UNAIR NEWS – (ABA FK) 51动漫 menggelar kelas entrepreneur yang bertajuk Moneytalks. Kelas itu berlangsung pada Minggu (10/12/2023) di Graha BIK-IPTEKDOK, Kampus Dharmahusada-A.
Moneytalks menghadirkan 2 pembicara yang berpengalaman, yakni Muhammad Jawahirul Haikal selaku founder KamuKopi dan dr Akbar Ghaus selaku founder @physiquedoctor.id. Kegiatan itu membahas mengenai Urgency of Growing Entrepreneurial Mindset for Healthcare Workers.
Kolaborasi
Selaku pemateri pertama, Muhammad Jawahirul Haikal mengungkapkan bahwa saat ini dunia telah mengalami digital disruption. Hal itu, sambungnya, sebagai bentuk inovasi besar yang telah orang-orang lakukan di dunia. Hal itu, jelasnya, seperti Netflix yang merupakan rumah film terbesar tapi tidak memiliki bioskop.
淐ontoh lain, Facebook sebagai pemilik konten media hingga saat ini dia tidak menciptakan konten, lanjutnya.
Dengan demikian, ia memaparkan bahwa dalam menghadapi era revolusi industri, kita perlu melakukan kolaborasi. Ia berpendapat bahwa kita akan melihat banyak perspektif yang berbeda di dunia sehingga kolaborasi yang ada dapat menciptakan ide yang solutif terhadap masalah masalah yang ada di dunia.
3 Modal Membangun Bisnis
Pada akhir sesinya, Haikal turut membeberkan 3 modal yang perlu dipersiapkan dalam membangun bisnis. Modal pertama adalah passion. Baginya, passion adalah perasaan senang dalam melakukan sesuatu dan tidak merasa berat meskipun dilakukan terus menerus.
淢odal kedua merupakan vision. Dalam membuat bisnis, kita harus melihat peluang ke depan, bebernya.
Selanjutnya, modal terakhir adalah action. Haikal juga menegaskan bahwa 3 modal ini sama-sama penting sehingga semua akan berat jika salah satu modalnya tidak kita miliki.
Soft Skill Menjadi Entrepreneur
Menurut dr Akbar Ghaus, diperlukan soft skill untuk menjadi entrepreneur. Di antaranya, jelasnya, kecepatan untuk berani memulai adalah hal yang paling penting. Soft skill kedua adalah menambah nilai sebelum kita meminta imbalan.
淒engan menambah value pada bisnis kita, maka opportunity akan datang, paparnya.
Ketiga, harus bisa bernegosiasi. Keempat, meningkatkan kemampuan sosial dengan memperhatikan dan mengingat hal-hal kecil yang orang lain katakan. Dengan demikian, sambungnya, mereka akan merasa diperhatikan sehingga attachment-nya akan lebih baik.
淪elain itu, kita harus sering simulasi untuk improve dengan hal-hal di sekitar. Misalnya, memikirkan solusi untuk bisnis yang kita jumpai supaya bisa improve, terangnya.
Akbar pun menegaskan soft skill terakhir, yaitu untuk bertekad bukan termotivasi. Hal itu, jelasnya, karena motivasi sifatnya sementara dan pasti hilang. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus bertekad dalam membangun bisnis.
Penulis: Fath Tazkya Ernest Jamila
Editor: Nuri Hermawan





