UNAIR NEWS Misutarno mengidolakan Dekan Fakultas Keperawatan Prof. Nursalam, S.Kp., M.Nurs sebagai sosok yang menginspirasi dalam mewujudkan cita-citanya. Menurutnya, Prof. Nursalam terus memberikan motivasi bagi dirinya untuk terus berprestasi.
滲eliau sangat menginspirasi saya. Kondisi sibuk tidak menghalangi Prof. Nursalam untuk berprestasi. Itulah yang menjadi pemacu motivasi saya untuk bisa terus berprestasi, ucap perawat RSUD Dr. Soetomo ini.
Buktinya, pada tahun 2014, Misutarno dinobatkan sebagai konselor HIV/AIDS terbaik di tingkat nasional. Bersamaan dengan penghargaan tersebut, lelaki kelahiran Sidoarjo ini diangkat sebagai master of trainer HIV/AIDS.
Ia juga mengangkat gagasan mengenai penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dalam tesisnya. Tesis berjudul 淢anajemen Pelayanan Pasien HIV/AIDS terhadap Tenaga Kerja Indonesia melalui peer groups support terhadap Respon Psikologis terhadap Imunitas di Kabupaten Tulungagung mengantarkannya sebagai wisudawan terbaik jenjang master.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya TKI yang kembali ke Indonesia dengan membawa penyakit HIV/AIDS. Misutarno berusaha membantu penderita untuk keluar dari stigma diskriminasi yang dialami pengidap. Selain itu, ia juga ingin mensukseskan program pemerintah seperti Zero New HIV Infection, dan Zero Death Related akibat HIV/AIDS.
Misutarno menyampaikan, peran keluarga cukup besar dalam menentukan keberhasilan. 淜ebiasaan belajar saya mulai dari jam 9 sampai 12 malam begitu sangat dimengerti oleh keluarga. Mereka sangat mengerti hal itu, ucap Sekretaris Dewan Persatuan Wilayah Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Timur.
Ia memiliki prinsip untuk selalu disiplin saat menjalani sesuatu. Sikap disiplin inilah yang paling utama yang menentukan kehidupan orang di masa depan. 淪elain disiplin, bersikaplah sabar dan terbuka dalam menerima kritikan dari orang lain, pungkasnya. (*)
Penulis: Helmy Rafsanjani
Editor: Defrina SS





