Gempa bumi tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menjadi pengingat akan betapa kompleksnya tatanan geologi di wilayah Indonesia. Salah satu wilayah dengan dinamika tektonik yang sangat aktif adalah Sulawesi Tengah, yang pada tahun 2021 mengalami rangkaian gempa bumi yang membuka tabir baru tentang keberadaan sesar yang sebelumnya tidak teridentifikasi. Dalam penelitian terbaru, para ahli geofisika mengungkap perpanjangan barat Sesar Balantak yang memunculkan wacana baru tentang bahaya seismik di kawasan ini.
Gempa berkekuatan Mw 6.2 yang mengguncang lengan tengah Sulawesi pada 26 Juli 2021 menjadi titik awal penemuan ini. Gempa tersebut, yang diikuti oleh gempa susulan signifikan berkekuatan Mw 5.8 sebulan kemudian, memberikan data berharga tentang pola pergerakan sesar di kawasan tersebut. Studi ini menggunakan teknik relokasi hiposenter yang lebih presisi serta analisis mekanisme fokus untuk mengungkap karakteristik sesar yang bertanggung jawab atas gempa tersebut.
Penelitian ini menunjukkan bahwa gempa Mw 6.2 terjadi pada Sesar Balantak Tengah dengan mekanisme patahan normal, sedangkan gempa Mw 5.8 yang terjadi di baratnya memiliki mekanisme patahan geser dekstral. Temuan ini mengindikasikan keberadaan sistem sesar kompleks yang melibatkan perpanjangan barat dari Sesar Balantak yang belum terpetakan sebelumnya, kini dinamakan Sesar Balantak Barat. Dengan menggunakan model kecepatan gelombang seismik terkini, para peneliti mampu memetakan lokasi gempa secara lebih akurat, yang memperlihatkan dua kluster aktivitas seismik yang terpisah namun saling berkaitan.
Penelitian ini juga menyoroti bagaimana gempa utama Mw 6.2 dapat memicu gempa berikutnya melalui transfer tekanan statis. Mekanisme ini memperlihatkan bagaimana energi gempa dapat memengaruhi wilayah di sekitarnya, menciptakan tekanan tambahan yang cukup untuk memicu pergerakan patahan lain. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana sistem sesar di Sulawesi Tengah bekerja secara interaktif, menambah kompleksitas dalam memahami bahaya seismik di wilayah tersebut.
Selain itu, analisis tekanan Coulomb menunjukkan pola peningkatan tekanan di sekitar lokasi gempa susulan Mw 5.8, mendukung hipotesis bahwa gempa tersebut merupakan akibat langsung dari aktivitas pada Sesar Balantak Tengah. Hasil ini menekankan pentingnya memahami pola transfer energi di antara sistem sesar yang saling berdekatan, terutama di kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi seperti Sulawesi Tengah.
Penemuan Sesar Balantak Barat memberikan implikasi besar terhadap mitigasi bahaya gempa di Sulawesi. Dengan adanya sesar baru yang berpotensi aktif ini, analisis risiko seismik di wilayah tersebut perlu diperbarui untuk mencakup kemungkinan gempa-gempa lain di masa depan. Lebih lanjut, penelitian ini menunjukkan bahwa pemetaan sesar yang lebih rinci diperlukan untuk mengidentifikasi potensi bahaya yang belum terlihat.
Namun, penelitian ini juga mengungkap keterbatasan, seperti kurangnya data batimetri resolusi tinggi dan informasi geologi rinci di kawasan studi. Meskipun demikian, langkah awal ini membuka pintu bagi penelitian lanjutan yang lebih mendalam untuk memahami sistem tektonik di Sulawesi Tengah, termasuk keterkaitannya dengan sistem sesar lain seperti Sesar Palu-Koro yang sudah dikenal.
Kisah gempa Sulawesi Tengah tahun 2021 bukan hanya tentang peristiwa bencana, tetapi juga tentang bagaimana ilmu pengetahuan terus berkembang untuk memahami fenomena alam yang kompleks. Dengan teknologi dan pendekatan baru, para ilmuwan mampu mengungkap fakta-fakta yang sebelumnya tersembunyi di balik lapisan bumi. Sesar Balantak Barat menjadi bukti nyata bahwa masih banyak yang harus kita pelajari tentang dinamika tektonik Indonesia, dan setiap gempa yang terjadi memberikan pelajaran berharga untuk melindungi masyarakat di masa depan.
Penulis: Prof. Hj. Rachmah Ida, Dra., M. Com., Ph.D.
Simanjuntak, A. V. H., Palgunadi, K. H., Supendi, P., et al. (2024). The western extension of the Balantak Fault revealed by the 2021 earthquake cascade in the central arm of Sulawesi, Indonesia. Geoscience Letters, 11(35).





