UNAIR NEWS – Menjalani ibadah puasa di negeri orang tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Pengalaman itu juga Nauval Syahferi rasakan, mahasiswa Program Studi Teknologi Sains Data Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin () 51¶¯Âþ (UNAIR) angkatan 2022. Ia turut menjalani Ramadan saat menempuh studi di Korea Selatan melalui program pertukaran pelajar UNAIR Student Outbound Mobility “ EQUITY yang difasilitasi oleh Airlangga Global Engagement (AGE).
Dalam program tersebut, Nauval menjalani studi selama satu semester penuh di Jeonbuk National University yang berlokasi di Jeonju. Ia mengikuti beberapa mata kuliah, seperti Korean for Foreigners Beginner dan Reading Contemporary Korean Society through Technology.
Menjalani Ramadan sebagai Minoritas
Ia mengungkapkan rasa syukur karena tetap dapat merasakan suasana Ramadan meski berada jauh dari Indonesia. Salah satu yang membuat suasana Ramadan tetap terasa ialah keberadaan masjid Korea Islamic Centre Association Jeonju yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari kampus.
œDi sana kami melaksanakan berbagai ibadah selama Ramadan, mulai dari salat tarawih, salat Jumat, hingga buka puasa bersama. Rasanya hangat karena bisa bertemu saudara sesama muslim dari berbagai negara dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, ujarnya.

Menurut Nauval, keberagaman jamaah muslim di sana juga menghadirkan pengalaman unik. Ia bahkan mendengar khutbah dengan berbagai bahasa, seperti Inggris, Korea, Arab, hingga Turki, yang menambah kesan mendalam selama menjalani Ramadan di Korea Selatan.
Tantangan Menjalani Puasa
Meski tetap dapat menjalani ibadah dengan baik, Nauval mengakui terdapat sejumlah tantangan selama menjalani puasa di Korea Selatan. Salah satu tantangan utama berkaitan dengan ketersediaan makanan halal.Sebagai mahasiswa muslim, ia harus lebih selektif saat memilih makanan, baik untuk sahur maupun berbuka. Biasanya Nauval menyiapkan sahur dengan nasi instan yang mudah dipanaskan, lalu melengkapinya dengan berbagai lauk sederhana seperti rumput laut atau camilan berbahan ikan.
Selain itu, jarak antara asrama dan kampus juga memengaruhi aktivitas ibadahnya. Ia harus berjalan sekitar 15 hingga 20 menit dari dormitory menuju gedung kampus. Kondisi tersebut membuatnya harus mengatur waktu dengan baik agar tetap dapat menunaikan salat tepat waktu di tengah jadwal perkuliahan.
Pengalaman Berharga untuk Masa Depan
Bagi Nauval, program pertukaran ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik, tetapi juga memperluas perspektif hidupnya. Ia merasakan langsung berbagai budaya baru, mulai dari budaya pendidikan, kehidupan masyarakat, hingga kondisi alam yang berbeda dengan Indonesia.Menurutnya, pengalaman belajar bersama mahasiswa internasional menjadi salah satu hal yang paling memotivasi dirinya.
œAku bertemu teman-teman dari China, Uzbekistan, hingga Ukraina. Aku melihat langsung bagaimana etos belajar mereka yang sangat kuat dalam hal akademik, dan itu membuatku semakin termotivasi untuk belajar lebih serius, ungkapnya.
Pengalaman tersebut juga memperkuat rencana masa depannya. Nauval mengaku memiliki keinginan untuk melanjutkan studi di Korea Selatan. Ia percaya pengalaman exchange yang ia jalani saat ini dapat menjadi bekal penting untuk langkah akademik berikutnya.
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Yulia Rohmawati





