Sastra Indonesia terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Sebelumnya, pada masa awal kemerdekaan, beberapa karya sastra cenderung menonjolkan tema-tema nasionalis dan semangat perjuangan. Setelah itu, memasuki Angkatan ’66 hingga ’80-an, fokus karya sastra mulai bergeser dengan menyoroti kondisi realitas sosial, kritik terhadap kekuasaan, serta persoalan menyangkut hak asasi manusia. Sementara sebagian karya lainnya masih membawa khas romantiknya, hingga puncak dari perubahan signifikan ditandai pada awal tahun 2000-an. Saat itu, muncul arah baru dalam dunia sastra yang turut menjadi pijakan penting bagi perkembangan sastra hingga hari ini.
Karya-karya yang terbit tahun 2000-an, mulai berani mengangkat tema-tema yang sebelumnya dianggap tabu dalam perbincangan sosial, seperti seksualitas, tubuh, kekerasan dalam rumah tangga, hingga trauma masa kecil. Tema-tema tersebut ditulis secara terbuka, terutama oleh para penulis Indonesia perempuan. Masa itu juga dikenal sebagai sastra Indonesia mutakhir, yang turut memunculkan istilah Sastra Wangi. Istilah yang pertama kali diciptakan oleh kalangan sastrawan sebagai respons terhadap gelombang karya yang ditulis para penulis perempuan muda tentang isu yang dinilai tabu bagi pandangan konservatif.
Label sastra wangi tentu saja membuat risih banyak sastrawan perempuan sebab terkesan menggiring perhatian bukan pada isi atau kualitas karya, melainkan pada identitas gender mereka. Seolah-olah ekspresi dan eksplorasi dalam dunia sastra harus digolongkan secara terpisah hanya karena mereka perempuan. Padahal, jauh sebelum itu, karya-karya vulgar atau yang memuat unsur seksualitas telah beredar luas dan ditulis oleh sastrawan laki-laki. Meski cukup problematis, namun sematan label itu malahan memberi warna baru. Para penulis seperti Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, hingga Dewi Lestari hadir dengan gaya penulisan yang berani, jujur, sekaligus terbuka, terutama dalam menyuarakan pengalaman hidup perempuan yang selama ini sering disembunyikan.
Salah satu karya cukup terkenal dari gelombang tahun 2000-an adalah cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu. Cerpen tersebut berhasil mengangkat cerita tentang seorang perempuan yang sejak kecil mengalami pelecehan seksual dari orang terdekatnya. Ia tidak diberi nama, dan penggambaran kisahnya tidak disusun secara runtut, tetapi ditampilkan dalam bentuk potongan-potongan perasaan dan pengalaman yang campur aduk. Hal ini pun tampak mencerminkan kondisi psikologis tokoh utama yang mengalami trauma berat.
Sejak awal cerita, pembaca seolah dibawa masuk ke dalam pengalaman tokoh utama yang merasa terasing dengan tubuhnya sendiri. Ia merasa bahwa tubuhnya bukan miliknya karena sejak kecil ia diperlakukan sebagai objek oleh orang dewasa. Bahkan ketika ia ingin melawan atau memahami apa yang terjadi, tidak ada orang dewasa yang benar-benar mendengarkan atau percaya padanya. Lebih parah lagi, masyarakat justru menyalahkannya dan memberikan label buruk. Judul cerpen itu sendiri menjadi gambaran nyata dari bentuk penghinaan dan penghakiman yang ia terima.
Cerpen tersebut banyak menggambarkan bagaimana korban kekerasan seksual sering kali merasa bingung, malu, dan takut untuk berbicara. Tokoh utama sering merasa bersalah, meskipun ia sebenarnya adalah korban. Ketika ia tumbuh dewasa, perasaan tidak nyaman terhadap tubuhnya tetap membekas. Dalam beberapa bagian, ia mencoba mengendalikan dirinya, tetapi trauma masa kecil tetap menghantuinya.
Adapun yang membuat cerpen ini terasa kuat adalah keberaniannya dalam menyampaikan realita secara terbuka. Tidak ada penyamaran sebab semua disampaikan sebagaimana adanya: perasaan jijik, takut, bahkan hancur secara batin. Dalam hal ini, Djenar sukses menggambarkan sisi lain dari kehidupan yang jarang diangkat secara jujur dalam karya sastra sebelumnya. Ia tidak hanya bercerita soal kejadian, tetapi juga soal perasaan dan dampak jangka panjang yang dirasakan oleh korban.
Melalui cerpen tersebut, pembaca diajak untuk lebih memahami kenyataan yang sering disembunyikan oleh masyarakat. Pasalnya, pelecehan bisa terjadi di dalam rumah, dilakukan oleh orang dekat, dan korbannya bisa sangat menderita meskipun secara luar terlihat biasa saja. Cerpen itu rupanya menyadarkan bahwa banyak korban kekerasan seksual yang tidak mendapat dukungan, justru dikucilkan dan disalahkan. Cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! menjadi contoh bahwa sastra bisa menjadi ruang untuk menyuarakan hal-hal yang sulit dibicarakan secara langsung. Cerita di dalamnya membuat pembaca tidak hanya melakukan pembacaan, tetapi juga berpikir dan merasakan. Dalam perkembangan sastra Indonesia, karya-karya seperti ini menunjukkan bahwa sastra bisa menjadi tempat untuk menyampaikan kebenaran dan membuka mata terhadap realitas sosial yang selama ini terabaikan.
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia 51 tahun Angkatan 2023





