Fibroid uterus, yang juga dikenal sebagai leiomioma atau mioma uteri (selanjutnya disebut ‘mioma’), merupakan tumor jinak pada otot rahim. Fibroid ini sangat umum di kalangan wanita usia reproduksi dan memiliki dampak klinis yang signifikan, terutama selama kehamilan. Walaupun sebagian besar wanita hamil dengan fibroid tidak mengalami gejala atau masalah kehamilan, prevalensi mioma selama kehamilan berkisar antara 1,6% hingga 10,7%. Leiomioma ini bisa meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, termasuk keguguran, perdarahan antepartum, persalinan prematur, ketuban pecah dini, malpresentasi janin, distosia saat persalinan, dan perdarahan pascapersalinan.
Mioma dalam kehamilan merujuk pada pertumbuhan fibroid uterus, yang merupakan pertumbuhan non-kanker di rahim, selama kehamilan. Tumor jinak ini dapat berdampak negatif pada hasil kehamilan, meningkatkan risiko berbagai masalah. Interaksi antara mioma dan kehamilan sangat kompleks, dengan faktor-faktor seperti ukuran, jumlah, dan lokasi fibroid yang menentukan masalah yang mungkin timbul. Meskipun banyak wanita dengan fibroid menjalani kehamilan tanpa masalah, beberapa di antaranya mungkin mengalami komplikasi seperti keguguran, kelahiran prematur, atau kebutuhan untuk operasi Caesar.
Memahami dinamika antara mioma dan kehamilan sangat penting bagi praktisi kesehatan dalam memberikan perawatan dan dukungan terbaik bagi ibu hamil dengan fibroid rahim. Kami melaporkan dua kasus kehamilan dengan mioma uterus yang besar, dimana kedua kasus tersebut dirujuk ke rumah sakit kami untuk mendapatkan perawatan komprehensif bagi ibu dan janin. Salah satu kasus mengalami keguguran berulang, sementara kasus lainnya menghadapi ancaman persalinan prematur berulang.
Prosedur miomektomi yang kami lakukan terbagi menjadi empat langkah utama: pertama, penjepitan arteri uterus; kedua, insisi pada mioma; ketiga, enukleasi mioma; dan keempat, rekonstruksi uterus, sebagaimana terlihat pada Gambar 1. Setelah menjahit sayatan dari operasi Caesar, rahim dikeluarkan pada kedua kasus untuk memudahkan akses ke area operasi.
Pada kasus pertama, mioma terletak di korpus posterior rahim, memerlukan kehati-hatian ekstra untuk menghindari kerusakan pada organ pencernaan. Sementara itu, pada kasus kedua, mioma terletak di korpus anterior, meluas ke bagian bawah rahim, yang mengharuskan penempatan tourniquet lebih rendah dari posisi mioma. Selama proses penjepitan, potensi risiko iskemia jaringan dan pembentukan trombus perlu diperhatikan. Sebagai langkah pencegahan, klem di buka dan ditutup secara berkala setiap beberapa menit. Berdasarkan catatan operasi kami, durasi prosedur untuk masing-masing kasus adalah 60 menit dan 70 menit.
Dalam upaya menyederhanakan proses enukleasi massa mioma, kami mengiris mioma tersebut dengan bentuk lingkaran. Metode sayatan ini tidak hanya memudahkan proses enukleasi tetapi juga membantu dalam memperkirakan jumlah jahitan yang diperlukan saat melakukan rekonstruksi rahim. Enukleasi mioma dapat dilakukan baik dengan sayatan tajam atau dengan menggunakan elektrokauter. Dalam prosedur yang kami terapkan, kami membuat sayatan menggunakan gunting tajam, dengan lengkungan sayatan menghadap ke arah massa dan mengikuti kontur mioma. Proses ini menghasilkan sebuah rongga kosong yang cukup besar di lokasi mioma yang telah dienukleasi, dan ini memerlukan sejumlah jahitan untuk menghindari terbentuknya hematoma.
Telah dilaporkan dua kasus kehamilan dengan mioma yang sangat besar (lebih dari 15 cm) di mana wanita hamil tersebut berhasil menjalani prosedur miomektomi sesar. Mioma intramural yang besar dapat mengganggu kehamilan, dan seringkali meningkatkan risiko keguguran berulang. Namun, dengan perawatan dan manajemen bedah yang tepat, hasil kehamilan yang positif sangat mungkin tercapai.
Dalam kedua kasus ini, obesitas dengan indeks massa tubuh (BMI) lebih dari 30 kg/m虏 mempersulit akurasi ultrasonografi, khususnya dalam mendeteksi cacat prenatal. Pertumbuhan mioma selama kehamilan tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan dan rasa sakit tetapi juga dapat mempengaruhi presentasi janin. Untuk mengatasi hal ini, miomektomi sesar harus direncanakan secara detail, termasuk penggunaan kateter Foley untuk pemutusan sementara arteri uterus, yang bertujuan mengurangi risiko perdarahan dan menghindari kerusakan pada organ atau pembuluh darah yang lebih besar.
Prosedur rekonstruksi uterus dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah pemotongan mioma secara melingkar untuk memudahkan proses enukleasi. Meski terdapat risiko perdarahan, operasi ini berhasil mengendalikan perdarahan hingga sekitar 500 ml. Pasca operasi, oksitosin dan asam traneksamat diberikan untuk mencegah hipotensi dan perdarahan tambahan. Penting untuk dicatat bahwa bayi-bayi dalam kedua kasus ini lahir dalam kondisi sehat, menunjukkan pentingnya manajemen yang hati-hati terhadap mioma besar selama kehamilan.
Penulis: Khanisyah Erza Gumilar
Jurnal: https://www.perinasiajournal.id/index.php/InaJPerinatol/article/view/35





