51动漫

51动漫 Official Website

Modal Psikologis dan Kepemimpinan Transformasional sebagai Determinan Organizational Citizenship Behavior

Organisasi dapat bertahan dan tumbuh di dunia saat ini jika mereka menggunakan sumber daya manusianya dengan sebaik-baiknya. Akibatnya, organisasi harus mengidentifikasi variabel yang menginspirasi karyawan untuk menjadi sukarelawan dalam aktivitas yang tidak terkait langsung dengan tugas mereka. Jika pekerja berhasil menjalankan tanggung jawabnya, pada akhirnya akan meningkatkan kualitas organisasi secara keseluruhan. Secara umum perilaku individu dalam suatu organisasi diarahkan untuk menunjang efektivitas dan efisiensi organisasi. Salah satu perilaku individu yang dinilai mampu mendukung hal tersebut adalah Organizational Citizenship Behavior (OCB). OCB adalah perilaku sukarela karyawan di samping tugas yang diberikan kepada mereka yang berkontribusi terhadap efektivitas organisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, OCB dapat menjadi perilaku yang bermanfaat bagi produktivitas organisasi

Keberhasilan suatu organisasi tidak lepas dari peran penting sumber daya manusia, begitu juga dengan lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Tantangan terbesar yang dihadapi lembaga pemasyarakatan saat ini adalah kepadatan yang berlebihan. Selain itu, lembaga pemasyarakatan di Indonesia umumnya memiliki jumlah pembimbing yang lebih sedikit dibandingkan narapidana, sehingga menghadapi tantangan besar dalam memberikan pelayanan terbaik bagi narapidana. Hal ini menunjukkan bagaimana konselor harus melakukan lebih dari sekedar deskripsi tugas mereka dan bagaimana perilaku sukarela dari konselor diperlukan untuk mengurangi beban yang harus ditanggung oleh lembaga pemasyarakatan. Hal ini dapat berupa membantu rekan kerja atau atasan di luar lingkup uraian tugas seseorang. Sebagai bagian dari kinerja individu, keberadaan OCB diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap operasional lembaga pemasyarakatan, yang dikaitkan dengan kinerja organisasi.

Sejumlah penelitian sebelumnya telah menunjukkan dukungan empiris yang kuat terhadap kontribusi faktor organisasi, individu, dan tenaga kerja terhadap OCB. Faktor-faktor tersebut termasuk modal psikologis, kepemimpinan transformasional, dan keterlibatan kerja. Peneliti lain mengungkapkan bahwa work engagement memediasi pengaruh modal psikologis terhadap OCB. Namun ketiga anteseden tersebut belum sepenuhnya diteliti dalam konteks institusi publik. Dengan demikian, bertujuan untuk menguji peran mediasi keterikatan kerja dalam mendukung kepemimpinan transformasional dan modal psikologis sebagai anteseden lembaga pemasyarakatan OCB. Penting untuk mengungkap mekanisme individu dan organisasi yang mendukung OCB dalam konteks institusi publik yang belum banyak mendapat perhatian dari penelitian sebelumnya.

Menurut penelitian yang dilakukan saat ini, perilaku ekstra-peran, seperti OCB, dapat dicapai melalui pengaruh modal psikologis, kepemimpinan transformasional, dan keterlibatan kerja. Konteks lembaga pemasyarakatan sebagai organisasi penyelenggara pelayanan publik yang jarang dikaji menambah orisinalitas penelitian ini. Modal psikologis dan kepemimpinan transformasional telah terbukti berdampak langsung pada keterlibatan kerja dan OCB. Kemudian work engagement juga dapat memediasi modal psikologis dan kepemimpinan transformasional terhadap OCB. Studi ini juga menunjukkan melalui analisis multikelompok bahwa pengaruh modal psikologis, kepemimpinan transformasional, dan keterlibatan kerja terhadap OCB untuk konselor pria dan wanita bervariasi secara statistik. Dalam mencapai OCB, konselor laki-laki lebih banyak dipengaruhi oleh work engagement, sedangkan konselor perempuan lebih banyak dipengaruhi oleh kepemimpinan transformasional. OCB merupakan tindakan yang memberikan kontribusi terhadap efektivitas organisasi secara keseluruhan. Penelitian ini membuktikan bahwa konselor dengan pengaruh positif dari modal psikologis, kepemimpinan transformasional, dan keterikatan kerja dapat mendukung keberhasilan OCB yang bermanfaat bagi produktivitas organisasi.

Pada peneliti masa depan dapat pertimbangkan untuk mengeksplorasi OCB dalam konteks institusi publik yang lebih luas. Pertama, masih terdapat berbagai anteseden dan konsekuensi OCB yang belum cukup diteliti dalam organisasi sektor publik. Kedua, perlu dilakukan kajian mengenai OCB di institusi publik lainnya, seperti kepolisian dan pemadam kebakaran untuk pengembangan model OCB secara kontekstual. Ketiga, penelitian selanjutnya perlu mengkaji model OCB dengan moderasi, seperti gender yang dalam penelitian ini hanya dijadikan dasar analisis multikelompok. Sedangkan untuk kajian mengenai OCB dapat dilakukan dengan landasan teori selain SET sehingga pemahaman mengenai OCB dalam konteks institusi publik menjadi lebih komprehensif, seperti menggunakan Trait Activation Theory untuk menyelidiki anteseden, dan Resource Drain Theory untuk menyelidiki dampak dari OCB. Selanjutnya, penelitian ini memiliki keterbatasan dalam penggunaan metode kuesioner yang dilaporkan sendiri dalam pengumpulan data. Penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan pengumpulan data diadik.

Informasi Penulis :

Nama: Anis Eliyana

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

(Do psychological capital and transformational leadership make differences in organizational citizenship behavior?)

AKSES CEPAT