51动漫

51动漫 Official Website

Olahraga Interval Intensitas Tinggi Satu Kali Tidak Mengubah Kadar GLP-1 pada Wanita Overweight yang Kurang Gerak

Masalah kelebihan berat badan atau kegemukan menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat global. Kondisi kelebihan berat badan merupakan salah satu penyebab meningkatnya risiko penyakit degeneratif seperti hipertensi, hiperlipidemia, diabetes tipe 2, penyakit jantung koroner, dan masalah kesehatan lainnya. Selain itu kelebihan berat badan diketahui memiliki efek terhadap penurunan respon glucagon-like peptide-1 (GLP-1).

GLP-1 adalah salah satu anggota dari kelompok hormon incretin yang berperan menurunkan kadar glukosa darang yang sedang meningkat, baik secara langsung atau pun tidak langsung. Peran GLP-1 dikaitkan dengan peningkatan fungsi sel 尾 untuk stimulasi insulin. Selain itu GLP-1 memiliki peran dalam meningkatkan sensitivitas insulin, memperlambat pengosongan pencernaan sehingga kenyang lebih lama sehingga eberapa tahun terakhir GLP-1 menjadi salah satu hormon yang banyak diteliti terkait dengan tatalaksana pengobatan diabetes dan mengatasi masalah obesitas.

Kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya masalah kelebihan berat badan sehingga terjadi penurunan fungsi fisiologis tubuh dan menurunnya respon GLP-1. GLP-1 ini adalah salah satu hormon yang turut dalam regulasi kadar glukosa darah secara tidak langsung. Aktivitas fisik diketahui meningkatkan respon tubuh dengan menstimulasi pengeluaran hormon peptida yang diproduksi oleh organ pencernaan, salah satunya yaitu GLP-1. Penelitian yang menganalisis efek olahraga interval intensitas tinggi (HIIE) yang dilakukan satu kali terhadap kadar GLP-1 telah dilakukan.

Penelitian tersebut melibatkan subjek wanita dewasa muda dengan indeks massa tubuh overweight (23 -24,9 kg/m2)dengan kebiasaan sedenter (<150 menit aktivitas fisik sedang atau <60 menit aktivitas fisik berat per minggu). Subjek dibagi ke dalam 2 kelompok, kelompok 1 tanpa perlakuan/ kontrol, sedangkan kelompok 2 melakukan HIIE. Kelompok yang melakukan HIIE menggunakan ergocycle selama 60 detik pada intensitas tinggi (80-90% HRmax) dan diselingi istirahat aktif pada intensitas sedang, diulang 10 kali, sehingga total durasi latihan dilakukan selama 20 menit. Pengambilan darah untuk analisis kadar GLP-1 dilakukan 60 menit setelah latihan selesei.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya penurunan kadar GLP-1 puasa lebih besar pada kelompok yang melakukan HIIE dibanding kelompok kontrol. Diketahui ketika olahraga, saraf simpatis lebih dominan bekerja, akan menghambat sel beta pancreas sebagai penghasil hormon insulin, akibatnya sekresi insulin menurun. Ketika olahraga kadar insulin menurun, sehingga sekresi GLP-1 terjadi penekanan atau penurunan. Selain itu, sekresi GLP-1 diketahui selain dipengaruhi oleh aktivitas fisik juga dipengaruhi oleh faktor lain, salah satunya adalah nutrisi.

Pada penelitian ini, semua subjek kondisi belum ada asurpan nutrisi (serupa dengan puasa, namun tetap boleh minum air putih). Ketika melakukan latihan atau HIIE dalam kondisi puasa, kadar GLP-1 berada pada kadar minimum dan berpotensi meningkat secara bermakna ketika terdapat asupan nutrisi. Oleh karena itu, HIIE yang dilakukan satu kali ini dan tanpa ada asurpan nutrisi, didapatkan penurunan kadar GLP-1 sekitar 12% atau selisih sekitar 2% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak melakukan HIIE.

Oleh karena itu, HIIE satu kali saja, tanpa ada dukungan nutrisi tidak terlalu mempengaruhi mempengaruhi perubahan kadar GLP-1. Diperlukan pula olahraga jangka panjang apabila menginginkan peningkatan GLP-1 yang bisa membantu regulasi gula darah, karena diketahui peningkatan GLP-1 puasa yang bermakna jika olahraga dilakukan selama 12 minggu.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa wanita dengan kelebihan berat badan yang tidak banyak bergerak yang melakukan olahraga HIIE satu kali saja dalam kondisi tidak ada asurpan nutrisi, tidak berpengaruh banyak pada perubahan kadar GLP-1. Oleh karena itu, mengingat peran GLP-1 penting dalam merangsang sekresi insulin untuk menormalkan kadar glukosa darah yang tinggi dan subjek overweight yang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit diabetes atau tingginya kadar gula darah, upaya dalam merangsang sekresi GLP-1 adalah olahraga perlu dilakukan berkelanjutan dan mempertimbangkan konsumsi asupan nutrisi sebelum dan sesudah latihan sesuai kebutuhan.

Penulis: Ulul Azmy, M.Kes; Dr. Lilik Herawati, dr., M.Kes.

Informasi detail bisa didapatkan pada hasil riset kami di link:

Azmy, U., Karimullah, A., Devi, A.I., Ilmi, S.B.Z., Yosnengsih, Yuliawati, T.H., Irwadi, I., Mohamed, M.N.A., Herawati, L. 2023. Acute High-intensity Intermittent Exercise Reduces Fasting Glucagon-like Peptide-1 (GLP-1) Levels in Overweight Sedentary Women. Journal of Physical Education and Sport 23 (11), 2925-2930.

AKSES CEPAT