Sereh wangi (Cymbopogon nardus L) adalah tanaman penghasil minyak atsiri yang digunakan sebagai komoditas ekspor untuk setiap negara. Kualitas minyak atsiri dipengaruhi oleh kualitas daun yang sehat. Tanaman ini sangat toleran terhadap stres dan dapat bertahan hidup di berbagai kondisi iklim edafik yang berlaku di daerah tropis dan sub-tropis di Asia, Afrika dan Amerika. Sama seperti halnya mahluk hidup lainnya, tanaman inipun rentan terserang hama penyakit, diantaranya adalah penyakit bercak daun yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Karena daun merupakan organ tempat terjadinya proses fotosintesis, maka keberadaan penyakit di daun bisa mengganggu proses fisiologis tersebut. Hal ini dikenal dengan bentuk patogenitas pada tanaman.
Penyakit bercak daun dapat disebabkan salah satunya oleh cendawan Curvularia andropogonis. Dalam proses patogenesis, proses interaksi patogen dengan tanaman diawali dengan penetrasi atau penyusupan virus atau cendawan (jamur) ke dalam sel tanaman. Setelah penetrasi dinding sel, cendawan membentuk haustorium yang berfungsi untuk menyerap nutrisi yang diperlukan dari jaringan inang untuk pertumbuhan dan perkembangan patogen untuk menghasilkan konidia, yang berakibat terjadinya infeksi pada tanaman. Setelah infeksi, patogen melanjutkan proses menuju tahap invasi. Pada tahap ini, patogen melakukan pertahanan dengan mengeluarkan metabolit toksik yang dapat menekan pertahanan pada tanaman dan perkembangan gejala penyakit dengan mengeluarkan pathogen related molecular pattern (PAMP) untuk meningkatkan resistensi patogen.
Secara alami tanaman juga memiliki mekanisme pertahanan tubuh seperti halnya manusia. Ketahanan tanaman terhadap patogen dibagi menjadi biokimia dan mekanis. Untuk mempertahankan tanaman dari patogen jamur secara biokimia, tanaman menggunakan strategi kekebalan yang dimulai dengan masuknya patogen. Kemudian, tanaman mengaktifkan jalur sinyal pertahanan yang dimulai dengan penekanan gen yang membentuk protein pertahanan. Respons sinyal pertahanan juga dihasilkan menggunakan jalur pertahanan tanaman yang menghasilkan senyawa yang digunakan untuk menyerang balik invasi tanaman. Senyawa yang dihasilkan dari metabolisme sekunder adalah merupakan faktor utama yang berperan dalam ketahanan tanaman terhadap patogen, dan hal ini dapat digunakan sebagai acuan untuk membedakan varietas yang tahan dengan varietas yang rentan sehingga komponen dan kandungan metabolit sekunder berkorelasi metabolit sekunder berkorelasi dengan ketahanan tanaman.
Untuk mengetahui peranan senyawa dalam mekanisme pertahanan tubuh tanaman tersebut diperlukan studi yang kita kenal dengan studi metabolomik. Studi metabolomik diperlukan untuk menganalisis beberapa respon tanaman akibat cekaman biotik dan abiotik. Salah satu contohnya metabolomik digunakan untuk analisis ketahanan padi terhadap Infeksi hama wereng batang coklat (WBC). Tanaman tahan terhadap hama wereng batang coklat setelah infeksi hama mengandung flavonoid, luteolin, fenilpropanoid, dan asam amino b-alanin yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman yang rentan. Terjadi peningkatan kandungan sekunder metabolit sekunder dari poliol dan glikosida yang meningkat secara signifikan untuk mempertahankan stres oksidatif dari tanaman tersebut.
Ketahanan mekanis tanaman dilakukan berdasarkan sifat strukturalnya antara lain adanya dinding sel yang menutupi seluruh bagian permukaan udara tanaman sebagai penghalang masuknya patogen, adanya lapisan lilin yang dapat merangsang pertumbuhan jamur, menginduksi sintesis dan ekskresi enzim-enzim degradatif seperti cutinase pada jamur patogen. Jika patogen memasuki pertahanan secara struktural, maka suatu tanaman bersifat resisten atau rentan, salah satunya dapat dilakukan dengan mengukur persentase luas area penyakit. Ketahanan tanaman dihitung berdasarkan tingkat keparahan penyakit yang diperoleh dari hasil interaksi antara tingkat ketahanan patogen dengan tingkat kerentanan tanaman inang yang tanaman inang yang ditentukan oleh banyak factor.
C. andropogonis adalah cendawan patogen yang dapat mengeluarkan enzim dalam bentuk poliketida dan mensekresikan enzim enzim yang dapat merusak dinding sel inang dan menyebabkan penyakit. Hasil penelitian Solekha et al. (2024) menunjukkan bahwa sereh wangi memiliki kandungan tanin alkaloid, saponin dan flavonoid batang, daun dan akar. Dimana kandungan senyawa metabolit sekunder tersebut ternyata mampu menghambat perkembangan cendawan C. andropogonis. Kandungan senyawa sitronelol dan geraniol sereh wangi menurun secara signifikan pada daun yang terinfeksi C. andropogonis. Hasil metabolit sekunder dari sereh wangi pada perlakuan normal, luka dan infeksi berbeda berbeda nyata. Metabolit pada perlakuan infeksi perlakuan infeksi mengalami peningkatan yang signifikan terutama pada metabolit yang berperan dalam pertahanan tanaman, yaitu asam karboksilat. Jalur metabolisme pada serai wangi yang yang terserang jamur C. andropogonis mengalami peningkatan dan berperan dalam pertahanan, yaitu biosintesis metabolit sekunder dan metabolisme karbohidrat.
Hasil penelitian ini memberikan harapan besar bagi pengembangan usaha mengatasi pathogen cendawan bercak daun pada tanaman produktif dan perlu dikembangkan lebih lanjut.
Penulis: Hery Purnobasuki
Sumber:





