Reformasi sistem perpustakaan digital telah menjadi perhatian utama dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang inklusif bagi semua individu. Perpustakaan digital diharapkan dapat melayani beragam pengguna, termasuk pengguna dengan kebutuhan khusus, melalui implementasi aksesibilitas.
Sejumlah masalah aksesibilitas yang umum terjadi pada sistem perpustakaan digital, adalah deskripsi perpustakaan yang tidak lengkap, navigasi yang rumit, kontras yang rendah antara teks dan latar belakang, serta bahasa yang tidak ditentukan. Masalah- masalah ini menghambat penggunaan perpustakaan digital, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan visual.
Aksesibilitas Perpustakaan Digital
Penelitian ini bertujuan meningkatkan aksesibilitas sistem perpustakaan digital dengan metode design thinking. Studi kasus dalam penelitian ini adalah perpustakaan 51动漫. Tahapan design thinking yang diimplementasikan terdiri dari emphatize, define, ideate, prototyping, dan testing. Pengumpulan data melalui kuesioner dan wawancara dilakukan pada tahap emphatize untuk menganalisis kebutuhan pengguna.
Selanjutnya, tingkat kepatuhan WCAG 2.9 website perpustakaan digital 51动漫 dievaluasi dengan tools WAVE, Axe DevTools, dan Achecker. Konstruksi definisi user檚 needs dan user persona dibuat pada tahap define. Tahap ketiga, ideation, fokus pada menyusun solusi dari beragam perspektif, yaitu sosial, teknis, dan budaya. Tahap keempat menyeleksi solusi terbaik untuk membangun prototipe sistem perpustakana digital baru berdasarkan analisis kebutuhan pengguna. Tahap testing mengevaluasi aksesibilitas hasil sistem baru dengan mengadopsi metriks happiness dan task success metrics dari kerangka kerja Heart Google.
Hasil Penilaian Aksesibilitas
Hasil penilaian sistem perpustakaan digital yang digunakan saat ini berdasarkan WCAG 2.0 menunjukkan terdapat 141 permasalahan aksesibilitas, seperti link menggantung atau merujuk pada halaman perbaikan, keterangan label kosong, kontras yang tidak tepat antara teks dan warna latar belakang, dan tombol yang tidak berfungsi. Tahap define menghasilkan daftar kebutuhan aksesibilitas pengguna dan user persona.
Daftar kebutuhan yang mendukung aksesibilitas meliputi revisi deskripsi website di halaman utama, perancangan ulang menu navigasi, revisi struktur informasi dan tata letak, perbaikan pada atribut teks, koreksi low contrast, dan penambahan bahasa Inggris. User persona yang dihasilkan meliputi profil mahasiswa sarjana, mahasiswa sarjana dengan buta warna, mahasiswa pascasarrjana dari luar negeri, dan dosen.
Tiap profil persona terdiri dari deskripsi persona, tujuan menggunakan web perpustakaan Unair, dan permasalahan yang dihadapi ketika menggunakan web perpustakaan tersebut. Fase ketiga dan keempat menghasilkan solusi prototipe web perpustakaan berdasarkan daftar kebutuhan yang telah ditetapkan di fase define. Fase keempat, pengujian, mengadopsi teknik evaluasi happiness dan task success berdasarkan kerangka kerja HEART.
Hasil Evaluasi
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan skor happiness pada prototipe perpustakaan baru menjadi 4.63 (dari skala 5), dari skor 3 untuk web perpustakaan saat ini. Untuk task success, rerata tingkat kesuksesan responden menyelesaikan task penggunaan web perpustakaan adalah 92.86%. Pengujian ketiga adalah memeriksa tingkat pemenuhan aksesibilitas pada web perpustakaan menggunakan tools WAVE, AxeDev Tools, dan AChecker. Hasilnnya, terdapat perbaikan signifikan dari 141 isu aksesibilitas di web saat ini menjadi 10 isu aksesibilitas di versi prototipe web yang baru.
Pendekatan design thinking memfasilitasi analisis kebutuhan pengguna yang lebih komprehensif dan pengembangan sistem dengan memperhatikan aksesibilitas. Hasil penelitian berkontribusi pada penerapan metode design thinking dan kerangka kerja HEART untuk memperbaiki aksesibilitas wes perpustakaan, penetapan kebutuhan pengguna dan user persona untuk sistem perpustakaan digital, dan pengembangan prototipe berdasarkan standar WCAG 2.0.
Pengembangan sistem perpustakaan digital dengan memperhatikan aksesibilitas bagi pengguna yang beragam, mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua.
Penulis: Ira Puspitasari, S.T., M.T., Ph.D.
Judul artikel: Improving the web accessibility of a university digital library: A design thinking approach,





