Resistensi insulin merupakan kondisi dimana insulin gagal menekan lipolysis dan Fox01 (yang beran dalam regulasi gluconeogenesis dan glikoneogenesis oleh sinyal insulin), namun mengaktifkan jalur sinyal rapamycin complex-1 (mTORC1). Kegagalan insulin dalam menekan Fox01 menyebabkan peningkatan ekspresi microsomal triglyceride transfer protein (MTTP) dan apoCIII. Akibatnya, terjadi produksi berlebih VLDL disertai penurunan clearance VLDL. Obesitas pada remaja di Indonesia masih menjadi masalah ganda, karena prevalensinya meningkat lebih dari 5-kali dalam waktu 3 tahun, daro 1.4% (2010) menjadi 7.3 (2013). Obesitas pada masa anak-anak dan remaja bersifat menetap, menjadi dewasa obesitas, dan hal ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan penyakit kardiovaskuler, diabetes tipe 2, masalah ortopedik dan kelainan mental.
Obesitas merupakan kejadian inflamasi kronik derajat rendah, yang juga menjadi pathogenesis terjadinya resistensi insulin, dimana jaringan adiposa bertindak sebagai organ endokrin dengan mensekresi sejumlah hormon dan sitokin yang bersifat pro-inflamasi. Resistensi insulin terjadi karena penurunan sensitifitas insulin yang memicu kondisi hyperinsulinemia dan dislipidemia, serta gangguan homeostasis glukosa. Kondisi resistensi insulin terkait erat dengan kondisi sindrom metabolik, yaitu sekumpulan gejala yang menunjukkan terjadinya gangguan kardiometabolik, ditandai dengan adanya hipertensi, obesitas sentral, hiperglikemia, dan dislipidemia.
Adiponektin diekspresikan secara eksklusif di dalam jaringan adiposa, dan dilepaskan ke dalam sistem sirkulasi. Adiponektin bertindak sebagai hormon dan mengurangi respon inflamasi, serta memperbaiki resistensi insulin. Kadarnya diketahui menurun pada penderita obesitas dengan resistensi insulin, karena reseptornya mengalami penurunan regulasi. Dibandingkan laki-laki, perempuan memiliki kadar adiponektin yang lebih tinggi. Karenanya, kadar adiponektin yang rendah menjadi pathogenesis atherosklerosis dan MetS. Adiponektin dikenal sebagai agen sensitisasi insulin dengan menstimulasi oksidasi asam lemak, dan meningkatkan ekspresi molekul yang terlibat dalam transportasi asam lemak (CD36), acetyl coenzyme A oxidase dan meningkatkan uncoupling protein (UCP-2), sehingga menurunkan energi dan kadar trigliserida.
Homeostasis model assessment of insulin resistance (HOMA-IR) sudah banyak digunakan sebagai penanda terjadinya resistensi insulin, dan berkorelasi dengan pengukuran clamp. Penggunaannya sangat bermanfaat dalam deteksi insulin resisten untuk penelitian epidemiologis. Kombinasi HOMA dan adiponektin, dikenal sebagai HOMA-AD, dapat digunakan sebagai pendeteksi resistensi insulin di populasi dewasa di Jepang. Indeks lainnya, disebut metabolic score for insulin resistance or METS-IR, selain dapat mendeteksi resistensi insulin, juga dapat memprediksi adiposit visceral. Namun saat ini, tidak ada data penggunaan HOMA-AD dan METS-IR pada kelompok etnis Melayu, terutama Indonesia. Baik HOMA-AD dan METS-IR telah digunakan di beberapa negara: Eropa, jepang dan India. Patut diketahui, ras-ras di atas memiliki perbedaan konsumsi makanan. Diet tinggi karbohidrat (indeks glikemik tinggi) seperti nasi, mempengaruhi penyimpanan lemak atau jaringan adiposa. Penduduk Eropa, kebanyakan mengkonsumsi roti yang merupakan makanan berbahan dasar gandum. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi obesitas berhubungan positif dengan konsumsi gandum, namun berkorelasi negatif dengan konsumsi nasi. Jepang, India dan ras Melayu mengkonsumi nasi sebagai makanan pokoknya, namun terdapat banyak variasi genetik pada kandungan indeks glikemik nasi yang secara langsung mempengaruhi metabolsime glukosa.
Penelitian potong lintang yang melibatkan 250 remaja obesitas di Surabaya dan Sidoarjo menunjukkan METS-IR berkorelasi dengan profil lipid dan tekanan darah, sementara HOMA-AD berkorelasi dengan trigliserida, HDL-c dan tekanan darah sistole. Untuk menentukan terjadinya MetS, nilai cut-off METS-IR adalah ≥ 46.53 (sensitifitas 64.24% dan spesifisitas of 75.76%), sementara untuk HOMA-AD, nilai cut-off ≥ 0.43 (sensitifitas 71.52% dan spesifisitas 59.60%). Untuk menentukan resistensi insulin, nilai cut-off METS-IR adalah ≥ 52.01 (sensitifisitas 83.44% dan spesifisitas 44.44%), sementara untuk HOMA-AD, nilai cut-off ≥ 0.37 (sensitifisitas of 74.17% dan spesifisitas of 84.85%) dapat digunakan dalam menentukan resistensi insulin.
Penulis: Nur Aisiyah Widjaja
Jurnal:





