa hadits yang shahih.”
Adapun penyebab utama kelalaian umat muslim dalam membedakan ibadah ajaran Rasulullah dan bid’ah adalah karena ketidakpahaman terhadap dalil dengan benar. Hendaknya, umat muslim menjalani ibadah sesuai dalil yang kuat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap hadits shahih dan dhaif menjadi ilmu yang sangat penting.
Pentingnya Keseimbangan dalam Beribadah
Ustadz Farras melanjutkan bahwa ibadah tergolong menjadi dua, yaitu yang bersifat umum dan khusus. Ibadah bersifat umum antara lain adalah kuliah, bekerja, belajar, dan seluruh aktivitas yang dilakukan dalam rangka mencari ridha Allah. Sedangkan ibadah yang bersifat khusus meliputi shalat, puasa, zakat, membaca Al Quran, dan ibadah-ibadah yang berkaitan langsung kepada-Nya.
Selain itu, berdasarkan hubungannya, ibadah dapat dibedakan menjadi dua pula, yaitu ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah dan ibadah yang berhubungan dengan sesama manusia. Ustadz Farras menekankan bahwa keduanya harus seimbang.
“‘Maka celakalah orang yang shalat’, artinya bukan orang yang sedang shalat itu kena celaka. Melainkan, celakalah orang yang hanya shalat, shalat, shalat terus hingga lupa terhadap sesama,” jelas Ustadz Farras.
Ustadz Farras kemudian melanjutkan dengan paparan hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda terkait sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, sebagai umat muslim, senantiasalah untuk berbuat baik dan saling tolong-menolong terhadap sesama.
Penulis: Elsa Hertria Putri
Editor: Khefti Al Mawalia





