51动漫

51动漫 Official Website

Olah Raga, Menguntungkan atau Merugikan?

Foto by CNN Indonesia

Latihan fisik atau yang dikenal sebagai olahraga merupakan kegiatan yang sangat dianjurkan, olah raga akan membuat tubuh sehat, bugar dan fit yang selanjutnya akan meningkatkan produktivitas seseorang. Tubuh yang sehat mutlak diperlukan seseorang untuk dapat beraktivitas secara optimal, seseorang yang sakit tidak hanya menjadi tidak produktif tapi juga akan menjadi beban bagi orang lain disekitarnya. Kita dulu pernah mendengar jargon yang popular 渕emasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat, jargon itu sangat relevan mengingat pentingnya olah raga bagi Kesehatan. Olah raga tidak harus identik dengan sesuatu yang mahal, membutuhkan baju, sepatu atau peralatan khusus, olah raga tetap dapat dilakukan secara sederhana tapi tetap memberi manfaat Kesehatan.

Masyarakat saat ini sudah semakin sadar akan pentingnya berolah raga, hal itu dapat dilihat dari semakin menjamurnya orang bersepeda di jalan raya, fasilitas olah raga yang ada selalu ramai dikunjungi masyarakat, terutama pada hari libur. Olah raga harus dilakukan sesuai kebutuhan, anak-anak, remaja, dewasa dan lansia mempunyai porsi dan jenis Latihan yang berbeda. Olah raga yang dilakukan secara sembarangan dapat mengakibatkan cedera dan gangguan hormonal. Olah raga dimulai dengan proses pemanasan, inti dan pendinginan. Olah raga akan melatih kekuatan otot, paru, jantung dan organ yang lain untuk bermetabolisme dengan lebih baik.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2015), latihan fisik merupakan bentuk aktivitas fisik yang terencana, terstruktur, dan berkesinambungan dengan melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan bertujuan untuk meningkatkan kebugaran tubuh, terdiri dari latihan fisik ringan, sedang, dan berat. Data hasil Riskesdas tahun 2018 menyatakan bahwa proporsi aktivitas fisik kurang pada penduduk umur lebih dari sama dengan 10 tahun di Indonesia sebesar 33,5%. Hasil tersebut mengalami peningkatan dari hasil Riskesdas tahun 2013 sebesar 26,1%. Jumlah wanita yang melakukan olahraga berat juga semakin meningkat. Jumlah wanita yang melakukan olahraga berat juga semakin meningkat. Walaupun olahraga banyak mendatangkan maanfaat bagi tubuh. Jika dilakukan secara berlebihan dapat menimbulkan efek yang buruk bagi kesehatan. Wanita yang melakukan olahraga kompetitif memiliki rIsiko yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan makan, iregularitas siklus menstruasi dan osteoporosis, yang dikenal sebagai female athlete triad.

Ketidakteraturan siklus menstruasi terjadi pada atlet remaja dan  atlet dewasa. Prevalensi kejadian oligomenorrhea (gangguan menstruasi yang paling ekstrim di antara para atlet) bergantung pada beberapa faktor, antara lain sifat latihan fisik, intensitas latihan fisik, dan pola nutrisi para atlet. Angka kejadian yang lebih tinggi terjadi pada latihan ketahanan (seperti lari, bersepeda, dan renang), gimnastik, dan penari balet, dan angka kejadian meningkat seiring dengan meningkatnya intensitas latihan dan menurunnya status nutrisi atlet. Ketidakteraturan siklus menstruasi merupakan gejala utama dari anovulasi (keadaan dimana tidak ada sel telur yang matang pada setiap siklusnya). Penyebab paling penting dari ketidakteraturan siklus menstruasi adalah amenorrhea hipotalamus fungsional yang terkait dengan penurunan sekresi hormon gonadotropin (GnRH) yang diatur oleh mekanisme sumbu hipotalamus-pituitari-ovarium (HPO). Hormon yang diperlukan untuk terjadinya ovulasi dan menstruasi selain gonadotropin adalah FSH (Follicle Stimulating Hormone), LH (Leutenizing Hormone) dan esterogen. Gangguan pada salah satu hormone ini akan mengganggu ovulasi dan menstruasi yang dalam waktu Panjang akan mengakibatkan ketidaksuburan.

Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa olah raga dengan intensitas ringan, sedang dan berat tidak mempengaruhi hormon FSH, akan tetapi penelitian-penelitian yang ada menunjukkan adanya pengaruh latihan fisik berat terhadap penurunan hormon-hormon reproduksi. Pada atlet dapat terjadi pemakaian energi yang berlebihan akibat porsi latihan fisik yang berat sedangkan asupan nutrisi tidak mencukupi. Hal ini akan menekan sekresi FSH dan LH dan biasanya penekanan LH lebih besar daripada penekanan FSH. Dalam konteks latihan fisik, kadar kortisol meningkat dan menghambat sekresi GnRH oleh hipotalamus. Penekanan pulsasi sekresi GnRH oleh hipotalamus menghasilkan penghambatan pada sekresi LH, sedangkan FSH tidak terpengaruh. Hal inilah yang menyebabkan pada penelitian ini tidak ada perbedaan yang berarti kadar FSH serum pada kelompok kontrol, kelompok intensitas sedang, dan kelompok intensitas berat. Gangguan hormonal dapat terjadi ketika cadangan energi di bawah 30 kkal/kg dari massa bebas lemak. Cadangan energi yang rendah dan kekurangan energi kronis menyebabkan gangguan pada HPO aksis. Hal ini disebut sebagai faktor utama dan penting pada hipoestrogenism yang terjadi pada atlet perempuan yang menjalani latihan fisik tertentu seperti tari balet, lari jarak jauh, senam dan skating.

Penelitian ini memberi kita informasi penting bahwa tidak selamanya olah raga yang dilakukan memberikan efek yang selalu baik bagi tubuh. Pemilihan jenis , intensitas dan frekuensi olah raga perlu dilakukan dengan tepat agar tidak hanya membuat tubuh lebih segar dan prima tetapi juga tidak sampai mengganggu fungsi tubuh yang lain. Lebih baik jika sebelum olah raga berkonsultasi dengan ahlinya olah raga apa yang tepat bagi seseorang.

Penulis : Zakiyatul Faizah, dr., Mkes

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada

Intensitas Latihan Fisik Ringan-Berat Kurang Memengaruhi Kadar Follicle Stimulating Hormone Serum Mencit Betina

 (LOW-SEVERE INTENSITY OF PHYSICAL EXERCISE NOT AFFECT SERUM FOLLICLE STIMULATING HORMONE LEVELS IN FEMALE MICE)

Anggis Putri Wijayanti, Lilik Herawati , Endyka Erye Frety , Zakiyatul Faizah

AKSES CEPAT