Paparan lingkungan dan pekerjaan dapat menyebabkan kerusakan sitogenetik pada sel epitel bukal yang terkelupas, kerusakan ini dapat diamati menggunakan preparat sitologi berbasis cairan (LBC) dan pemeriksaan mikronukleus (MN). Marker penuaan (prediktor) di rongga mulut dapat dipelajari. Bahan penelitian seperti cairan mulut, cairan gingiva, air liur, sel bukal, plak gigi, dll. dapat diperoleh secara noninvasif. Sel epitel bukal adalah istilah untuk selaput lendir yang menjadi barrier di dalam rongga mulut. Sitologi eksfoliatif oral adalah teknik yang mudah, tidak menyakitkan, dan noninvasif yang menggunakan pemeriksaan mikroskopis sel yang diambil dari permukaan mukosa mulut.
Data tertentu menyarankan bahwa usia biologis dan gaya hidup dapat disimpulkan secara tidak langsung dari karakteristik morfologi inti sel bukal. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan morfologi sel epitel pipi pada kelompok perokok dan bukan perokok. Penelitian prospektif ini dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2023. Sampel usap pipi diambil dari masing-masing partisipan dengan persetujuan. Cotton bud yang bersih digunakan untuk membuat apusan dari lapisan dalam sel pipi pada 50 partisipan, yang terdiri dari 28 perokok dan 22 bukan perokok. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa indeks apoptosis pada kelompok perokok lebih tinggi daripada kelompok bukan perokok. Indeks sitogenetik menunjukkan 7 dan 1 antara perokok dan bukan perokok. Indeks proliferasi menunjukkan 57 dan 39. Indeks apoptosis menunjukkan 86 dan 49. Indeks akumulasi kelainan sitogenetik menunjukkan 4,63 dan 0,79. Indeks berulang menunjukkan angka 26 dan 19. Hasil ini menunjukkan bahwa kelainan kerusakan sel epitel bukal/sitogenetik pada kelompok perokok lebih tinggi dibandingkan kelompok bukan perokok.
Sel epitel bukal adalah istilah untuk selaput lendir yang membatasi struktur di dalam rongga mulut. Salah satu sumber bahan yang dapat diperoleh melalui teknik pengumpulan noninvasif adalah sel bukal. Sitologi eksfoliatif oral telah digunakan untuk mengidentifikasi perubahan di rongga mulut yang terkait dengan kanker. PCR dan uji genotipe lainnya dapat digunakan untuk menganalisis DNA dari sel bukal. Selama beberapa bulan, DNA yang diekstraksi dari sel bukal tetap stabil pada suhu ruangan. Banyak teknik telah digunakan untuk mendapatkan sel bukal untuk analisis DNA.
Variasi dalam aktivitas fungsional sel epitel bukal merupakan indikator yang baik untuk homeostasis tubuh. Oleh karena itu, para ilmuwan meneliti sel bukal untuk mendukung diagnosis penyakit. Uji telomer dapat digunakan untuk mengukur laju penuaan suatu organisme menggunakan sel bukal. Variasi dalam aktivitas fungsional sel epitel bukal merupakan indikator yang baik untuk homeostasis tubuh secara keseluruhan dan lokal, serta setiap kemunduran yang disebabkan oleh penuaan, baik pada individu yang sehat maupun pasien penyakit Alzheimer. Sel bukal terbukti menjadi bahan pengganti yang layak untuk pengujian telomer. Proses pengambilan yang non-invasif lebih mudah dilakukan serta tidak membutuhkan biaya yang banyak.
Peneliti mengeksplorasi berbagai tipe morfologi sel epitel pada kelompok perokok dan bukan perokok. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa sel basal merupakan tipe morfologi sel epitel yang paling sering ditemukan, baik pada perokok maupun bukan perokok. Pada kelompok perokok, sel basal ditemukan dalam jumlah 70,97%, sedangkan pada kelompok bukan perokok, ditemukan dalam jumlah 71,2%. Sel basal menempati persentase sel epitel tertinggi dalam penelitian ini, diikuti oleh sel berdiferensiasi, dan persentase terendah pada kelompok perokok adalah sel berinti tiga (0,08%), sedangkan pada kelompok bukan perokok adalah sel dengan kuncup (0,09%). Sel mikronuklei pada kelompok perokok (0,54%) memiliki persentase lebih tinggi daripada pada kelompok bukan perokok (0,09%). Sebanyak tujuh mikronuklei diidentifikasi pada empat perokok. Sedangkan pada kelompok bukan perokok terdapat 1 peserta yang memiliki sel epitel mikronuklei.
Hasil kami menunjukkan bahwa semua indeks, termasuk indeks sitogenetik, indeks proliferatif, indeks apoptosis, indeks akumulasi gangguan sitogenetik, dan indeks reparatif, lebih tinggi pada kelompok perokok daripada pada kelompok bukan perokok. Studi ini sejalan dengan laporan lain dan menunjukkan bahwa merokok berat memiliki korelasi positif dengan frekuensi mikronukleus. Hubungan antara frekuensi mikronukleus dan konsumsi rokok harian atau jumlah bungkus rokok per tahun kumulatif menunjukkan tren positif yang signifikan. Setiap faktor pengganggu yang diselidiki adalah negatif. Hal ini juga didukung oleh penelitian lain, yang menunjukkan bahwa perokok memiliki frekuensi rata-rata mikronukleus sel bukal yang secara signifikan lebih tinggi (1,50 卤 0,47%) daripada bukan perokok (0,55 卤 0,32%). Sel yang dikumpulkan dari perokok perempuan memiliki frekuensi mikronukleus yang lebih tinggi (1,54 卤 0,42%) dibandingkan dengan perokok laki-laki (1,31 卤 0,56%). Jenis kelamin dan usia tidak berpengaruh pada frekuensi mikronukleus pada bukan perokok.
Penulis: Budi Utomo, Shifa Fauziyah, Teguh Hari Sucipto
Artikel dapat diunduh pada link:





