Model Manajemen Self-Regulation untuk Menurunkan Tingkat Nyeri dan Kolesterol Total pada Pasien Penyakit Jantung
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan berkelanjutan. Karakteristiknya yang progresif dengan tingkat kekambuhan tinggi menjadikan pasien membutuhkan keterampilan khusus dalam mengelola kesehatannya secara mandiri. Sayangnya, sebagian besar pasien PJK kesulitan dalam melakukan self-management, terutama dalam mengenali tanda-tanda perburukan kondisi, mengontrol gaya hidup, serta memahami risiko dan pengobatan secara menyeluruh. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pendekatan yang dapat meningkatkan keterlibatan aktif pasien dalam perawatan, salah satunya melalui model manajemen self-regulation.
Studi ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji model manajemen self-regulation terhadap tiga aspek penting pada pasien PJK, yaitu tingkat nyeri, kadar kolesterol total, dan kekambuhan penyakit. Penelitian dilakukan dengan desain kuasi-eksperimental secara cross-sectional terhadap 195 pasien PJK yang dirawat di Ruang Kemuning RSUD Jombang. Pasien yang dipilih adalah mereka yang telah melewati fase akut, berusia 45“75 tahun, dan memiliki kesadaran mental baik. Data dikumpulkan melalui kuisioner dan daftar periksa terkait pemantauan diri, diagnosis mandiri, kekambuhan, tingkat nyeri, serta kadar kolesterol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien memiliki tingkat self-monitoring dan self-diagnosis yang rendah (masing-masing 73% dan 86%). Sebanyak 62% pasien mengalami kekambuhan, dan 76% memiliki kadar kolesterol total di atas batas normal (>200 mg/dL). Uji validitas dan signifikansi terhadap indikator-indikator self-regulation dilakukan menggunakan model Partial Least Square (PLS), dan ditemukan bahwa hanya tiga indikator yang memenuhi kriteria valid: self-monitoring, self-diagnosis, dan tingkat nyeri. Dua indikator lain, yaitu kekambuhan dan kadar kolesterol, tidak memberikan kontribusi signifikan dalam menggambarkan kemampuan self-regulation pasien.
Secara teoritis, self-monitoring mencerminkan kemampuan individu dalam mengamati dan mengevaluasi dirinya sendiri, terutama dalam mengenali gejala dan mematuhi pengobatan. Sementara itu, self-diagnosis menggambarkan sejauh mana pasien mampu mengenali kondisi kesehatannya berdasarkan pengalaman dan informasi yang dimiliki. Ketiga aspek yang valid ini diyakini memiliki pengaruh langsung terhadap keberhasilan pengelolaan penyakit secara mandiri. Ketika pasien mampu memantau kondisi tubuh dan mengenali gejala dengan baik, respons terhadap nyeri dapat lebih cepat dan efektif, sehingga potensi kekambuhan pun dapat ditekan.
Dengan demikian, penelitian ini merekomendasikan intervensi edukatif yang fokus pada peningkatan tiga aspek utama tersebut. Edukasi kepada pasien dan keluarga harus mencakup pelatihan pemantauan gejala, pengetahuan tentang tanda-tanda perburukan, manajemen nyeri, serta strategi gaya hidup sehat untuk mengendalikan faktor risiko seperti kolesterol. Diharapkan dengan penerapan model self-regulation yang tepat, pasien PJK dapat lebih mandiri, risiko kekambuhan menurun, dan kualitas hidup mereka meningkat secara signifikan.
Peneliti: Dr. Hariyono, M. Kep Dosen Sekolah Pascasarjana Unair
Artikel lengkap bisa di lihat di





