51动漫

51动漫 Official Website

Mission Impossible-nya Ksatria Airlangga

Ketika saya mengajar mata kuliah Manajemen Strategik tentang matrix pertumbuhan perusahaan yang dikembangkan oleh BCG atau Boston Consulting Group Amerika Serikat, saya mendiskusikan empat kwadran yang dibuat BCG. Empat kwadran itu adalah kwadran Question Mark menjelaskan suatu perusahaan baru yang masuk pada suatu indusri yang sudah maju, Kwadran Star – menjelaskan perusahaan jenis Question Mark yang sudah maju dan menjadi Market Leader, Kwadran Cash Cow – menggambarkan perusahaan jenis Star yang cash flow-nya dipakai untuk membayar berbagai kewajiban perusahaan, dan Kwadran Dog yang menggambarkan suatu perusahaan yang merugi terus walaupun disuntik tambahan modal baru. Keputusan perusahaan jenis ini IN or OUT, artinya diteruskan operasinya meskipun merugi, atau dilikuidasi alias dijual baik ke perusahaan nasional maupun asing.

Dalam setiap studi kasus pelajaran BCG di atas itu saya selalu mengambil contoh kasus perusahaan penerbangan Garuda yang utangnya trilunan, merugi terus meskipun ada suntikan modal baru. Maka saya minta mahasiswa untuk mengeluarkan pendapat mereka atas pertanyaan saya 淪etujukan Saudara kalau Garuda sebagai pembawa bendera kebangsaan Indonesia atau Indonesian National Flag Carrier diteruskan operasinya walaupun kerugiannya minta ampun, atau dijual saja ke asing dari pada membebani negara?. Ada mahasiswa yang menjawab dijual saja Garuda itu karena utangnya banyak, terjadi miss-management atau korupsi sehingga menjadi beban negara. Ada juga banyak di antara mereka yang menjawab bahwa Garuda harus dipertahankan karena Garuda adalah perusahaan yang mencerminkan nasionalisme bangsa yang merupakan National Flag Carrier.

Lalu saya mendapat sebuah buku yang ditulis salah satu tokoh alumni FEB UNAIR angkatan 6 tahunan di bawah saya yaitu Prof (HC. UNS) Dr Drs Prasetio Ak CA SH MHum yang berjudul Garuda Inside Story: Kisah Di balik Restrukturasi Terbesar BUMN Sepanjang Sejarah. Ternyata Cak Pras ini adalah salah satu tokoh penting di Garuda dengan jabatan sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT. Garuda Pesero) Tbk (GIAA) sejak November 2020. Sama dengan saya, Cak Pras yang asli Suroboyo ini punya pendapat kuat seperti para mahasiswa saya di atas yang berpendapat bahwa Garuda harus dipertahankan. Dalam bukunya dia menulis Suara akar rumput mengatakan Garuda Indonesia lebih dari sekadar maskapai kebanggaan, tetapi dipandang sebagai warisan bangsa yang harus dipelihara.

Lalu saya membayangkan perjuangan Prof. (HC) Prasetio ini yang nampaknya sangat sulit dan tidak mungkin dilakukan untuk membangkitkan maskapai pembawa simbol negara ini sehingga misinya misi yang tidak mungkin dijalankan seperti judul film Hollywood Mission Impossible. Kenapa sulit? Ya karena Garuda ini terlilit masalah utang berskala raksasa yang berjumlah Rp 138 triliun dalam catatan paling mutakhir dalam Daftar Piutang Tetap atau DPT.

Garuda menghadapi sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dengan resiko pailit apabila tidak mencapai kesepakatan perdamaian dengan para kreditur yang berjumlah 365. Garuda yang menderita kerugian besar itu bertambah besar ketika ada pandemi Covid-19 lalu disebabkan adanya pembatasan mobilitas global maupun nasional.

Kok mau-maunya Cak Pras ini bergabung ke Garuda yang sebenarnya sudah berstatus 榯echnically bankrupt atau secara teknis dinyatakan bangkrut. Alasannya ada unsur nasionalisme dalam dirinya yang ditulis di bukunya itu. 淪ecara pribadi, saya selalu mengatakan alasan utama bergabung dengan Garuda adalah demi sebuah upaya meninggalkan legacy bagi anak cucu. Ini semacam upaya 榤embayar utang bagi negeri ini yang saya rasakan telah memberikan banyak hal kepada saya sebagai warga negara yang kebetulan memperoileh priviledge menjadi seorang eksekutif profesional dan memperoleh pendidikan yang layak hingga ke jenjang tertinggi.

Tapi memang selain memiliki komitmen yang tinggi demi bangsa, Cak Pras memiliki segudang pengalaman yang luas sebelum bergabung di Garuda, antara lain sebagai banker selama lebih dari 20 tahun, bergabung di BPPN, menjadi Direktur Keuangan PT. Merpati Nusantara Airlines, Direktur Compliance and Risk Management PT. Telkom Indonesia, Direktur Utama Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri). Saya tidak menuliskan CV-nya di tulisan ini karena bisa-bisa lebih dari satu halaman mengingat saking banyaknya pengalaman itu.

Seusai rapat pleno Majelis Wali Amanat (MWA) 51动漫 tanggal 29 Desember 2022 di gedung Mahkamah Agung Jakarta (kebetulan kami berdua anggota MWA UNAIR) saya berkesempatan makan siang satu meja dengan Cak Pras dan saya tanyakan bagaimana status Garuda sekarang, Beliau menjawab Alhamdullah, yang terpenting Garuda selamat dari status bangkrut.

Sebagai alumni UNAIR wa-bil khusus FEB, saya bersama UNAIR bangga memiliki sosok penting yang punya dedikasi tinggi demi bangsa ini seperti Prof (HC) Dr Drs Prasetio Ak CA SH MHum.

AKSES CEPAT