Masa transisi dari sekolah ke perguruan tinggi sering menjadi fase paling mengagetkan bagi mahasiswa baru. Banyak mahasiswa baru mengalami kesulitan memahami sistem akademik, ritme perkuliahan, hingga budaya belajar mandiri. Program mentoring lintas angkatan yang mempertemukan mahasiswa senior dengan junior menjadi salah satu strategi pendampingan yang banyak digunakan perguruan tinggi.
Sebuah studi pada universitas di Surabaya menunjukkan bahwa 64% mahasiswa menilai program mentoring lintas angkatan membantu mahasiswa beradaptasi secara akademik dan sosial. Penelitian tersebut menggunakan survei kuantitatif terhadap 100 mahasiswa dari beberapa angkatan. Persepsi diukur melalui kuesioner dengan indikator yang jelas yaitu: kualitas dukungan mentor, relevansi materi, bantuan akademik, kesiapan ujian, kepercayaan diri, hingga kemampuan manajemen waktu. Instrumen yang digunakan telah lolos uji validitas dan reliabilitas, sehingga hasilnya cukup kuat secara metodologis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa (64%) memiliki persepsi positif terhadap program mentoring. Mahasiswa merasa lebih siap secara akademik, lebih percaya diri, dan lebih terhubung secara sosial. Artinya, secara umum mentoring lintas angkatan berfungsi sebagai jembatan adaptasi di awal masa kuliah. Namun, data juga menunjukkan variasi penting antar angkatan. Mahasiswa angkatan paling senior dalam studi tersebut menunjukkan tingkat persepsi positif tertinggi (76.9%). Sebaliknya, angkatan paling baru hanya sekitar 30.8% yang memberi penilaian positif.
Mengapa bisa demikian? Mahasiswa senior umumnya sudah memahami ritme akademik dan pernah merasakan manfaat mentoring, bahkan mungkin pernah menjadi mentor. Mahasiswa senior dapat melihat nilai program secara lebih utuh. Sedangkan mahasiswa baru masih berada pada fase kebingungan awal. Jika materi mentoring tidak langsung menjawab kebutuhan paling mendesak misalnya terkait tugas pertama, sistem penilaian, atau beban studi maka program bisa terasa kurang relevan.
Menariknya, faktor gender tidak menunjukkan perbedaan berarti. Persepsi mahasiswa laki-laki dan perempuan relatif sama. Begitu juga jika dibandingkan antara mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta tidak ada perbedaan signifikan. Ini menunjukkan bahwa efektivitas mentoring lebih ditentukan oleh desain dan pelaksanaan program, bukan oleh latar belakang demografis mahasiswa.
Studi-studi lain yang dirujuk dalam artikel juga menunjukkan pola sejalan: mentoring sebaya yang terstruktur dapat meningkatkan performa akademik, kesejahteraan emosional, dan menurunkan risiko putus studi. Namun kuncinya ada pada kualitas mentor, konsistensi pertemuan, dan relevansi isi pendampingan. Kesimpulannya, program mentoring lintas angkatan terbukti memberi manfaat nyata bagi adaptasi mahasiswa terutama dalam kesiapan akademik dan rasa percaya diri. Namun dampaknya tidak otomatis merata untuk semua angkatan. Program perlu disesuaikan dengan kebutuhan spesifik mahasiswa baru, diperkuat melalui pelatihan mentor, dan dibuat lebih kontekstual. Dengan desain yang tepat, peran kakak tingkat bukan hanya pendamping, tetapi akselerator keberhasilan adaptasi di dunia kampus.
Penulis: Marisa Rifada, S.Si., M.Si.
Referensi Artikel Jurnal:
Analysis of Students Perceptions of Cross-Year Mentoring Programs in Universities in Surabaya, Indonesia. International Journal of Academic and Applied Research (IJAAR), Vol. 10, Issue 1, 2026, pp. 93-99.
Link artikel : http://ijeais.org/wp-content/uploads/2026/1/IJAAR260110.pdf





