Angka kejadian bencana cenderung meningkat dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir. Kejadian ini merenggut nyawa cukup banyak dan membutuhkan proses identifikasi yang tepat. Identifikasi forensik menggunakan perbandingan data antemortem dan postmortem untuk menentukan identitas korban, termasuk tinggi badan yang dapat menggunakan metode pengukuran panjang tulang metacarpal yang kemudian digunakan dalam perkiraan tinggi badan semasa hidup. Indonesia belum memiliki formula resmi untuk perkiraan tinggi badan dari tulang metacarpal. Penelitian ini bertujuan menganalisa hubungan antara panjang tulang metacarpal I, II, III, IV dan V dengan tinggi badan serta menemukan rumus regresi khusus (formula) untuk memperkirakan tinggi badan dari panjang tulang metacarpal I,II,II,IV dan V.
Penelitian ini merupakan penelitian korelasional analitik cross-sectional Pengambilan sampel dilakukan di Sumatera Utara mulai bulan Maret sampai Mei 2024, melibatkan 138 subjek. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Cluster Random sampling. Variabel yang diteliti pada penelitian ini adalah tinggi badan, dan panjang metacarpal I sampai V. Data primer diperoleh melalui foto XRay (radiologi digital) telapak tangan kanan dan kiri, kemudian data diolah menggunakan software SPSS versi 26. Metode analisis statistik yang digunakan meliputi t-independen, korelasi Pearson, dan regresi linier. Plot pencar digunakan untuk mewakili korelasi antara dua variabel kuantitatif. Nilai p < 0,05 dianggap signifikan. Hasil: Penelitian dilakukan kepada 138 subjek didapatkan nilai signifikansi (Sig) untuk data tinggi badan (TB), panjang tulang metacarpal I-V kanan dan kiri bernilai lebih kecil dari 0,05 (Sig < 0,05) yakni 0,001 dengan interval koefisien (koefisien korelasi) tulang metacarpal dengan tinggi badan pada penelitian ini kisaran 0.438 “ 0,756 dengan tingkat hubungan sedang hingga kuat. Ditemukan 63 formula untuk memperkirakan tinggi badan dari panjang tulang metacarpal I, II, III, IV, dan V. Prediktor terbaik dalam penentuan tinggi pada perempuan adalah dengan lima variabel (M1R, M2R, M3R, M4R, M5R; r = 0,727; SEE = 4,10), dua variabel (M2R, M2L; r = 0,700; SEE = 4,18); dan satu variabel (M2R; r = 0,691; SEE = 4,20). Prediktor terbaik dalam penentuan tinggi pada laki “ laki adalah dengan lima variabel (M1R, M2R, M3R, M4R, M5R;r = 0,691;SEE = 4,53), satu variabel (M4R;r = 0,654; SEE = 4,57); dan dua variabel (M4R, M4L; r = 0,654; SEE = 4,62). Prediktor terbaik dalam penentuan tinggi tanpa memandang jenis kelamin adalah dengan lima variabel (M1R, M2R, M3R, M4R, M5R; r = 0,781; SEE = 5,17), dua variabel (M2R, M2F; r = 0,756; SEE = 5,36); dan satu variabel (M2R; r = 0,754 dan; SEE = 5,36).
Simpulan penelitian ini yakni semua variabel independen (metacarpal I, II, III, IV, dan V) memiliki hubungan dengan variabel dependen (tinggi badan) dengan tingkat korelasi sedang hingga kuat. Ditemukan formula untuk memperkirakan tinggi badan dari panjang tulang metacarpal I, II, III, IV, dan V sekaligus sebagai formula baru pada masyarakat Sumatera Utara.
Penulis: Prof. Dr. Ahmad Yudianto, dr., Sp.F(K)., M.Kes., SH.
Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
DOI:
Asan Petrus , Syafruddin Ilyas , Adang Bachtiar , Ahmad Yudianto, Height Prediction Using Metacarpal Lengths as measured on Radiography in Postmortem Identification, Forensic Imaging (2025).





