Perkembangan teknologi mampu mengubah struktur pasar dari offline menjadi online. Perkembangan teknologi sensor yang dapat digunakan telah menjadi populer di kalangan peneliti. Pengenalan emosional dapat diterapkan dalam hiburan neuromarketing, game, komputer, kesehatan, psikologi dan pendidikan.
Neuromarketing adalah multidisiplin yang menggabungkan ilmu saraf, psikologi dan ilmu pemasaran. Neuromarketing mencakup pencitraan otak, pemindaian, atau teknologi pengukuran aktivitas otak untuk mengukur respons subjek terhadap produk, kemasan, iklan, atau elemen pemasaran tertentu. Neurosains konsumen adalah pendekatan baru dalam riset konsumen yang berkembang pesat. Tujuan neurosains konsumen adalah studi tentang mekanisme neuropsikologis yang mendukung dan membimbing konsumen dalam pengambilan keputusan dan perilaku.
Neuromarketing di beberapa perusahaan start-up telah menggunakan neuromarketing sebagai layanan utamanya. Beberapa perusahaan termasuk Brighthouse, sebuah perusahaan periklanan Amerika yang memperkenalkan neuromarketing pada tahun 2002. NeuroFocus adalah perusahaan neuromarketing Amerika yang diakuisisi oleh The Nielsen Company pada tahun 2008 menjadi Nielsen Consumer Neuroscience. Perusahaan Neurosense yang melakukan metode fMRI untuk penggunaan komersial telah mencatatkan beberapa merek terkenal yaitu BBC, Coca Cola, Ford, Heinz, Intel dan L’Bijih.
Beberapa metode untuk mengukur pengambilan keputusan dan perilaku konsumen antara lain seperti eye tracking, electroencephalography (EEG), functional magnetic resonance imaging (fMRI), ekspresi wajah dan magnetoencephalography (MEG). Kelebihan pengukuran aktivitas otak dan respons fisiologis dapat mengurangi waktu dan biaya eksperimen serta mampu menghubungkan aspek kognitif dan emosional dengan proses saraf.
Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah penelitian dilakukan oleh Asra Al Fauzi dan Lidya Ari Widyarini, (2023) dari 51动漫 – RSUD Dr. Soetomo Surabaya, penelitian yang telah diterbitkan dalam Malaysian Journal of Social Sciences and Humanities (Secholian Publication) ini bertujuan untuk memberikan tambahan referensi terkait urgensi neuromarketing dalam mengukur pengambilan keputusan dan perilaku konsumen.
Neuromarketing merupakan perpaduan antara neuro dan marketing yang menyiratkan penggabungan dua bidang studi yaitu neuroscience dan marketing. Metode ini bertujuan untuk memprediksi keefektifan kampanye iklan dengan mengukur respons menggunakan pencitraan otak tanpa menggunakan pernyataan konsumen.
Agen periklanan seperti Brighthouse, SalesBrain, dan Neurosense mulai memprediksi keefektifan penggunaan otak berdasarkan alat-alat seperti eye tracking, EEG, Galvanic Skin Response (GSR), dan ekspresi wajah. Berdasarkan metode ini, dapat diukur perhatian konsumen terhadap rak saat berbelanja, apa yang konsumen sukai, dan apa yang mereka takuti.
Pada penelitian ini, didapatkan bahwa neuromarketing adalah alat baru untuk riset pasar. Beberapa perusahaan seperti BBC, Coca Cola, Ford, Heinz, L’Oreal dan Yahoo telah menggunakan neuromarketing sebagai alat riset pasar mereka. Layanan perusahaan seperti NeuroFocus, Neurosense dan Brighthouse telah mengembangkan banyak teknik dengan penerapan ilmu saraf. Tekniknya adalah EEG, eye tracking, GSR, dan analisis kognitif. Oleh karena itu, neuromarketing memiliki potensi besar bagi pemasar di masa-masa yang akan datang.
Pada akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa neuromarketing bertujuan untuk memprediksi efektivitas kampanye iklan dengan mengukur respons menggunakan pencitraan otak. Ada banyak parameter untuk menganalisis perilaku konsumen, seperti kognitif, usia, jenis kelamin, tingkat sosial ekonomi dan kegembiraan dapat memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan konsumen. Neuromarketing dapat diukur dengan menggunakan pendekatan fMRI, eye tracking, EEG, ekspresi wajah, GSR dan lainnya. Semua pendekatan ini menjanjikan dan dapat membantu peneliti untuk mengidentifikasi perilaku konsumen.
Penulis: Dr. Asra Al Fauzi, dr., Sp.BS.
Link Jurnal:





